Waktu Baca: 3 menit

Hari hari ini orang makin mudah mengupload dan tanpa sadar memamerkan pencapaian / harta benda mereka ke orang lain di media sosial. Walau tujuan orang itu mengupload sesuatu di medsos hanya untuk senang – senang, orang yang melihat postingan itu menangkap hal lain. Mereka bisa jadi marah dan salah paham. Bahkan kejiwaannya bisa terganggu. Hah kok bisaaaaa? Ya bisaa…Karena orang yang melihat postingan postingan keren itu jadi terkena sindrom self comparison. Ini berbahaya, sudah menjadi hal penting bahwa self comparison harus dihindari.

Nah apa itu self comparison sebenarnya?

Self Comparison Yang Diam Diam Berbahaya

Zein Permana, Dosen, Peneliti sekaligus pembicara dalam webinar rumah konseling Aku Temanmu memaparkan beberapa fakta yang bikin tercengang pada webinarnya Minggu lalu. Ternyata kita manusia, punya sifat alami untuk membandingkan diri kita dengan orang lain. Inilah wujud self comparison yang harus dihindari.

Jadi dasarnya kita ini dari nenek moyang suka membanding bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita juga akan membandingkan diri kita dengan orang yang kemampuannya selevel dengan kita. Contohnya waktu kita sekolah, kita akan membandingkan nilai kita dengan teman sekelas yang pinternya mirip mirip kita. Kita gak akan tanya nilai ke teman yang terlampau pintar atau terlampau dibawah kita. Karena membanding bandingkan adalah hal ilmiah, jadi sekuat apapun kita berusaha menghindar, ya kita pasti pernah atau akan melakukan hal itu.

Jebakan Membandingkan Diri

Tapi tak jarang kita terjebak dalam membandingkan diri secara delusi. Zein menjelaskan kalau kita sering melakukan kesalahan dalam membandingkan diri kita. Kesalahan pertama adalah, kita membandingkan diri kita dengan orang yang terlalu tinggi levelnya. Contohnya kita membandingkan diri kita dengan artis idola kita. “wah aku tu persis banget sama artis A, B, C, dia sama kaya aku suka makanan A, B, C dll.”

Hei bangun, tidurmu terlalu mepet kasur, jangan kepinggiren nanti jatuh. Hal ini makin parah dengan medsos yang membuat bayangan maya, seakan kita sama dengan orang – oramg yang kita idolakan. Kesalahan kedua adalah, membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain. Contohnya “kenapa dia bisa keren, cantik, ganteng kaya gitu ya?” dan kita membandingkannya dengan kekurangan kita, itu ga adil, ga apple to apple. Zein menegaskan, “Tetap ingat, orang itu berbeda, nggak ada yang sama”.

Dalam hal inilah self comparison harus dihindari.

Jangan Terlena Meski Self Comparisson Ilmiah

Self Comparisson Harus Dihindari

Meski self comparisson adalah hal ilmiah, kita harusnya tidak membandingkan diri dengan orang lain. Kita harus segera menyadari bahwa kita harusnya membandingkan diri kita sekarang dengan diri kita yang kemarin, bukan membandingkan dengan orang lain. Mulailah sadar bandingkan diri kita sekarang dengan diri kita yang lalu. Itu jauh lebih fair. Kalau  kita merasa tidak ada perkembangan, jangan sesali tapi ayo segera bergerak untuk merubah diri kedepan.

Mengobati Self Comparison dengan Self Reward

 

Kadang kita harus menghargai diri kita. Kita bisa berhenti melakukan self comparison dan menjadi lebih menghargai kita dengan memberi reward berupa self reward. Namun jangan juga terlalu banyak memberikan self reward pada diri sendiri.

Zein Permana  menyampaikan “ kita self reward boleh, tapi jangan sampai memanjakan diri kita sendiri”. Maksudnya gemana sih mas Zein? Maksud dari mas Zein itu gini guys. Kita boleh kok setelah kerja ini itu, terus kita self reward dengan ke café, tapiiiii bukan untuk sekedar nongkrong, tapi untuk diskusi atau bahkan bikin ide gerakan dari diskusi di café itu. jadi kita tetap bisa menikmati hasil kerja kita dengan beli makanan dan minuman di sana, tapi tetap kita juga diskusi dengan teman kita, nah diskusi ini yang membuat kita tetap berkembang. Siapa yang ga mau self reward sekaligus berkembang, mantep ga tuhhhhh

 

Self reward ala mas Zein

Ciri mencintai itu adalah growth dan development, menjadi lebih baik dan berkembang. Bertanyalah pada diri sendiri, apakah yang kita lakukan dalam rangka mencintai diri kita itu membawa perkembangan baik kedepan untuk diri kita? Atau hanya memanjakan diri kita aja?

Oh ya mas Zein juga menambah catatan, rumus cinta ini juga bisa dipakai dalam hal berhubungan dengan pasangan kita lho. Bertanyalah pada diri kita, apakah dalam hubungan yang saling mencintai ini, membawa perkembangan kedepan untuk kita masing – masing, atau hanya memanjakan kita??. Hayooooo gemana ni buat yang sedang mengelak dengan kata – kata self reward kalau ditanya teman – teman? Jangan jangan kamu hanya memanjakan diri….

Langkah awal menuju kesuksesan diri

Yang jelas, berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu penting. Yang terjadi justru kita harus belajar dan berkembang. Kalau kadang merasa tidak nyaman, ingatlah bahwa tidak ada ‘kenyamanan dalam zona bertumbuh dan tidak ada pertumbuhan dalam kenyamanan.’ Jika kita bisa terus berkembang, kita akan terhindar dari efek negatif self comparison dan justru kita akan menemukan compasion kita. Asyk kan?

Baca juga :
Fomo Menyiksa, Saatnya Belajar Menghindari 

Kisah Viktor E. Frankl : Menemukan Makna Hidup Dalam Kesedihan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini