Waktu Baca: 3 menit

Mungkin kalian belum cukup familiar dengan frasa “Bias Gender”. Sebenarnya, apa sih bias gender itu? Bagi kalian para fans fanatik suatu klub atau sekedar idola saja, bias gender ini bisa saja terjadi, lho! Daripada penasaran, yuk langsung kita simak aja artikelnya!

Baru pertama kali denger, apa sih itu?

Bias gender adalah kondisi dimana kita sebagai representasi salah satu gender (eks. laki-laki/perempuan) baik secara langsung maupun tidak langsung melakukan tindakan diskriminasi terhadap gender lainnya. Tindakan ini bisa beragam bentuknya dimulai dari verbal (gambar, tulisan) hingga non verbal. Lebih lanjut, bentuk dan hasil dari tindakan diskriminatif yang dilakukan dapat menciptakan stigma baru di masyarakat. Kebanyakan, masyarakat masih kurang familiar terhadap tindakan yang dilakukan ini, terutama bagi para pengguna media sosial. Seringkali, kata-kata atau unggahan yang kita unggah di media sosial secara tidak langsung merupakan tindakan diskriminatif karena secara tidak langsung memberatkan sebelah pihak.

 Lho, kok bisa? Kenapa kita gak sadar?

 Salah satu hal yang membuat kita tidak sadar adalah karena keadaan masyarakat yang sudah menormalkan kebiasaan ini, bahkan membuatnya menjadi standar tidak tertulis yang secara langsung kita tanamkan setiap hari. Pengaplikasian stigma-stigma yang beredar di masyarakat acap kali membius kita. Perspektif dan cara pandang masyarakat yang lebih sering dianggap betul dan benar, langsung kita tanamkan menjadi doktrin dalam kehidupan kita. Contoh sederhananya, kita seringkali mengkotak-kotakkan seorang dengan kendaraan roda empat adalah orang dengan kondisi ekonomi menengah ke atas. Sedangkan orang dengan kendaraan roda dua, adalah orang dengan kondisi ekonomi menengah kebawah. Stigma seperti ini sudah menjamur dan berkembang secara subur di masyarakat kita, sehingga kita seringkali lupa bahwa hal tersebut secara tidak langsung adalah bentuk tindakan diskriminatif.

 Suka K-Pop dan Jepang = Aneh?

Beberapa dari kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan ketiga hal diatas. Orang-orang dengan fanatisme seperti diatas biasanya lebih banyak mendapat label aneh. Fanatisme ini biasanya lantas menyerang dan mengkotak-kotakkan gender tertentu. Misalnya saja, perempuan yang fanatik dengan K-pop lebih sering dianggap alay/lebay karena kegemarannya pada artis Korea. Atau, perempuan atau laki-laki yang fanatik dengan anime (film animasi dari Jepang) biasanya akan mendapat julukan wibu, dan cenderung mendapat julukan freak. Stigma dan perspektif yang beredar soal fanatisme ini secara tidak langsung menjadi normal karena masyarakat sudah memaklumi hingga menganggap hal ini sebagai doktrin/standar untuk hidup.

Tindakan diskriminatif pun bukan lagi sebatas memberi komentar/perkataan yang kurang sedap, tetapi ketika kita sebagai masyarakat sudah memberi label/cap tertentu bagi orang-orang dengan fanatisme tertentu. Perspektif masyarakat tentang perempuan yang suka K-Pop merupakan satu hal yang belum juga surut. Banyak sekali masyarakat yang cenderung memberi label aneh bahkan penggemar K-pop culture pun erat kaitannya dengan standar kecantikan. Seperti misalnya, banyak dijumpai laki-laki yang me-normalkan standar mencari pasangan mereka dengan menambahkan kata-kata “gak mau sama cewek yang suka korea” , atau “cewek makin cantik apalagi kalau gak suka korea”, atau bahkan “cewek yang suka korea? pasti alay!” yang membuat masyarakat lantas menormalisasi hal tersebut. Stigma dan perspektif seperti ini nantinya akan membentuk doktrin baru yaitu bahwa perempuan yang fanatik dengan K-pop culture adalah seorang yang alay dan lebay. Sama halnya dengan kasus perempuan/laki-laki yang wibu, yang kemudian menjadi tolak ukur untuk standar-standar tertentu.

Sama-sama Fanatik, Tapi Kok?

Kalau berbicara tentang fanatisme, kegemaran terhadap klub sepakbola juga bisa dijadikan salah satu perbandingan. Eksistensi fans fanatik ini kemudian menjadi pertanyaan besar dimana perannya sebagai suporter tapi mendapat perlakuan yang biasa saja dari masyarakat. Jika ditelisik lebih lanjut, masyarakat jarang sekali mempermasalahkan tentang orang-orang yang gemar dengan klub sepakbola. Padahal, kenyataanya, fanatisme yang dilakukan pun sama dengan fans K-Pop culture ataupun Jepang. Jarang sekali masyarakat menilai laki-laki yang fanatik dengan klub sepakbola sebagai seseorang yang aneh/freak/lebay. Hal ini lantas menjadi tugas bersama, karena dengan adanya perspektif fanatisme ini, masyarakat jadi semakin mengkotak-kotakkan eksistensi gender.

Menjadi sebuah pekerjaan yang menumpuk untuk menindaklanjuti tindakan diskriminatif yang sudah dinormalisasi di masyarakat. Sebagai seorang yang kritis, tentunya penting bagi kita untuk tetap netral dengan ikut menyuarakan pesan-pesan positif. Semoga nantinya, stereotype yang menyudutkan gender tertentu tidak semakin menjamur dan berkembang. Karena pada dasarnya, tiap insan diutus hidup berdampingan dan baik adanya untuk tidak saling menjatuhkan.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini