Waktu Baca: 4 menit

Kalau mau jujur, percaya gak kalau PSSI itu gak tahu ada pengaturan skor di Liga 1 Indonesia? Saya sangsi. Kenapa? Karena toh indikasinya banyak banget. Ada wasit yang tahu tahu buta aturan offside. Lalu, ada pemain yang tiba tiba bikin gol bunuh diri konyol. Ada blunder yang bahkan anak SD aja gak mungkin sesalah itu kalau main bola. Banyak indikatornya. Dan selama ini kalau ada yang protes, PSSI seringkali pasif. Nah, begitu Mata Najwa membawa sosok wasit Y ke permukaan (sebelumnya hidup di dasar laut match fixing soalnya), PSSI kebakaran jenggot dan badannya sekalian. Bahkan, di perkembangan terakhir, PSSI tuntut Mata Najwa dengan dalih bahwa mengungkap identitas siapa wasit Y adalah untuk kepentingan bersama.

Buat saya ini permintaan konyol. Wasit Y adalah sedikit wasit yang mempunyai nurani. Ia mau menceritakan kebobrokan sepakbola Indonesia. Kalau tidak ada wasit Y, bagaimana kita bisa tahu kalau ada match fixing? Seharusnya ya PSSI sudah nuwun dan mengucapkan terima kasih ada maling yang mau memberitahu mereka bahwa dia bakal mencuri. Sisanya ya PSSI harus cukup cepat untuk mencari pelaku match fixing. Kan gitu? Bukan terus ada orang yang udah mau berkorban malah mau disikat. Atau ada kepentingan lain? He..he..entahlah pak.

Solusi Match Fixing Indonesia

Sebenarnya jengah juga melihat acara Mata Najwa mengangkat kasus PSSI. Sudah enam kali bung. Ibarat kerja di perusahaan saja tiga kali udah harus keluar. Ini enam kali bos! Harusnya ya PSSI agak merasa gimana gitu juga ya. Apakah di PSSI tidak ada SDM yang bisa membantu menyelidiki match fixing? Atau mereka selalu berpikiran positif bahwa seaneh apapun pertandingan itu semata karena wasit khilaf saja? Ya sebaiknya PSSI mulai mengembangkan sikap curigaan dan paranoid. Lha nyatanya udah enam kali disikat Najwa Shihab. Emang jadi kesel juga sama Najwa, tapi langkah PSSI tuntut Mata Najwa itu tidak membuat kagum para penikmat bola Indonesia. Yang ada, mereka tambah kesel sama PSSI.

Okelah, kalau PSSI kesel dengan Mata Najwa terus solusinya apa? Ini ‘kan yang PSSI mau? PSSI kesel karena ditegur mulu, mbok ya ngasih solusi. Oke, sebenarnya solusinya gampang. Yang pertama adalah perbaiki dulu perangkat pertandingan. Bikin kerjasama dengan DPR, buatlah UU yang keras terhadap para pelaku match fixing. Hukumannya jangan sebatas sanksi disiplin tapi juga sanksi pidana. Inilah yang Vietnam lakukan dengan mengirim para pelaku match fixing tahun 2005 ke penjara. Kalau sudah ancamannya penjara, pasti perangkat pertandingan akan berpikir pikir lebih panjanglah kalau mau match fixing.

Itu satu solusi. Tenang masih ada solusi lainnya.

Ubah Sistem Liga

Match Fixing terjadi karena banyak pemain kesulitan keuangan dan banyak klub berusaha mempertahankan eksistensinya dengan segala cara di level teratas. Nah, karena itu solusi yang ada ya gimana caranya supaya kesulitan keuangan gak ada dan level stress manajemen menjaga klub eksis itu agak berkurang. Salah satu caranya adalah dengan mengubah sistem liga.

FYI, sistem liga di Indonesia sebenarnya sangat tidak pas dengan kenyataan kita sebagai negara kepulauan. Lha iya, sistem satu musim penuh ini menyebabkan biaya yang tinggi dan kelelahan pemain karena harus melakukan travelling panjang untuk pertandingan home and away. Sudah begitu, resiko degradasi yang tambah bikin rugi juga membuat klub klub stress.

Lha itu Spanyol bisa model satu musim penuh!

Ya bisa, karena Spanyol adalah negara yang wilayahnya jauh lebih kecil dari kita. Sudah begitu kebanyakan pertandingan tandang dan kendang bisa tertempuh dengan perjalanan darat. Kita kan enggak.

Nah, di Indonesia mending enggak ada tuh sistem degradasi, serius. Lebih baik membuat sistem seperti MLS. Klub klub bola yang ada harus membuktikan diri dengan dokumen legal dan keuangan untuk membuktikan bahwa mereka benar benar profesional untuk ikut MLS versi Indonesia. Kemudian, klub klub bola dibagi berdasar wilayah yang lebih kecil. Misalnya ya kayak Jawa bagian Timur-Tengah (maksudnya Jawa timur, Jawa tengah, Jogja, Bali de el el). Ini jadi tuh satu grup. Entar mereka tanding, terus yang menang masuk play off. Dimana mereka ketemu pemenang grup bagian Jawa Barat-Sumatra, Sulawesi dan Papua.

Gak perlu ada degradasi. Yang penting tim bisa membuktikan bahwa mereka layak bertanding di MLS versi Indonesia. Nah, tim yang corat marut keuangan dan manajemennya nanti bisa di down grade untuk digantikan tim lain. Sistem ini ada dua keuntungan: satu memotong biaya operasional klub untuk perjalanan sehingga bisa mensejahterakan masyarakat dan kedua juga menjaga kesehatan mental pemain dan manajemen. Kenapa? Pemain jadi gak perlu stress perjalanan jauh, pengurus manajemen juga gak stress khawatir bakal mengalami degradasi.

 Komersialisasi Sepak Bola

Iya, seru banget melihat pertandingan bola di Indonesia karena supporternya banyak. Tapi anehnya, dengan suporter sebanyak itu, klub Indonesia sering mengalami kesulitan finansial. Kocak! Ya soalnya sering kita melihat penonton bola masuk gak bayar tiket dan ngerusak fasilitas klub. Gak heran juga karena banyak dari mereka berasal dari kelas menengah ke bawah dan kurang berpendidikan. Mereka memang asyk untuk meningkatkan atmosfer pertandingan, tapi enggak membawa keuntungan material. Yang bisa memberi keuntungan material ya yang dari kaum menengah ke atas.

Sayangnya, yang menengah ke atas yang punya duit takut nonton bola karena gak aman.

Gimana mau untung dari klub bola kalau begitu keadaannya? Ini PSSI daripada tuntut Mata Najwa mending studi banding ke Premier League. Tapi gak usah ke Inggris juga pak, orang di internet datanya lengkap. Ya, masalah Inggris waktu itu 11-12 lah sama Indonesia. Cuman ya dengan usaha komersialisasi sepakbola yang terarah, masalah hooligans ini bisa teratasi. Selanjutnya, jangan sampai sanksi ke suporter itu hanya sebatas sanksi ke klub. Ini namanya mah lepas tanggung jawab doang. PSSI harus mencari oknum oknum dan pentolan suporter yang suka jadi biang kerok. Hukumannya ya yang keras biar kapok. Masukkin penjara atau larang masuk stadion seumur hidup kalau perlu.

Artinya gini, dalam usaha komersialisasi ini. Penonton yang bisa bawa atmosfer harus diatur dengan cara subsidi tiket atau mendapat penempatan posisi di stadion yang agak terisolasilah biar gak bikin rusuh. Kemudian orang orang menengah ke atas harus mendapat escort yang cukup sehingga mereka mau memadati stadion, bawa keluarga dan bawa untung ke klub bola.

 

Kesimpulan

Nah, match fixing ya mengaturnya begitu, pencegahan yang ketat serta menyelesaikan masalah ke akarnya yaitu kebutuhan ekonomis bukan dengan ngejar ngejar Najwa. Ibarat penyakit, Najwa and the gank ini dokter yang menunjukkan lokasi penyakitnya. Sisanya ya bagi pasien untuk memilih yang terbaik untuk dirinya bukan dengan nyalahin dokternya. Kan gitu? Semoga drama PSSI tuntut Mata Najwa ini tidak terulang lagi. Cao!  

Baca juga :
Cristiano Ronaldo Masalah MU? GOAT kok Gitu?

Netizen Indonesia Rasis, Kok Bisa Gitu Ya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini