Waktu Baca: 2 menit

“Kamu masih millennial dong ?”, “Nurut aja sama yang udah berpengalaman”, “Ini hasil buah pikiranmu sendiri ?”, “Jangan deh, dia mah kasian udah tua”.
Pernah denger kalimat itu ? Mungkin sekilas kedengarannya hanya kalimat biasa yang memang wajar untuk dikatakan kepada kaum muda atau kaum lanjut usia. Tapi itu menunjukkan bahwa ada yang salah dengan kultur kita. Saya sebagai seorang mahasiswi baru yang berumur 18 tahun, saya merasa menjadi korban ageisme, alias diskriminasi umur. Kerap kali saya  mendapat citra sebagai seorang anak muda yang tidak layak untuk memiliki pemikiran atau menentukan keputusan sendiri (dari sudut pandang orangtua). Begitu juga dengan kaum lanjut usia di sekitar saya yang mendapat label ‘kolot’, ‘naif’, dan ‘lemah’. Kedua stereotipe tersebut seakan – akan memposisikan kaum milenial dan lanjut usia di paling bawah, sehingga terjadi ketidakadilan (atau dengan istilah ageisme) untuk kedua kaum tersebut. Apa sih ageisme itu ? Mari kita bahas lebih dalam lagi.

Apa Itu Ageisme ?

Ageisme merupakan suatu prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang semata – mata berdasarkan umur saja. Ageisme sering terjadi pada anak muda dan lanjut usia. Diskriminasi ini sering terjadi karena sudah melekatnya kebiasaan seseorang dalam cara pandangnya terhadap kedua kaum tersebut. Anak muda atau milenial sering digambarkan sebagai individu yang tahunya hanya bermain sosmed, tidak pernah baca buku, travelling, mau yang serba instant dan lain sebagainya. Dengan pelabelan seperti ini membuat anak muda terkesan sulit untuk memiliki pemikiran yang cemerlang. Sekalipun ada, pasti terlontar pertanyaan “Ini murni buah pikiranmu sendiri?“. Maunya apa sih?

Dikotomi Millenial dan Lansia 

Saat ini media merupakan salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan cara pandang baru terhadap milenial dan lansia. Sayangnya, keberadaan media saat ini justru yang membuat stereotipe ini semakin melekat. Misalnya saja dalam wawancara di salah satu stasiun TV. Dalam wawancara tersebut narasumbernya merupakan seorang anak muda atau milenial. Mungkin sekilas tidak ada yang salah dengan pertanyaannya, tetapi terlihat dari gesture si pewawancara dalam menanyakan narasumber. Nada bicara yang dipakai pun terkesan menggurui dan menganggap remeh bahwa anak milenial dianggap mustahil bisa melakukan hal seperti itu.

Baca juga : Apakah Kita Mengalami Toxic Relationship?

Penggambaran media terhadap lansia juga sangat sedikit. Mungkin karena masyarakat kita baru dapat bonus demografi, ketika jumlah orang muda di Indonesia sangat melimpah. Tetapi sorotan media atas lansia, lebih viral ketika mengulas kelakuan lansia penuh kontroversi. Apabila ada lansia yang memiliki semangat hidup atau sedikit perubahan baik dari lansia biasanya, maka akan dianggap aneh. Dengan hal ini, seakan – akan lansia dan milenial memiliki batasan untuk menentukan dan menciptakan makna kehidupannya.

Hilangkan Diskriminasi Umur !

Saya sebagai anak milenial yang masih sering mendapat label seperti itu hanya bisa mengabaikannya saja. Bukan berarti saya tidak peduli terhadap nasihat atau saran, melainkan saya juga ingin melakukan hal – hal yang mungkin mustahil untuk  anak seusia saya. Bagaimanapun juga, saya tidak sepakat dengan ageisme alias diskriminasi umur. Tidak lupa juga untuk lansia, bahwasanya bertambah usia bukan berarti semakin lemah. Terkadang mereka hanya ingin memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dulunya belum bisa tercapai.

Semoga dengan tulisan ini bisa sedikit membantu kita dalam memandang seseorang. Bukan hanya dari umurnya saja, tetapi menghargai setiap keputusan dan pemikiran yang ia milikinya. Toh setiap orang berhak menciptakan makna kehidupannya sendiri, BERAPAPUN USIANYA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini