Waktu Baca: 3 menit

Based on my experience sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi, kebanyakan orang menganggap bahwa berbicara itu adalah hal yang mudah. Tak perlu repot – repot mempelajarinya sampai jenjang S1 untuk bisa lancar berbicara. Iya, memang itu benar. Tapi bicara itu bukan hanya sekadar ‘lancar’ atau ‘jago’, melainkan apakah kita benar – benar sepenuhnya memahami apa yang kita ucapkan. singkatnya, bicara itu seni.

Kalau bicara menurut mereka itu hanya percakapan sehari – hari saja, tentu kurang tepat ( saya bilang kurang tepat loh ya, bukan salah. Netizen jangan suka mencari kesalahan dalam tulisan saya gitu deh ). Ketika kita mempelajari lebih dalam mengenai komunikasi, tentu akan banyak hal yang rasanya sepele tapi ternyata menjadi salah satu permasalahan yang terjadi. Kali ini saya akan mengundang Sakti Al Fattah, seorang presenter yang malang melintang di berbagai televisi untuk membicarakan topik bahwa berbicara itu seni.

Tentang Public Speaking

Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu pengertian dari public speaking sebelum membahasnya lebih dalam. Public speaking merupakan kegiatan atau cara dalam menyampaikan pesan dan informasi kepada khalayak umum yang bertujuan untuk menghibur, menginformasi, mengajak, dan memengaruhi.

Sekilas terdengar mudah kita lakukan, namun nyatanya tak sedikit orang yang tidak memiliki kepercayaan diri saat berbicara di depan publik. Dalam public speaking, kita pun harus benar – benar memahami beberapa teori dasar seperti salah satu contohnya adalah komunikasi.

Komunikasi disini terbagi menjadi dua jenis yaitu komunikasi verbal dan non-verbal. Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang disampaikan secara lisan dan tulisan, sedangkan komunikasi non-verbal disampaikan melalui simbol – simbol atau kode tertentu.

Untuk menyampaikan informasi memang lebih mudah untuk memakai komunikasi verbal karena mudah dimengerti dan pesan tersampaikan dengan cepat. Tak hanya itu, ketika ingin melakukan public speaking juga dibutuhkan keberanian atau kepercayaan diri yang tinggi. Maka dari itu, bahwasanya ketika mempelajari public speaking kita mendapat banyak ilmu dari situ.

 

Apa alasan dan tujuan mas Sakti tertarik berkecimpung dalam dunia public speaking ?

Sebenarnya tujuan saya agar masyarakat Indonesia semakin komunikatif dan professional. Karena dari kacamata saya masyarakat Indonesia masih banyak yang gagal dalam berkomunikasi dan masih kurang profesional.

Maksud atau contoh dari kegagalan dalam berkomunikasi itu seperti apa ya mas ?

Kegagalan komunikasi paling banyak kita jumpai di jalan, ketika ada pengendara yang langsung belok tanpa menyalakan lampu sein sebelum dia berbelok. Padahal lampu sein ini adalah salah satu bentuk komunikasi non verbal. Masih banyak orang yang takut menyampaikan pendapatnya dengan berbagai macam alasan, sekalinya berani berpendapat tapi malah kebablasan seperti tidak beretika dan sebagainya.

Oh, seperti itu mas. Lalu maksud dari tidak profesional dalam kehidupan sehari – hari seperti apa mas ?

Contoh tidak profesional dalam kehidupan sehari – hari misalnya, acara dimulai jam 9 tapi peserta baru hadir jam 9.30, futsal jam 16.00 tapi pemain baru datang jam 16.30. Bahkan di dunia pendidikan juga sama, jadwal sekolah jam 07.00 – 12.00 tapi ternyata jam 13.00 baru selesai,  sementara orang tua siswa sudah banyak yang berdatangan untuk menjemput. Dengan kita menghargai waktu artinya kita menghargai orang lain, begitu juga sebaliknya. Audiens atau lawan bicara akan sangat respect terhadap orang yang menghargai waktu.

Wah, ternyata hal sekecil itu juga merupakan bagian dari masalah komunikasi kita ya mas. Oh iya mas, saya penasaran mengenai kepercayaan diri.

Yang saya ketahui bahwa dalam public speaking kita perlu yang namanya percaya diri. Nah, namun sebagian besar dari kita masih bingung bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri. Mungkin bisa kasih tips sedikit untuk kita mas ?

Ada banyak cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Salah satu caranya adalah dengan mengenali diri sendiri. Get to know our self. Tahu apa kelebihan dan kekurangan kita. Kemudian kita perbaiki atau cari solusi atas kekurangan – kekurangan  kita tadi. Jangan lupa juga untuk fokus pada kelebihan kita. Rasa percaya diri tidak akan bertambah dengan sendirinya kalau kita tidak ada usaha untuk meningkatkan rasa percaya diri. Kalau dibiarkan tidak pede terus menerus, sampai kakek nenek pun kita akan terus menjadi orang yang tidak percaya diri.

Sangat menarik sekali jawaban dari mas Sakti ini ya. Terakhir nih mas sebagai penutupan, apa yang perlu kita lakukan agar bisa melakukan public speaking dengan baik ?

Pertama pasti kita harus memahami teori dasarnya dulu seperti vocal, body language, dan story telling. Setelah kita menguasai teorinya, kita perlu untuk berani mencoba. Karena tanpa praktik atau jam terbang yang sering, teori hanya sia – sia saja. Yang terpenting kita berani untuk menantang diri kita, keluar dari comfort zone, dan jangan pernah berhenti untuk belajar. Nah, untuk mempermudah teman – teman dalam belajar public speaking, saya bersama teman saya Ben Kasyafani menulis buku dengan judul Public Speaking Itu Mudah dan Menyenangkan. Di dalam buku tersebut akan banyak tips dan trik yang diperlukan dalam mempelajari public speaking

 

Yuk Belajar Bersama !

Melalui wawancara tersebut saya semakin paham bahwa ilmu dalam komunikasi juga bisa kita dapat dan temui dalam kehidupan sehari – hari. Pendapat dan sudut pandang dari mas Sakti terbilang unik karena berusaha menjelaskan public speaking melalui kehidupan sehari – hari sehingga sangat mudah untuk dipahami. Jadi, sekali lagi saya mempelajari Ilmu Komunikasi bukan karena ingin jago berkomunikasi, tetapi saya ingin komunikasi saya bisa terarah dengan baik dan benar. Cocok banget nih buat netizen +62 biar komunikasi di sosmednya bisa diarahkan ke hal positif !

Baca juga :
Eddy Mata Kopian : Mending Minta Maaf Daripada Minta Ijin!

Deddy Corbuzier si Sosok Inspiratif : Malah Jadi Beban

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini