Waktu Baca: 2 menit

Dampak pandemi ternyata tidak hanya dirasakan oleh sebagian kalangan masyarakat di Indonesia. Selain dampak ekonomi, dampak sosial juga dirasakan oleh kalangan waria. Kaum wanita pria atau yang dikenal dengan sebutan waria kerap menjadi bulan-bulanan masyarakat. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang belum bisa menerima keberadaan kaum waria di tengah-tengah kehidupan bersama. Termasuk juga dengan adanya pondok pesantren waria. Lantas, bagaimanakah tanggapan kaum waria sendiri mengenai problematika ini? Yuk, kita simak artikelnya!

Dari Diskriminasi ke Toleransi

Menjadi seorang waria tentu menjadi salah satu pilihan hidup yang paling tegar. Memilih untuk melanjutkan hidup sebagai sosok yang dibenci oleh masyarakat tentu bukan pilihan yang mudah. Kehidupan yang dijalani pun menjadi makin rumit ketika keputusan untuk memerdekakan perasaan ini tidak dianggap oleh masyarakat luas. Shinta Ratri, sebagai salah satu perwakilan dari kaum waria menyampaikan keluh kesahnya tentang masyarakat yang masih kurang terbuka soal keberadaan kaum waria. “Hidup sebagai waria bukan sebuah pilihan ya, melainkan sebuah takdir yang kami jalani.

Penerimaan masyarakat pun berbeda dari zaman dahulu, dan waktu sekarang”. Sebagai kaum waria, Shinta merasa bahwa penerimaan masyarakat jauh lebih terbuka saat dirinya masih muda dahulu. Semakin berkembangnya zaman, penerimaan kaum waria di masyarakat malah semakin sulit. Masyarakat cenderung menutup diri dan mengatasnamakan agama dalam tiap permasalahan yang menganut kaum waria.

“Bahkan kami sebagai kaum waria, merasakan diskriminasi ini karena kami waktu itu sampai dilarang untuk menjalankan ibadah,” ujar Shinta. Dirinya mengaku, bahwa sejak isu LGBT diangkat di tahun 2016, dia dan kaum waria merasakan diskriminasi yang begitu kejam dari masyarakat. Masyarakat menilai bahwa kaum waria ini tidak layak dan tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah karena identitasnya yang dianggap melenceng. Lebih lagi Shinta juga menjelaskan bahwa sejak isu LGBT mulai diangkat kembali, tindakan-tindakan sepihak yang dilakukan oleh masyarakat semakin menjadi-jadi.

Pesantren Waria: “Kami ingin kaum waria mendapatkan hak yang sama,”

Sebagai ketua Pondok Pesantren Waria, Shinta merasa perlu sekali untuk menggalang dukungan publik demi memperjuangkan hak kaum waria. Dirinya sendiri bergerak di banyak bidang sosial dan masyarakat. Dalam membimbing teman-teman di pondok pesantren, Shinta pun tidak lepas dari bantuan masyarakat seperti pemuka agama setempat hingga mahasiswa yang secara sukarela terlibat untuk membantu. Shinta juga mengaku bahwa tujuan dibukanya Pondok Pesantren ini adalah untuk menjadi wadah berkembang bagi kaum waria sehingga mereka tidak merasa dikucilkan di masyarakat. Selain pembinaan dalam bentuk rohani, kaum waria yang berada di pondok pesantren juga diberikan banyak pengajaran atau kursus untuk menambah skill mereka seperti membuat lilin aroma terapi, berkebun, dan masih banyak lagi.

Selain membina teman-teman kaum waria, Shinta juga memperluas koneksi melalui partisipasinya dalam berbagai organisasi dan elemen masyarakat. “Sejak kejadian tahun 2016 itu, kami memutuskan untuk terlibat dalam KBB atau korban kebebasan beragama, dan bergabung dengan teman-teman minoritas penganut kepercayaan yang lain,” ujar Shinta. Baginya, untuk memperluas koneksi dengan elemen masyarakat, nantinya hal ini akan lebih mudah untuk kaum waria dapat diterima kehadirannya ditengah masyarakat.

Selain akademisi, Masthur salah seorang sahabat yang juga terlibat secara langsung dalam kehidupan kaum waria, juga merasa bahwa penerimaan kaum waria di masyarakat masih sangat minim. Banyak sekali masyarakat yang berpikir konservatif dan hal ini menjadikan diskusi tentang keberagaman sangat terbatas pada stigma-stigma tertentu. “Budaya itu tidak ada yang mendiskriminasi kaum waria, karena kelahiran kaum waria itu nyata, dan itu realita sosial” ujar Shinta. Lebih lagi dirinya juga mengatakan bahwa masyarakat yang masih sulit untuk menerima keberadaan kaum waria sebetulnya lebih dekat dengan penafsiran agama yang dia nilai lebih konservatif. 

Penerimaan masyarakat terhadap kaum waria bukan lagi menjadi problem yang bisa ditunda penyelesaiannya. Sebagai masyarakat yang netral, penting untuk kita menghargai keberagaman yang ada. Kaum waria bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang harus kita hargai sebagai satu kesatuan masyarakat yang berbhineka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini