Waktu Baca: 3 menit

Ramenya tagar #Percumalaporpolisi tak membuatku ingin ikut membully polisi. Malah sebaliknya, aku merasa prihatin. Sebab ya tak semua polisi begitu. Ini hanya oknum. Ndilalah kok lagi banyak. Nah kebetulan aku bertemu dengan seorang eks polisi baik yang mau membagi pemikirannya.

Suatu Obrolan

Saat itu, latar belakang tempatku duduk itu masih ramai dengan orang-orang yang berperan sebagai penjual dan pembeli. Ada yang menjajakan sayur, buah, bahan makanan dari daging dan semacamnya. Di saat yang sama aku sedang ngobrol dengan salah seorang pensiunan yang berseragam coklat idola para perempuan yang kebetulan baru saja datang di parkiran yang lagi aku jaga.

Chit chat santai dengan beliau saat itu berujung dengan pembahasan berat mengenai instansi kepolisian yang akhir-akhir ini kena sorot masyarakat terutama di kelurahan twitter. Tagar #percumalaporpolisi bergema nyaring hampir tiap hari. Ya, pasti kalian udah pada ngeh apa yang kumaksud kan?

Masalah Kepolisian Sekarang Itu Wajar Terjadi

Beliau saat itu cukup mewajarkan dengan kelakuan junior-juniornya. Bukannya merasa kaget justru malah merasa hal-hal yang dialami oleh instansi kepolisian.

Yo wajar mas. Kudune masyarakat ora kaget nonton kepolisian ngene” kata beliau, dalam Bahasa Indonesia beliau berkata “Ya wajar mas. Harusnya masyarakat nggak kaget nonton kepolisian seperti ini”.

Saat itu aku sendiri berpikir kalau aku memahami maksud kenapa beliau berkata seperti itu.

Dengan polosnya, meskipun sebenarnya siapa yang polos di usiaku sekarang hahaha… aku menyentil dan bertanya apakah ini masalah pendidikan ataukah masalah yang lain? Sejujurnya, kalau menurutku saat itu memang di sisi luar pendidikan kepolisian, Indonesia secara pendidikan emang nggak pernah diajari berempati. Kenyataannya, banyak orang hanya mendapat ajaran tentang nilai. Apa itu bentuk lain dari nggak pernah berempati yang terpenting adalah dapet duit? Aku setidaknya berpikir begitu.

Akar Masalah Kepolisian

Tapi ternyata beliau punya pendapat yang lebih oke, dan karena beliau pernah terjun di dunia kepolisian sejak jaman dahulu kala, pastinya sudut pandang beliau lebih spesifik. Beliau memahami betul bahwa problematika polisi semua berawal dari segepok rupiah yang bermain di pintu belakang.

Inti masalahe ono neng proses rekruitmen, mas (Inti masalahnya ada di proses rekruitmen, mas)”, kata beliau.

Aku yakin kowe wis dong yen mlebu kepolisian ro TNI ono duit sek diubengke neng kono kan. Nah, kuwi masalahe (Aku yakin kamu udah paham kalau masuk kepolisian dan TNI ada duit yang bermain di situ)”, lanjut beliau

Kowe ro masyarakat isoh berharap opo seko wong sek ditompo nganggo jalur ngono? (Kamu dan masyarakat bisa berharap apa dari orang-orang yang diterima lewat jalur itu – uang/sogokan)”, tambah beliau.

Yen diut sek ngomong, kualitas wis nomor sekian (Kalau uang yang bicara, kualitas jadi pertimbangan kesekian)” tambah beliau lagi.

Waktu aku benar-benar memahami apa yang beliau maksudkan. Proses rekruitmen polisi memang terkenal banyak celahnya. Ada isu permainan uang. Berdasar pengalaman pribadi, pernah juga temanku mendapat tawaran masuk kepolisian dengan menyetorkan jumlah uang yang mencapai ratusan juta.

Membenahi Polisi Harus Pelan-Pelan

Ngobrol santai tapi seriusku dengan beliau terus berlanjut meskipun sudah tidak lama lagi. Kulihat pria itu nampak ingin berjalan-jalan keliling pasar lebih jauh lagi.Nah, aku coba tanya ke beliau apa yang bisa kita lakukan untuk membetulkan citra kepolisian.

Kuwi proses mas. Ora isoh cepet. Polisi emang ono sek becik tapi akeh sek ala (Itu proses mas. Ga bisa cepet. Polisi memang ada yang baik tapi banyak juga yang kurang baik)”

Nek pengen cepet yo wong-wong sek mlebu nggo duit kudu diguwang. Bayangno ae bakalan ono pirang wong sek ilang seko kepolisian. Praktek iki ra gur akhir-akhir iki lho (Kalau pengen cepat ya orang-orang yang masuk menggunakan duit harus mengalami pencopotan. Bayangin aja berapa orang yang ilang seko kepolisian. Praktek seperti ini – uang sogokan – nggak cuma akhir-akhir ini)”

Solusine yo dandani proses rekruitmen e. Ojo ngasi ono duit meneh. Kuwi ra gampang. Kudu alon-alon. Musuhe akeh (Solusinya ya proses rekruitmenya diperbaiki. Jangan ada permainan uang lagi. Harus pelan-pelan. Lawannya banyak)”, kata beliau.

Praktek Uang Sogokan Bukan Cuma di Kepolisian

Praktek uang sogokan sepetinya menjadi problem di semua lini. Baik swasta maupun instansi pemerintah. Saat aku ikut membantu sebuah pelatihan yang berurusan dengan salah satu bagian dari penjaga keutuhan Indonesia aku menemukan praktek yang sama. Saat itu ada beberapa orang yang menawarkan sejumlah uang kepada pelatih yang aku bantu agar memasukkan anaknya ke instansi itu. Bahkan jumlahnya sampai miliaran, entah berapa 0 di nominal itu.

Yaa… kalau saya pikir pikir masalah ini memang merepotkan. Bahkan pensiunan pun mewajarkan apa yang terjadi seakan memang kita harus menerima polisi yang seperti ini.

Lagipula sebenarnya polisi juga sedang berada di dua kubu. Mereka yang seenak jidatnya sendiri, dan ada beberapa yang sedang pusing membenahi citra polisi di masyarakat. Akupun setuju kalau nggak semua polisi itu seperti yang kita dan warganet lihat.

Baca juga :
Jaman Kalian, Lebih Mending Dari Jaman Kami Dek!

Ulasan Year of The Dragon : Kontroversi Mafia Tionghoa

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini