Waktu Baca: 3 menit

Membicarakan film Year of the Dragon adalah sebuah pengalaman menyakitkan bagi beberapa orang. Ketika film yang diangkat dari novel ini rilis pada tahun 1985, banyak orang keturunan Tionghoa tersinggung dengan film ini. Yap, film ini menggambarkan komunitas Tionghoa sebagai komunitas penuh masalah, korup dan berbahaya. Padahal Chinatown cenderung relatif aman jika kita bandingkan dengan tempat berkumpul komunitas migran lainnya seperti Latino atau Black American. Namun ya begitulah Hollywood. Beberapa kata kata rasis terhadap orang Tionghoa juga terucap di film ini. Salah satu yang terkenal adalah ‘Yellow-Niger’. Namun apakah film itu seburuk yang digambarkan? Berikut adalah Ulasan Year of the Dragon yang kami persembahkan sebagai bagian dari peringatan pembantaian Tionghoa Los Angeles.

Inisiatif Awal

Pra produksi dari Year of the Dragon cukup seru. Seru karena banyak masalah, bukan karena film ini menjadi harapan banyak orang. Awalnya hak novel dari Year of the Dragon karya Robert Daley ini sudah menjadi milik produser Dino De Laurentiis. Namun produser asal Italia ini kesulitan menemukan sutradara. Setelah pencarian panjang, ia memutuskan untuk mempekerjakan sutradara Michael Cimino.

Michael Cimino saat itu adalah sutradara dengan reputasi yang agak membingungkan. Di satu sisi pria ini meraih Oscar lewat film pertamanya The Deer Hunter pada 1978. Kesuksesannya yang luar biasa menuntunnya mendapatkan hak total dalam menggarap film Heaven’s Gate. Yang terjadi adalah kegagalan luar biasa. Bahkan kegagalan film ini disebut sebut menjadi tonggak kembalinya sistem lama production house yang menekankan pada studio control alih alih otoritas sutradara. Jadi, penunjukkan Michael Cimino ini sangat ‘berbahaya’.

Nah, Michael Cimino ternyata tidak yakin ia bisa menyelesaikan film ini tepat pada waktunya. Karena itulah Dino memutuskan untuk melibatkan filmmaker potensial bernama Oliver Stone. Iyaa, Oliver yang itu! Oliver dan Cimino lalu menulis dengan terburu buru. Bahkan sebelum naskahnya selesai mereka sudah mengcasting dua pemeran utama yaitu Mickey Rourke sebelum operasi plastik dan artis keturunan Jepang, Ariane Koizumi. Ya, ini film berkebudayaan Tionghoa namun Dino memilih artis Jepang. Sungguh usaha yang baik untuk mencegah tensi rasisme di Hollywood waktu itu (sarkasme mode on).

Tentang Filmnya

Saat itu film ini menjadi perbincangan dan mendapat kritik di sana sini atas penggambaran komunitas Tionghoa yang sangat negatif. Bagaimana dengan saya? Saya merasa tidak ada yang salah dengan film ini sebagai hiburan. Dan menurut saya tidak ada maksud dari film ini untuk memojokkan kaum Tionghoa meskipun tokoh utama yang diperankan abang Rourke ini agak tendensius memang dengan keturunan Tionghoa. Tapi saya rasa ia tidak rasis, ia cuma seorang polisi yang agak cocky saja. Namun, siapa tahu realitas tahun ‘80an? Iya kan? Mungkin saat itu film sangat menonjol digunakan sebagai alat propaganda. Hal ini menimbulkan kekesalan bagi warga Tionghoa.

Soal akting, banyak yang menyebut Ariane dianggap cukup wooden. Ya di satu sisi ia adalah seorang model yang pengetahuan aktingnya mungkin tidak sekaya yang banyak orang harapkan. Namun menurut saya ia bisa mengisi perannya dengan cukup baik. Not that bad.

John Lone? Ah tidak usah kita bertanya. Saat itu siapa lagi sih yang bisa memerankan karakter pria Tionghoa Amerika kalau bukan John Lone? Mungkin saat itu tidak ada lagi yang terpikirkan kalau ingin mencari pria keturunan Tionghoa untuk memerankan film film kelas berat Hollywood. Lone sendiri memang secara alami juga memiliki kemampuan akting yang baik.

Bagi saya satu satunya kelemahan film ini adalah Dino yang mengerjakan film ini dengan mindset bahwa semua mafia itu sama. Mafia Italia dan Tiongkok saya kira tidak sama dan realitas maupun motivasi mereka bergabung dengan grup kriminal juga berdasar pada pemikiran yang berbeda beda. Hal ini mungkin menjadi kelemahan Year of the Dragon.

Warisan

Film ini meraih prestasi mencengangkan dalam Razzie Award alias penghargaan film film terburuk. Namun, berlalunya waktu membuktikan banyak orang menyukai film ini dan Kembali untuk menyaksikannya lagi dan lagi. Film ini kini dianggap sebagai salah satu cult classic dan dianggap sebagai salah satu film yang mewakili budaya Tiongkok jauh sebelum film seperti Crazy Rich Asian dan Shang Chi membuat gebrakan. Inilah ulasan mengenai Year of the Dragon. Saat ini film Year of the Dragon dapat anda saksikan di berbagai platform

Baca juga :
Sama sama Tionghoa, Tapi Sin Gek Memberi Banyak Inspirasi

Bidadari Mencari Sayap Malah Mempertajam Perbedaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini