Waktu Baca: 3 menit

Joki tugas bukanlah hal yang asing lagi di telinga masyarakat, apalagi di masa pandemi saat ini. Kalau dulu bertebaran joki CPNS, kini masyarakat berhadapan dengan banyaknya variasi joki dalam dunia pendidikan. Ada macam macam joki seperti joki tugas, joki skripsi, joki tulis, dan joki desain. Di antara keempat nama tersebut, joki tugas dan skripsi menempati posisi atas sebagai joki favorit para peserta didik di Indonesia. Tak main-main, joki tugas kini tak lagi menyasar kalangan mahasiswa saja, tetapi juga tingkat pendidikan sekolah dasar (SD), lho!

Sebenarnya Kenapa, Sih, Mereka Jadi Joki Tugas?

Ada dua alasan utama mengapa seseorang memilih pekerjaan joki tugas, yaitu finansial dan waktu luang. Situasi ekonomi yang mendesak seringkali mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tak biasa untuk mendapat cuan. Salah satunya ya menjadi joki tugas ini. Eits, jangan memandang sebelah mata dulu. Pendapatan dari pekerjaan ini lumayan bikin ngiler. Salah seorang joki mengaku bahwa dalam kurun waktu satu bulan saja ia mendapatkan pemasukan sebanyak 1-2 juta dari kegiatan menerima order pengerjaan tugas. Bahkan ada yang mendapat omzet sampai 3-5 jutaan lho! Nominal tersebut terbilang cukup untuk uang jajan bulanan, terutama bagi mahasiswa yang sarat dengan stigma uang mepet di akhir bulan. Hal lain yang melatarbelakangi usaha joki tugas adalah waktu luang seseorang.

Bagi mereka yang tak mempunyai kegiatan sosial padat layaknya anggota organisasi sekolah atau kampus, menjadi pelaku profesi ini untuk mengisi kesibukan bisa menjadi kegiatan alternatif. Daripada rebahan seharian di atas kasur, mending jadi joki tugas—kurang lebih seperti itu alasan mereka.

Eh, Tapi Boleh Gak, Sih, Kita Pakai Joki Tugas?

Hm, kalau berbicara boleh atau tidaknya seseorang memakai jasa  terlarang ini, sebenarnya jasa ‘pembantu’ seperti ini agak melenceng, menurut saya. Alasan dasar seorang guru memberi tugas kepada muridnya adalah untuk mengetahui apakah mereka sudah menguasai suatu materi pembelajaran dengan baik atau belum. Jika tugas dikerjakan oleh joki tugas, kemampuan siapa yang dinilai? Lebih tragis lagi kalau kita berbicara tentang joki skripsi atau, malah, tesis. Tugas akhir yang notabene harus diselesaikan oleh seorang mahasiswa untuk lulus malah dilempar ke orang lain. Lah? Yang butuh gelar siapa, yang ngerjain siapa.

Pendapat yang berbeda diutarakan oleh seorang pengemban profesi ini. Ia menganggap bahwa meminta bantuan ke pengemban tugas ini merupakan hal yang lumrah yang tak perlu dipertanyakan lagi. Dengan maraknya jenis jenis ‘pemain pengganti’ yang seperti saya sebutkan di awal, bukanlah tak mungkin jika identitas joki tugas seperti ini akan mendapat pemakluman oleh sebagian besar dari masyarakat. Kita perlu menunggu saja bagaimana pemerintah menyikapi fenomena ini.

Kurangnya Perhatian Pemerintah

Seperti yang saya singgung, pemerintah Indonesia saat ini belum mempunyai peraturan yang jelas dan tegas tentang keberadaan profesi ini. Nyatanya, banyak sekali iklan joki tugas berseliweran dengan bebas di media sosial seperti Twitter dan Instagram tanpa rasa takut tertangkap oleh aparat pemerintah. Tamparan paling keras pun hanya sebatas sindiran dari para pendidik, seperti yang pernah dilakukan oleh eks rektor UNY, Sutrisna Wibawa. Di luar itu, kita tak bisa melakukan hal lebih ke orang-orang yang menempuh pekerjaan sebagai pemain pengganti ini.

Berbeda dengan negara tetangga Australia yang secara tegas dan terbuka mengecam keberadaan joki di ranah pendidikan. Berdasar dari The Higher Education Standards Panel (HESP), penggunaan jasa joki, baik yang dari atau di luar Australia, sudah mereka masukkan dalam kategori mengancam integritas dan reputasi pendidikan negara tersebut. Denda yang menjadi ancaman pun tidak main-main, yaitu hukuman penjara sampai 2 (dua) tahun dan denda sampai 100.000 AUD atau kurang lebih setara 1 (satu) milyar Rupiah (nilai kurs pada tanggal 19 November).

Eksistensi joki tugas memang memberikan bumbu tersendiri di dunia pendidikan di negara multi-kultural ini. Baiknya, perlu ada regulasi yang tegas dari pemerintah mengenai fenomena joki tugas—apakah mau dibiarkan menjamur atau akan diberi batasan? Atau malah sekalian saja mendapat larangan secara keras seperti yang negara Australia lakukan? Well, apapun keputusan yang pemerintah ambil perlu melewati proses diskusi dan pemikiran yang matang dan dalam. Apalagi, hal ini sangat mempengaruhi generasi mendatang di negara tercinta.

Singkatnya, mau kemana pendidikan Indonesia?

Sumber Gambar : Mikayla Storms

Baca juga :
Tugas Akhir Belum Kelar, Kenapa Ya?

Suara Tangisan di Perpustakaan UGM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini