Bahaya Polusi Cahaya yang Patut Kita Waspadai

Waktu Baca: 3 menit

Dari berbagai macam polusi yang kalian pelajari di bangku sekolah, pernahkah kalian mendengar tentang polusi cahaya? Yup, polusi cahaya, atau bisa dikenal dengan nama light pollution, adalah jenis polusi yang dekade ini menjadi perhatian masyarakat internasional, terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Cina, dan Korea Selatan. International Dark-Sky Association (IDA) menyebut bahwa terlalu banyak negara yang memiliki masalah polusi cahaya diakibatkan oleh majunya kehidupan manusia dari segi industri, pembangunan, dan teknologi.  Penambahan titik cahaya artifisial yang terlalu banyak dalam satu area bisa menjadi pemicu bahaya polusi cahaya. Meskipun bahaya dari polusi cahaya tidak sejelas polusi udara, tetapi efeknya dapat mempengaruhi  kehidupan manusia dan hewan.

Apa itu Polusi Cahaya?

Polusi cahaya adalah fenomena di mana suatu area memiliki intensitas cahaya artifisial yang berlebihan sehingga menjadi polusi langit malam. Efeknya, masyarakat yang tinggal di daerah tersebut tidak dapat melihat titik-titik bintang di langit. Ini karena lapisan cahaya artifisial menutupi penglihatan manusia sehingga cahaya bintang terhalangi.

Tipe-tipe Polusi Cahaya

Ada empat macam polusi cahaya, yaitu glareskyglowlight trespass, dan clutter. Glare merujuk ke intensitas tinggi sebuah cahaya artifisial yang mengganggu kenyamanan penglihatan manusia. Skyglow adalah semburat cahaya yang dihasilkan dari berbagai macam sumber pencahayaan artifisial yang mana jika diamati dari tempat jauh memberikan kesan pencahayaan ke langit malam. Selanjutnya, light trespass merujuk ke cakupan cahaya artifisial di daerah sekitar sumber utama, seperti cahaya lampu jalan yang masih mengenai area yang berjarak beberapa meter. Sementara itu, light trespass dianggap merujuk ke pembuangan energi cahaya karena biasanya mengenai area yang tidak diinginkan atau diperlukan. Terakhir, clutter adalah kumpulan sumber cahaya artifisial yang terlalu cerah dan dapat menimbulkan efek bingung bagi indera penglihatan manusia yang melihatnya langsung. Para supir kendaraan di malam hari sering mengalami clutter ini.  

Baca juga : Deforestasi itu Perlu

Apakah Polusi Cahaya Berbahaya?

Seperti namanya, polusi cahaya tentu saja memberikan dampak bagi kehidupan manusia dan hewan. Intensitas tinggi dan konstan dari cahaya artifisial dapat mengganggu ritme sirkadian manusia sehingga dapat mempengaruhi jam tidur alami. Selain itu, produksi hormon melatonin yang biasa terjadi di bawah kondisi tanpa cahaya saat manusia tidur juga dapat terganggu, lho! Bagi kehidupan hewan, dampak polusi cahaya juga gak bisa kita anggap sepele. Cahaya artifisial yang terlalu terang dapat memberikan ilusi seolah cahaya tersebut adalah cahaya alami. Alhasil, waktu perkembangbiakan hewan dapat terganggu, mulai dari perubahan jam malam untuk hewan nokturnal, reproduksi serangga, migrasi burung dan kura-kura, sampai waktu berburu hewan pun tak luput dari dampak polusi cahaya ini.

Selain itu, polusi cahaya juga mengganggu pekerjaan para pengamat bintang di malam hari. Seperti yang sudah saya bahas di awal bahwa intensitas cahaya artifisial dapat menutupi penglihatan manusia ke langit malam, terutama bintang. Hal ini pun berpengaruh ke proses pengamatan langit malam bagi beberapa pengamat bintang akibat adanya jejak cahaya artifisial di kejauhan atau skyglow.

Beberapa Negara Maju Sudah Mulai Bergerak

Polusi cahaya adalah masalah serius yang perlu mendapat perhatian penuh. Meskipun jenis polusi ini tidak sepopuler yang lain, seperti polusi udara dan air, beberapa negara sudah mulai terbuka dan berinisiatif untuk memulai gerakan menurunkan level polusi cahaya. Di Tucson, Arizona, lampu LED dengan pengaturan waktu mulai menggantikan penggunaan lampu jalan yang biasa menggunakan energi sodium bertekanan tinggi. Jam pencahayaan kota pun juga tak luput dari rombakan. Untuk waktu sore sampai tengah malam, pemerintah Tucson menggunakan energi pencahayaan hanya sampai 90%. Sedangkan energi 60% digunakan untuk waktu tengah malam sampai matahari terbit. Pittsburgh juga melakukan gerakan yang sama dengan mengganti 35 ribu lampu jalan energi sodium bertekanan tinggi ke lampu LED yang memiliki temperatur lebih rendah, berdaya rendah, dan berwarna oranye-kuning.

Kita Bisa Mulai Dari Rumah

Apapun perubahan yang ingin kita lakukan, mulailah dari diri sendiri. Jika kita ingin berpartisipasi dalam gerakan membebaskan langit dari serangan polusi cahaya, lima prinsip pencahayaan dari IDA bisa kita terapkan nih, yaitu useful (berguna), targeted (tepat sasaran), low light levels (minim cahaya), controlled (terkontrol), dan color (warna). Pertama, pastikan semua lampu yang terpasang di rumah, terutama di daerah luar atau outdoor, memiliki kegunaan yang jelas dengan memperhatikan efek yang bisa ditimbulkan ke lingkungan sekitar. Selain itu, cahaya lampu harus mengenai area yang memang kita perlukan. Dalam hal ini, tudung lampu bisa kita pakai untuk meminimalisir cahaya terurai ke daerah yang tidak kita butuhkan. Lalu, gunakan lampu dengan intensitas cahaya yang rendah tapi cukup. Kita juga bisa menggunakan lampu dengan sensor cahaya maupun sensor gerak. Terakhir, sebaiknya kita memilih warna lampu berdasar warna amber atau keoranyenan ketimbang lampu berdasar cahaya biru atau violet.

Tanpa kita sadari, pencahayaan artifisial di lingkungan sekitar yang terlalu berlebih berkontribusi ke munculnya jenis polusi baru ini. Kota-kota besar di dunia, seperti Jakarta, Seoul, Shanghai, dan New York terindikasi memiliki tingkat polusi cahaya yang bahaya. Dampaknya pun tidak terbatas untuk kehidupan manusia, tapi juga untuk kehidupan satwa liar yang hidup berdampingan dengan kita.

Yuk, gunakan lampu seperlunya saja!

Diyana Salimovna
Diyana Salimovna
Mahasiswi pendidikan bahasa Inggris yang suka menulis.

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Advertisment

TERKINI