Waktu Baca: 2 menit

Udah baca Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Permendikbudristek) nomor 30 tahun 2021? Itu regulasi bicara tentang upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Saya gunakan kata ‘akhirnya’, setelah bertahun-tahun kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus menguap begitu saja tanpa kejelasan regulasi. Lantas, apa kabar peraturan yang serupa untuk tingkat sekolahan? Permendikbud nomor 82 tahun 2015 sudah menjawabnya. Justru peraturan menteri soal kekerasan seksual di lingkungan kampus, jauh lebih komplit ketimbang aturan serupa untuk lingkungan sekolah.

Perdebatan Isi Peraturan

Adalah satu ciri khas netizen Indonesia ketika nyolot duluan tanpa mau baca regulasi secara teliti, lengkap, dan melihat konteks. Satu klausul yang jadi bahan pergunjingan netizen adalah tindakan kekerasan seksual tanpa persetujuan korban. Lantas orang bikin penalaran ngaco dengan berpikir, “Oh berarti kalo dengan persetujuan korban, boleh dong?” Eits, tidak semudah itu Fergusso. Regulasi ini juga menjelaskan kategori-kategori apa saja yang tidak termasuk dalam pengertian Persetujuan Korban. Lagipula, orang dengan akal sehat jelas tidak mau memberikan persetujuan agar dirinya menerima kekerasan seksual.

Kita tahu bahwa merumuskan regulasi yang berurusan dengan aktivitas seksual bukan perkara gampang. Tidak mudah merumuskan dan memilih kata-kata yang tepat. Tetapi lebih penting lagi kita fokus pada tujuan regulasi itu. Dua tujuan aturan itu adalah tersedia pedoman penanganan kasus kekerasan seksual, dan upaya untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif di kampus. Tidak ada satu pun ayat yang membahas, apalagi sepakat dengan urusan seks bebas.

Pentingnya Peraturan Ini

Jelas, kita butuh kepastian hukum untuk urusan kekerasan seksual di kampus. Umumnya sih korbannya adalah mahasiswa, khususnya lagi perempuan alias mahasiswi. Sementara pelaku umumnya adalah dosen atau karyawan. Umumnya pula, kasus kekerasan seksual di kampus berakhir menguap dan berujung pada penyelesaian secara kekeluargaan. Jarang yang sampai pelakunya dihadirkan di meja hijau.

Ini juga karena ada pola relasi kuasa antara dosen dan mahasiswa. Berhadapan dengan tuntutan akademik, mahasiswa bisa berbuat apa sih di hadapan dosen? Kultur akademik kita di Indonesia masih kental dengan adat ‘kalo mau dapat nilai bagus, baik-baiklah dengan dosen.’ Nah, upaya ‘berbaik-baik’ ini lah yang kerap berbelok pada urusan kekerasan seksual. Bukan berarti mahasiswi mau bertransaksi seksual dengan dosen, tetapi ada rasa takut dan khawatir di situ. Takut bila menolak permintaan dosen akan berujung pada nilai jelek atau sulit bimbingan skripsi.

Baca juga : Candaan Bernada Seksual, boleh nggak sih?

Rasa Keadilan bagi Korban

Dulu mahasiswa takut melaporkan situasi macam itu pada dekan. Pertama, bingung juga, mau melaporkan kepada siapa. Kedua, kalau harus lapor ke dekan, apa yang harus diungkapkan? Ketiga, kalau berhasil lapor, apa jaminannya bahwa dosen tidak mengintimidasi mahasiswa yang melaporkan? Nah sekarang dengan permendikbud nomor 30 tahun 2021, kampus diperintahkan untuk membentuk satgas penanganan kekerasan seksual. Sanksi yang tersedia juga lumayan berat, lah. Sanksi yang terberat adalah penurunan akreditasi dan penghentian bantuan dana operasional kampus. Ini artinya kementerian pendidikan kita punya cara berpikir yang jitu untuk menjamin keadilan bagi korban. Jangan sampai relasi kuasa antara pengelola kampus dengan mahasiswa lantas makin memberatkan nasib korban.

Twitter, Please do your magic

Kita juga tahu bahwa urusan kasus kekerasan seksual itu tidak akan diurus oleh pihak yang berwenang kalo belum jadi bahan pembicaraan publik. Singkatnya, bikin rame dulu supaya dapat perhatian. Saran saya sih untuk teman-teman yang tahu ada kasus kekerasan seksual di kampus yang menimpa salah seorang kawan, bantu dia untuk mendapatkan keadilan. Laporkan aja pada Satgas Penanganan Kekerasan Seksual di kampus, atau sampaikan ke dekanat. Kalo nggak digubris, pakai aja jurus twitter, please do your magic.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini