Waktu Baca: 3 menit

Akhirnyaa setelah 19 tahun…. piala Thomas Cup kembali ke Indonesiaaaa. Indonesia Raya…………. Tapi…… ternyata banyak hal menarik dibalik Thomas Cup kali ini guys……. Tak bocorin dikit ya, walau Indonesia juara Thomas Cup. Bendera Indonesia tidak berkibar….. lhooo e lhooo e kenapa?

Absennya Indonesia selama hampir 20 tahun

Dalam ajang bulutangkis beregu tertua ini, ternyata terakhir kali Indonesia juara Thomas Cup itu tahun 2002 lhooo. Butuh waktu 19 tahun tepatnya untuk membawa pulang piala Thomas ke Indonesia. Thomas Cup tahun 2020, juga mengakhiri merosotnya prestasi Indonesia dalam ajang ini. Ya, Indonesia terakhir kali mencicipi babak final Thomas Cup di tahun 2016. Thomas Cup 2020 seperti pecah telurrrr, setelah ajang ini harus ditunda di tahun 2020 dan baru bisa digelar tahun 2021 ini, karena pandemi Covid 19.

Bendera Indonesia tidak berkibar walau menang

Thomas Cup kembali ke Indonesia

Kalau ada kata yang lebih menggambarkan “gemes dan greget”, cocok dilontarkan kepada Menpora dalam kasus ini. Kenapa? Karena Indonesia kena sanksi dari WADA ( World Anti-Doping Agency). Menurut WADA, Indonesia tidak memenuhi syarat dan prosedur antidoping. Sanksi selama masa pengangguhan, Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah kejuaran, regional, kontinental, dan Internasional.

Ternyata sanksi untuk indonesia ga hanya itu aja…. Sanksi lain, bendera Indonesia tidak akan dikibarkan pada kejuaran regional, kontinental, dan Internasional, kecuali di ajang Olimpiade dan Paralimpiade. Walau Indonesia mendapat sanksi ini, para atlet masih boleh mengikuti kompetisi, tapi gak bisa mengibarkan bendera kebangsaan mereka, sedih banget kannnn.

Pihak Menpora sebenernya udah menjelaskan ke media, bahwa hal ini sebenarnya hanya sebuah miskom. Penjelasan lebih lanjut dari mereka, karena Covid 19 semua acara keolahragaan tidak digelar, makanya Indonesia tidak mencapai target tes doping yang wajib terpenuhi. Hmm covid lagi covid lagi.

Tapi kan kalau sudah kaya begini, seluruh rakyat Indonesia jadi sedih, ketika Indonesia menang Thomas Cup, eh yang dikibarin malah bendera PBSI. Para atlet yang berlaga sedikit banyak pasti mentalnya down, karena kasus ini.

Thomas Cup 2020 yang mendebarkan

Kembali ke tahun 2002, Saat itu kemenangan Indonesia di Thomas Cup ada di tangan Hendrawan sebagai tunggal putra. Ketika awalnya dua jagoan tunggal putra Indonesia, Marlev Mainaky dan Taufik Hidayat harus takluk dari lawannya masing-masing. Setelah itu ganda putra Chandra Wijaya/Sigit Budiarto dan Halim Haryanto/Tri Kusharyanto berhasil meraih angka. Hendrawan di partai terakhir berhasil keluar dari tekanan dan mengalahkan Roslin Hashim sekaligus memastikan piala Thomas jatuh ke tangan Indonesia. Hmmmm Indonesia menang berkat partai terakhir, greget banget ga tuh…

 

Thomas Cup tahun 2020 tidak kalah mendebarkan. Harap – harap cemas, seluruh rakyat Indonesia sudah mulai terasa sejak sebelum babak final. Seakan teringat dengan 20 tahun terakhir saat prestasi Indonesia merosot di ajang Thomas Cup, bayang – bayang itu masing mengikuti ketika Indonesia masuk ke babak final, takut Indonesia tidak bisa meraih Thomas Cup lagi. Babak pertama sukses terebut berkat Ginting bagi Indonesia.

Pada babak ke 2 Indonesia juga mendapat skor karena ganda Fajar dan Rian. Kemenangan Indonesia hampir sulit terealisasi ketika pada babak ketiga, Jonatan Chirstie atau yang akrab disapa Jojo harus berlaga sampai tiga ronde. Walau Indonesia sudah menang di dia babak sebelumnya, situasi bakal sulit jika Jojo kalah. Jika saat itu Jojo kalah, Indonesia harus lanjut di babak keempat yang tricky. Makin panjang perjalanan kemenangan Indonesia.

Syukurnya Jojo dapat menang dari Li Shi feng dengan skor akhir 21 – 14. Seketika seluruh atlet dan official tim Indonesia berlari ke arah lapangan, mereka loncat kegirangan sambil berpelukan dan berputar, kebahagiaan mereka dapat tergambar dan terasa oleh seluruh rakyat Indonesia yang melihat di negara tercinta. Akhirnya penantian 19 tahun dapat terpuaskan.

 

Alasan Indonesia menang

Kalau boleh aku simpulkan, sebenarnya ada 2 alasan. Alasan pertama menurut ku, karena China tidak menurunkan squad terbaik mereka. China tidak membawa Chen Long sebagai tunggal putra, dan Li Junhui / Liu Yuchen sebagai ganda putra. Dengan begitau, ada dua babak yang membuat China lemah, walaupun China sebagai negara no dua yang paling banyak meraih Thomas Cup. Dengan kelemahan ini, pasti tim Indonesia makin PD menjalani babak final Thomas Cup.

Alasan kedua kenapa Indonesia bisa menang di Thomas Cup menurutku, karena kita sebagai bangsa, dan para atlet yang berlaga, merasa gemas dan ingin balas dendam. Lha kok balas dendam? Bagaimana tidak, perwakilan badminton putra kita kalah di Olimpiade Tokyo 2020, itu yang pertama. All England kita menghadapi drama yang ga kalah dari drama Korea dan India yang menguras emosi, kita terdepak dari All England 2021 karena salah satu penumpang yang sepesawat dengan atlet Indonesia ada yang positif Covid 19.

Padahal  atlet negara lain yang sepesawat dan ada yang pernah kena Covid, tetap boleh berlaga tuh…. Alasan balas dendam yang ketiga yaitu, kita kalah di Sudirman Cup 2021, yang mana kejuaran ini berasal / pencetusnya dari Indonesia sendiri….. nyesek ga tuuu. Makanya para atlet terpacu untuk balas dendam dan akhirnya berbuah manissss dengan kemenangan kita di Thomas Cup 2021. Hidup Indonesiaaaaa.

 

Yuk selalu dukung atlet Indonesia di kejuaraan lainnya……

Baca juga :
UNO menjadi olahraga olimpiade, Gimana Nasib Atletnya?

Bonus Unik Greysia Polii dan Apriyani Rahayu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini