Waktu Baca: 2 menit

Kata orang sih organisasi bisa jadi tempat kita belajar kerja tim. Istilah kerennya menjadi ‘kura kura’ alias kuliah rapat kuliah rapat. Tak lain dan tak bukan alasannya karena kita harus bahu membahu menggendong organisasi sesuai jobdesk di divisi yang jadi tempat kita mengabdi. Katanya sih gitu. Tapi terkadang, gabung organisasi kampus bisa jadi blunder karena udah rela ngorbanin waktu, tenaga bahkan uang tapi nggak belajar apa-apa salah satunya bekerja sama. Kok bisa gitu?

Diterima Organisasi Bukan Semata-mata Karena Kualitas

Kalau katanya organisasi kampus itu ngadain open recruitment buat mengisi slot-slot divisi yang dibutuhin sebetulnya nggak sepenuhnya seperti itu. Beberapa organisasi di kampus nyatanya juga terjadi nepotisme. Tidak jarang orang yang terpilih bukan semata-mata kualitas tapi lebih karena kenalan sejak dulu – meskipun nepotisme ini juga terjadi karena kurangnya pendaftar juga lho gaes.

Terjadinya nepotisme ini bisa aja mengurangi “power” orang-orang yang mendaftar lewat open recruitment. Kok bisa gitu? Karena kalau udah ada yang deket bakalan punya privilese lebih daripada yang belum kenal bukan? Karena udah kenal jadi punya pengaruh yang lebih dari yang daftar lewat open recruitment. Kalau ini terjadi, mungkin hanya ada beberapa orang yang jadi motor organisasi, bukan semuanya.

Akhirnya orang-orang yang masuk lewat proses open recruitment cuma jadi bagian orang suruhan aja, suaranya nggak terlalu kedengeran dan nggak terjadi dinamika kerja tim di sana.

Organisasi Prestisius Rentan Salah Pilih

Organisasi prestis kaya BEM atau bagian legislasinya kaya Dewan Perwakilan Mahasiswa, adalah organisasi-organisasi yang rentan salah pilih orang yang bikin anggotanya sama sekali nggak belajar soal kerja tim malah jadi makin jalan sendiri-sendiri.

Siapa sih yang nggak tertarik sama nama besar BEM atau DPM? Terutama buat kita-kita yang lagi mencari validasi soal jati diri di kampus? “Aku dulu BEM di Universitas”, untuk beberapa orang mungkin kata-kata itu memunculkan sebuah kebanggaan.

Tapi, sayangnya kebanggaan ini jadi pisau bermata dua. Kalau bangga karena bisa ikut merubah kampus bareng yang lain ya sah-sah aja. Tapi gimana kalau bangganya cuma karena punya pangkat “mantan BEM atau DPM”? Bisa jadi orang-orang yang masuk sini didorong sama egonya. Hal ini malah bikin organisasi kampus menjadi tempat yang tidak nyaman buat belajar kerja tim. Yang ada malah perang ego.

Belajar Kerja Tim Nggak Melulu Organisasi

Belajar kerja tim itu nggak perlu muluk-muluk ikutan organisasi, kok. Dinamika kerja tim bisa kita lakuin di pembuatan project bareng-bareng sama temen yang lain. Bisa ikutan PKM atau penelitian yang kira-kira bisa menjaring orang yang benar-benar capable untuk kerjasama.

Bahkan, kelompok-kelompok kecil kaya gini sepengalamanku lebih ngajarin aku tentang kerja tim daripada yang lain – kebetulan aku pernah ikut organisasi di 2 tahun awal kuliahku. Selain bikin project yang berhubungan sama makul, hal-hal yang sesimple jualan bareng juga bisa dianggap belajar kerja tim, apalagi kalian yang kuliah di akuntansi, ekonomi atau sejenisnya bisa bener-bener belajar marketing di situ kan?

Kesempatan belajar kerja tim yang lain bisa juga dari ikutan magang – kaya di pakbob yang sempet buka magang juga lho, hehehe…. Magang pun sekarang lebih mudah diakses kok. Kemendikbud ada program magang kampus merdeka, di Instagram banyak juga tentang info-info magang kaya gini. Enaknya magang, kita bukan cuma belajar kerja tim tapi juga belajar langsung terjun di dunia kerja, hal yang nggak kita dapetin di organisasi kampus.

Eit, tapi bukan berarti berorganisasi itu nggak worth it, ya. Ini semua berdasarkan pengalamanku dan sedikit memperhatikan organisasi lain di dalam kampusku dan bahkan di kampus lain. Setiap kampus mungkin memiliki lingkungan organisasi yang berbeda jadi sebelum ambil keputusan ikut organisasi coba kenali organisasinya dahulu, ya. Jangan sembarangan masuk dan menjadi kura kura yang gak efektif!

Baca juga :
Melirik Pendekatan Guru ala ‘Great Teacher Onizuka’

Joki Tugas, Pembantu atau Perusak Generasi Muda

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini