Sungguh Kasihan Mereka yang Melamar Kerja dengan Bantuan Orangtua

Waktu Baca: 2 menit

Saya tidak sedang membicarakan mereka yang dapat kerjaan dengan kekuatan orang dalam. Tetapi saya menyoroti fenomena anak millenial yang masih mengandalkan bantuan orangtua dalam hal melamar kerja. Singkat kata, ini soal anak manja yang keterlaluan. Bayangkan saja, untuk perkara melamar kerja yang umumnya orang dewasa bisa melakukannya, ini masih harus dapat dorongan dan paksaan dari orangtua.

Sebuah Alkisah

Sebut saja Ronald, seorang fresh graduate sarjana ekonomi dari kampus ternama di Jogja.  Aktivitas hariannya sebelum dan sesudah wisuda sih tidur-tiduran di kamar, makan, dan main game doang. Dia sudah lulus kuliah, tetapi tidak ada greget untuk mencari pekerjaan. Jangan bayangkan bahwa orangtuanya tajir sehingga dia bisa mengandalkan warisan ortu buat hidup. Bapaknya kerja sebagai karyawan swasta yang sebentar lagi pensiun. Ibunya tidak bekerja.

Melihat situasi macam itu, saya malah jadi gemes sendiri pada Ronald sekaligus kasihan sama bapaknya. Dulu untuk memilih kuliah, si bapak juga yang mengarahkan. Prestasi Ronald sih biasa-biasa aja, nggak pakai cumlaude. Kalo soal memilih sekolah masih mengandalkan arahan dari orangtua, ya okelah. Tapi kalo memilih kuliah dan masih mengandalkan pilihan orangtua, itu bisa jadi bibit persoalan. Lebih lagi, ketika urusan memilih pekerjaan masih mengandalkan bantuan dan fasilitas orangtua, itu udah keterlaluan.

Bukan soal kekuatan orang dalam

Bantuan yang saya maksud nggak sekadar jalur orang dalam dengan upaya si bapak untuk kontak kawannya yang jadi manajer HR perusahaan. Bahkan urusan menuliskan lamaran pekerjaan dan melengkapi persyaratan berkas, itu juga masih mengandalkan bantuan orangtua. Ronald tinggal kirim email atau kirim berkas ke kantor perusahaan itu. Apakah ini kelihatan childish? Ya tentu saja.

Saya mengira bahwa kasus Ronald ini jarang-jarang saja terjadi. Tetapi ternyata saya menemukan lebih dari 4 kasus dengan pola yang sama. Anak millenial yang no life, masih sangat mengandalkan orangtuanya untuk bisa sampai pada tahap kemandirian. Bahkan ada pula yang datang ke Job Fair ditemani oleh kedua orangtuanya, dipilihkan lowongan pekerjaan yang dianggap cocok untuk si bocah. Saat proses walk in interview pun orangtuanya menunggu dari kejauhan. Ini malah jadi pertanyaan, sebetulnya yang bakal bekerja itu anak atau orangtuanya?

Baca juga : Pentingnya Menemukan Passion dalam Bekerja

Kalo udah sampai walk in interview masih ditungguin orangtua, ini sih bukan lagi bentuk cinta orangtua pada anak. Ini malah upaya untuk melanggengkan ketergantungan anak pada orangtua. Dari pihak anak, ini juga bukan cara untuk mengandalkan kekuatan orang dalam. Ini sih sudah jadi tanda anak tidak punya kekuatan apa pun dalam dirinya.

Efek Samping pengasuhan Mother Helicopter

Kalau ada orangtua yang berusaha merekomendasikan anak untuk melamar pekerjaan ke tempat tertentu, itu boleh lah kita anggap masuk akal. Jaman sekarang cari pekerjaan susah juga. Tanpa kekuatan orang dalam, makin sulit kita dapat pekerjaan. Tetapi kalau sampai urusan menulis lamaran pekerjaan masih harus dibimbing orangtua, nah ini sudah kebangeten.

Baca juga : Memikirkan Masa Depan itu Melelahkan

Dalam dunia parenting, ada istilah mother helicopter. Orangtua mengambil peran terlalu dalam dan terlalu detail dalam langkah hidup anak, sehingga anak nggak punya kesempatan untuk mencoba mandiri. Segala macam gerak anak dipantau dan diarahkan orangtua. Gambarannya mungkin seperti helikopter angkut sekelas Chinook mengkatrol kargo dengan tali. Kargo hanya akan pindah kalau diangkat dan dipindahkan oleh helikopter. Karena udah kebiasaan mother helicopter sejak si bocah masih SMP, akhirnya keterusan sampai dewasa.

Kalo kamu saat ini jadi salah satu orang yang mengalami mother helicopter, waspadalah. Segera aja berbenah jadi pribadi yang mandiri, supaya manjanya nggak kelewatan sampai usia dewasa. Jangan sampai urusan teknis melamar kerja pun kita masih mengandalkan bantuan orangtua.

Baca juga : Manajemen Stress bersama Collective Mind

Benny Pudyastanto
Benny Pudyastanto
Peneliti lepas untuk isu kesehatan mental di sekolah, merangkap bapak asrama anak-anak SMA

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI