Waktu Baca: 2 menit

Berbicara mengenai Eternals, pendapat orang akan sangat terbagi. Di satu sisi, Eternals sangat off sekali jika kita bandingkan seri Marvel lainnya. Ya, tone yang dibawa Eternals malah lebih mendekati film film DCEU yang lebih gelap, kompleks dan penuh twist. Jika saya harus membandingkan, Eternals ini padanannya adalah Watchmen. Karakter karakter superhero tergali satu persatu dengan segala kemanusiaan dan kompleksitasnya. Cap LGBT, difabel dan bahkan bi-polar serta PTSD dan depresi tak sekedar biar ‘gaya’ aja. Film ini memiliki usaha untuk menjadikan protagonis dan villainnya sebagai sama sama manusia abu abu, di tengah tengah. Tanpa ragu, saya akan menyebut Eternals film terbaik Marvel…sepuluh tahun lagi.

Filosofi Chloe Zhao

Ketika kita berbicara mengenai Chloe Zhao, kita sedang membicarakan wanita kedua yang menerima penghargaan best director saat perhelatan Oscar. Jelas bukan prestasi main main. Apalagi ia aslinya adalah sutradara kelahiran Tiongkok. Tentu sebagai seorang sutradara kelas Oscar, Chloe tidak mau sekedar mengikuti rambu rambu Marvel. Ia ingin Eternals menjadi karya signaturenya dalam dunia Marvel.

Maka dari itulah, ia berani menjadikan film Marvel sebagai ajang pertanyaan besar. Bagaimana kalau pencipta manusia adalah sosok yang tidak sebaik yang kita pikirkan? Bagaimana kalau manusia sebenarnya tercipta hanya untuk menjadi pion bagi kekuatan yang lebih besar? Ini adalah salah satu perdebatan panjang umat manusia dan menyentuh konflik agama v. atheisme or even satanism.

Tentu ini akan menjadi pembahasan menarik…seandainya tidak kita tanyakan pada film Marvel. Ya, orang menonton film Marvel untuk sebuah hiburan, bukan untuk sebuah perenungan yang membuat kita pulang dengan merasa tidak nyaman. Tapi, inilah Eternals, film terbaik Marvel yang enggan menjalankan fungsinya dan berdiri sendiri sebagai wahana kegelisahan sutradaranya pada higher dan highest power. Salahkah Chloe? Tergantung. Jangan jangan, Kevin Feigepun ingin menjadikan Eternals sebagai wahana pencarian jati dirinya. Sehingga, meski resikonya mendapat skor yang buruk pada Rotten Tomatoes, ia tidak peduli. Pada akhirnya, ini adalah sebuah karya personal dan pribadi sekali.

Perbandingan Dengan Watchmen

Jika Watchmen  adalah sebuah kisah superhero yang terpaksa terlibat konflik politis, maka Eternals jauh lebih dalam karena membahas soal bagaimana rasanya jadi orang yang sangat berkuasa menemukan bahwa ternyata dirinya cuma butiran debu. Eternals bahkan sempurna saat menggali emosi manusia manusia yang saking hidup terlalu lamanya harus merasakan kepedihan, kekecewaan dan harapan berulang kali. Ini menyakitkan bukan? Sebuah keabadian yang bukannya memberi kebahagiaan namun malah memberi beban.

Eternals menuju klimaks membawa kita ke sebuah perenungan. Pada akhirnya setiap manusia, dengan kelebihan dan kekurangannya, memiliki nurani dan kata hati untuk mengambil keputusan. Mungkin keputusan yang mereka pilih bukan yang terbaik. Mungkin juga ini seolah menafikkan sebuah proses alami dari namanya penciptaan dan kehancuran. Namun, ya kita hanya manusia, Eternalspun demikian. Kita tidak bisa jika harus mengambil keputusan terbijak layaknya sebuah komputer. Emosi, nurani, nilai, pelajaran dan pengalamanlah yang kadang akhirnya membuat kita mengambil keputusan berat meski banyak tentangan.

Film Terbaik Marvel

Kesimpulan akhir adalah Eternals terlalu cepat datang. Penonton belum siap untuk tak hanya terhibur melainkan pulang dengan gelisah. Eternals juga terasa nanggung sebagai ‘film berat’ dan mendalam, harus mengalah dengan rating PG-13 untuk memastikan seluruh keluarga bisa menyaksikannya.

Tidak hari ini, tapi suatu hari nanti. Orang akan menghargai Eternals.

Baca juga :
LGBT di Film Populer Terlalu Memaksa

Film Terbaik James Gunn Bukan Guardians of The Galaxy

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini