Waktu Baca: 2 menit

Pada beberapa waktu yang lalu, Pak Luhut Panjaitan dengan kapasitasnya sebagai Menteri Perekonomian, Maritim, dan Investasi mengeluarkan pernyataan bahwa game Indonesia harus di isi dengan unsur Pancasila dan UUD 1945. Ini bagi saya jadi aneh, karena secara tidak langsung akan membatasi kreativitas developer game di Indonesia. Sementara itu, memproduksi satu game saja bukan pekerjaan mudah. Developer akan menghabiskan waktu, biaya dan perjuangan agar sebuah game bisa selesai produksi dan mendapat animo masyarakat. Ada beberapa faktor kenapa hal tersebut bakal tidak mudah untuk dilaksanakan. 

Game harus mengandung unsur Pancasila dan UUD 1945, gimana?

Gini aja deh, industri tv dan film yang ada di Indonesia yang sudah ada sejak lama saja, berapa film atau sinetron yang mengandung unsur Pancasila dan UUD 1945? Tujuan utama game sendiri itu kan menghibur dan enjoyable. Sebenarnya bisa saja game itu memiliki unsur Pancasila atau UUD 1945, namun tidak bisa jika secara keseluruhan. Kalau kita bicara tentang unsur lokal dalam sebuah game, malah hal tersebut sudah ada di beberapa game lokal. Contoh seperti game horror Pamali yang mengarahkan jika kamu melakukan hal tabu maka akan terjadi malapetaka. Ada lagi seperti game Biwar Legend of the Dragon Slayer yang mengangkat cerita legenda di Papua. 

Jika developer lokal dipaksa untuk membuat game yang mengandung unsur Pancasila dan UUD 1945, menurut saya kurang realistis. Bayangkan di UUD 1945 saja sudah ada banyak ayat yang tidak bisa diimplementasikan kedalam game secara keseluruhan. Setidaknya mengangkat tema – tema daerah seperti game yang telah saya jelaskan tadi. 

Target pasar yang berbeda

Beberapa developer lokal mengakui bahwa target pasar mereka malah orang – orang luar. Selain lebih terbuka, developer lokal mengakui bahwa orang-orang luar membeli game mereka bukan membajak game-game yang mereka produksi. Sementara kalo di tempat kita, orang-orang masih banyak yang membajak game karena motivasi gratisan. Bukan berarti developer lokal tidak menargetkan pasar Indonesia, namun hal tersebut yang membuat developer masih pesimis dengan pasar Indonesia. Bukan hanya itu saja, banyak gamer – gamer indo sekarang yang memilih game luar dan game free-to-play. Selain karena grafis yang sudah bagus, game free-to-play kebanyakan game yang kompetitif. Kompetitif bukan hanya soal skills, namun gengsi dengan kostum yang menghabiskan banyak uang supaya karakter mereka lebih cantik. 

Baca juga : Gacha di dalam Game, buat apa sih?

Jika developer lokal harus membuat game yang memiliki unsur Pancasila dan UUD 1945, maka target pasarnya bakal sangat kecil sekali. Kemungkinan besar pasarnya adalah umur 18 tahun ke bawah. Yang menurut saya sangat kecil pasarnya karena anak – anak dengan umur tersebut sekarang sudah banyak yang memainkan game kompetitif seperti PUBG, Mobile Legend, dan Free Fire. 

Saya yang sebagai gamer PC hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk developer lokal. Semoga kelak pemerintah meningkatkan program yang mendukung untuk developer game. Secara untuk sekarang game adalah layanan hiburan dengan pendapatan nomor satu di dunia. Tentu hal tersebut yang membuat pemerintah harus lebih aware dengan potensi pasar game yang ada. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini