Waktu Baca: 3 menit

Kerja keras bagai kuda,
dicambuk dan didera,
semua tlah kurasakan
untuk mencari uang

Itu lirik lagu Koes Plus yang judulnya Jemu. Bicara soal kerja keras, ada istilah yang namanya hustle culture. Tadinya saya langsung mengasosiasikan dengan Kungfu Hustle, atau trio Hustler-Hacker-Hipster dalam startup digital. Tapi ternyata bukan dua hal itu arah dari hustle culture. Singkatnya, hustle culture itu adalah budaya yang mendorong kita untuk suka, bangga, dan merasa bahagia ketika waktu hidup kita habis untuk urusan pekerjaan. Barangkali kita ingat slogan Pak Jokowi dalam pidato perdananya tahun 2014 sebagai presiden. Tapi ya realitas kita sebagai anak muda, kerja terus sampai tipes.

Karoshi di Jepang

Mungkin kita pernah lihat foto atau video orang Jepang yang teler di KRL, atau mati di kantor karena kelelahan. Sebutannya adalah Karoshi; watak gila kerja yang sampai mengganggu kesehatan, bahkan sampai mati. Yah, gimana nggak sakit, kalo terlalu fokus kerja, lupa makan, lupa minum, lupa istirahat. Badan yang udah berteriak kelelahan akhirnya terabaikan.

Saya jadi ingat film Fukushima 50, kisah tentang kawanan ilmuwan Jepang yang berusaha mengendalikan bencana nuklir Fukushima. Ada adegan ketika pimpinan proyek baru nyadar bahwa udah 3 hari mereka nggak makan, karena terlalu fokus ngurusi bencana. Kalo kultur semacam ini terjadi di Indonesia, sepertinya di hari kedua para karyawan kita udah kena serangan GERD.

Bangga dengan Kesibukan

Saya adalah satu dari sekian juta anak muda yang setiap hari punya banyak aktivitas. Meski begitu, saya ogah kalo disebut sibuk. “Mas, lagi sibuk ya?” Entah kenapa saya malah ilfeel dengan pertanyaan macam itu. Ya memang saya punya banyak kegiatan, tetapi saya bukan sedang cari kesibukan. Saya nggak suka kalau dapat image sebagai orang sibuk. Tetapi itu adalah saya; sementara di luar sana banyak teman-teman yang bangga ketika hidupnya sibuk untuk pekerjaan. Mungkin rasanya jadi seperti orang penting.

Hustle Culture sebetulnya bukan cara kerja yang pantas kita banggakan. Banyak pekerjaan bolehlah, tetapi jangan sampai lupa jam makan. Pepatah mengatakan, logika tak bisa jalan tanpa logistik. Maka dari itu jangan sampai kita skip jam sarapan, makan siang, atau makan malam, hanya karena terlalu fokus pada pekerjaan.

Baca juga : Pentingnya Menemukan Passion dalam Pekerjaan

Resiko Hustle Culture

Dampak paling jelas dari Hustle Culture adalah gangguan kesehatan dan gangguan relasi sosial. Soal kesehatan, kita sudah paham; terlalu fokus pada pekerjaan hingga lupa merawat diri akan berakibat fatal. Nah soal relasi sosial, hustle culture juga bisa merepotkan. Untuk berpacaran akan sulit, karena waktu hidup harian kita habis untuk bekerja. Urusan relasi pertemanan juga akan makin menantang, karena untuk bertemu dengan teman pun kita harus menjadwalkan jauh-jauh hari, bahkan ada batasan jam. Ini adalah hal yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan pertemanan kita jaman SMA atau kuliah. Kalau tiga kali kita menolak tawaran janjian jumpa dengan teman karena alasan padatnya pekerjaan, di kesempatan keempat kita tidak akan mendapat tawaran yang sama. Artinya, satu per satu teman akan mundur dari lingkaran pertemanan kita.

Urusan penghasilan juga patut kita bicarakan sebagai resiko hustle culture. Kalo kita ada dalam pekerjaan yang penghasilannya linier dengan kerja keras kita, maka kita bisa menikmati hustle culture. Misalnya saja kita punya usaha startup digital, atau bekerja di bidang pemasaran suatu perusahaan. Makin rajin kerja kita, makin besar pula bonus yang bisa kita bawa pulang. Tapi kalo kita ada dalam situasi kerja yang stabil, misalnya jadi ASN di tingkat daerah, percuma juga kita terapkan hustle culture. Kerja keras atau santai, toh penghasilan sama saja.

Kembalikan Kultur Kerja Indonesia

Saya sih ingin kita kembali pada kultur kerja khas Indonesia. Kita ini punya darah sebagai petarung dan pekerja keras, lho. Meski kita kerja keras, tapi kita nggak kehilangan sisi kemanusiaan. Tengoklah para petani muda. Meski mereka kerja keras secara fisik, tetapi mereka tidak kehilangan pertemanan. Justru menambah relasi lewat kerja keras tersebut.

So, mari kita pastikan, jangan sampai kita jadi tipes karena kerja dengan watak hustle culture.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini