Waktu Baca: 4 menit

Tanggal 10 Novermber diperingati jadi hari pahlawan nasional Indonesia. Pastinya yang ada di kepala kita pahlawan selalu orang-orang yang udah berkorban, tapi juga ada pahlawan Indonesia yang hilang dari Indonesia sebentar lagi. Ada yang tau? Kalau nggak tau, pahlawan yang aku maksud segera hilang adalah pahlawan pangan Indonesia. Udah tau apa kan? Ya… Petani. Kok bisa ya?

Petani Adalah Pahlawan Pangan
Coba kalian inget-inget lagi akhir-akhir ini kalian makan pakai apa? Nasikah? Atau tempe? Atau ketoprak atau soto? Semua olahan-olahan makanan kita dihasilkan sama petani. Nasi, makanan utama kita, yang pas dimasak selalu ditakar pake ruas jari itu dari petani. Kedelai yang berubah jadi burung bango, dan kadang dijadiin bahan susu juga dari petani. Kalau kita ambil data soal produksi beras, produksi beras di sekitaran bulan Januari sampai April tahun ini sebanyak 14,54 juta ton loh. Ya, meskipun konsumsi beras kita tahun kemarin bisa sampai 30 juta ton lebih, tapi coba deh bayangin kalau nggak ada petani-petani ini. Jelas kita bakalan repot kalau mau makan nasi. Mana di Indonesia kalau nggak nasi ya brarti nggak makan kan?

Hal ini juga berlaku sama sektor pangan yang lain misal kaya kedelai. Kedelai putih dan sohibnya yang bisa terbang, kedelai hitam alias malika tahun 2020 kemarin hampir 1 juta ton, tapi konsumsi masyakarat sendiri di tahun yang sama lebih dari 2 juta ton. Selisihnya banyak kan? Coba kalau bukan karena petani, apa iya kita bisa ngambil tempe jadi lauk selain telur dadar pas gak punya duit di kosan?

Jumlah Petani Mulai Turun

Tapi sayang seribu sayang, jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan dan bahkan diprediksi bakalan hilang tahun 2063 besok. Kok bisa gitu ya hahaha? Ya karena sebagian besar petani sekarang berusia senja. Di Indonesia, total petani ada sekitar 33,4 juta orang kalau diliat dari datanya BPS.

Lebih rincinya, petani yang usianya sepantaran sama kita nih, yang 20 an sampai 39 tahun ternyata cuma 8 persennya. Sekitar 30,4 juta atau 91 persennya udah berusia diatas 40, bahkan banyak yang umurnya udah 50-60 tahun. Nahloh, pasti kalau udah usia 60 gitu sebentar lagi bakalan berhenti jadi petani karena fisiknya kurang oke lagi kan? Bayangin aja kalau 91 persen ini benar-benar menghilang dan pahlawan pangan kita “punah” tahun 2063 besok.

Anak Muda Indonesia Nggak Mau Jadi Petani?

Kalau kita dari jumlah tadi sama mata kita yang jarang ketemu petani di usia muda mungkin kita bisa suudzon dulu kalau usia kita emang ga mau jadi petani. Kalau berdasar dari pengalamanku sendiri, sebagian besar temenku yang lulusan pertanian nggak ada yang jadi petani.

Secara sosial juga mempengaruhi. Petani selalu mendapat stereotype nggak punya kelas kaya kerja-kerja di kantor (meskipun orang kantor kalau nggak ada petani ya pasti mumet mau makan apa hahaha….). Saking sedikitnya generasi umur 20-an yang sekarang lagi pada seneng rebahan, Ridwal Kamil sampai bikin program buat memberdayakan petani-petani muda. Kalau kata beliau, targetnya sih 1.000 anak muda mau jadi petani.

Masalahnya Juga Ada di Pemerintah

Tapi, apakah emang murni salahnya orang-orang umur 20-an? Jawabannya jelas nggak. Masalahnya juga ada di pemerintah. Kalau kita lihat-lihat sektor yang menjadi fokus pemerintah buat mendapat investasi itu sektor-sektor bisnis zaman now, kaya startup. Terus pertanian gimana? Ya ada bantuan dari pemerintah buat investasi, sih, tapi coba kita lihat, pol mentok bantuannya cuma ada di awal kan? Kaya pupuk, benih dan sebagainya. Kalau emang cara pemerintah menginvestasikan APBNnya dirasa cukup dengan cara kaya gini harusnya banyak petani yang terbantu dan bukannya sering mengeluh.

Kesalahan pemerintah bisa kita lihat juga dari modernisasi sektor pertanian yang nggak terlalu kelihatan. Kita sering lihat pahlawan pangan kita ini dari jaman Didier Drogba belum potong ari-ari sampai sekarang masih menggunakan alat-alat yang itu-itu aja, seakan modernisasi hanya milik startup-startup internet.

Padahal kalau katanya Pak Prof. Dr. Andi M. Sakir, Ketua Umum Peragi (Pehimpunan Agronomi Indonesia), modernisasi pertanian bisa memberikan keuntungan berkali-kali lipat buat petani. Secara produksi juga bisa naik 3 kali lipat dan kualitasnya juga lebih bagus daripada cara tradisional. Kenapa pemerintah juga seakan melihat sektor pertanian ini emang kaya ga penting gitu ya?

Masalah Klasik: Lahan

Nah, pasti kalian dah tau soal ini. Indonesia sendiri pembangunan kelihatan banget rencananya sembarangan. Bukan hanya buat perkotaan atau perumahan tapi juga buat industri dan perkantoran. Banyak bangunan yang berdiri tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan dan pastinya mempertimbangkan lahan pertanian juga.

Bahkan setidaknya ada 100.000 hektar lahan petanian berubah setiap tahunnya untuk peruntukan lain. Pastinya perubahan lahan yang sembarangan ini bisa memicu perubahan iklim yang bikin petani pusing. Terus kalau isinya masalah semua kaya gini, gimana petani bisa diregenerasi? Kalau pahlawan pangan kita akhirnya “punah” mumet kan?

Solusinya?

Kalau kalian mau cari solusi di artikel ini, sayangnya kalian nggak mendapatkannya. Aku pribadi menulis ini bukan untuk memberikan solusi ke kalian, tapi aku cuma pengen kita semua sadar kalau profesi yang menyelamatkan perut kita ini terancam. Pahlawan Indonesia yang hilang (perlahan lahan) ini perlu kita jaga sebenarnya. Tapi ya itu tadi, banyak sekali kendalanya, dari sosial kita sendiri, dan dari pemerintah juga. Kalau bukan kita yang bareng-bareng mikirin solusinya mau siapa? Ole Gunnar Solskjaer?

 

Selamat hari pahlawan, terutama untuk petani sang pahlawan pangan kita. Semoga kalian yang habis baca artikel ini jadi mulai tergugah untuk menyelesaikan problematika Indonesia ini. Ga perlu angkat senjata buat jadi pahlawan, tunjukkan kita mau memberikan perbaikan ke Indonesia maka kita juga pahlawan kok. Kalau bingung mulai dari mana? Jadilah pahlawan yang menyelamatkan pahlawan yang lain yaitu profesi petani.

Courtesey gambar : instagram @petani.indonesia / @bangdook

baca juga :
Kelihatan Kaya Membunuhmu

Eksploitasi Orang Utan Dalam Cerpen Bulu Bergincu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini