Waktu Baca: 4 menit

Sampah sudah menjadi momok tersendiri di setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Negara kita ini bahkan pernah mendapat teguran secara internasional atas kurangnya perhatian dan manajemen sampah. Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam pidatonya di forum COP26, mengungkapkan misi Indonesia untuk menekan jumah sampah sampai 70% di tahun 2025. Sekilas, hal ini cukup terdengar menjanjikan, tapi siapkah masyarakat Indonesia bergotong royong untuk mewujudkannya? Kapan, sih, negara tercinta kita ini bebas dari fenomena yang bernama polusi sampah terutama sampah menggunung yang mengganggu penciuman dan kesehatan?

Di Balik Kisah Cinta Masyarakat Indonesia dan Plastik

Di antara pembaca setia pakbob.id, siapa nih yang tidak memiliki barang berbahan plastik di rumah? Pasti punya, dong! Bagi masyarakat Indonesia, move on dari plastik sangatlah sulit. Bahan satu ini hampir bisa ditemukan di semua rumah di Indonesia, contohnya adalah peralatan makan dan minum, masak, mainan, sampai kecantikan. Seperti yang dilaporkan oleh Forbes, 80% sampah di laut berasal dari plastik dan mereka adalah kantong plastik, botol plastik, tempat makan plastik, dan peralatan makan plastik. Wah, banyak juga ya jenisnya!

Tapi, kenapa sih kita gak bisa move on dari plastik? Penulis buku Menuju Rumah Minim Plastik, DK Wardhani, atau akrab dipanggil dengan nama Dini, mengungkapkan alasan-alasan mengapa masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan plastik, yaitu praktis, murah, dan terlihat higienis. Plastik memang bahan paling praktis yang bisa kita temui. Bobotnya yang relatif lebih rendah dibandingkan bahan lain membuatnya gampang untuk dibawa ke mana-mana dan alhasil barang plastik menjadi primadona di kalangan masyarakat.

Plastik juga memiliki harga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan barang serupa dari bahan lain. Nilai praktis dan murah inilah yang menambah kecintaan masyarakat Indonesia, membuat kita sulit untuk sepenuhnya lepas dan beralih ke bahan lain. Selain itu, Dini menambahkan jika barang berbahan plastik dapat memberi kesan ‘higienis’ bagi pengguna.

(Belum) Terbiasa dengan Budaya Membuang Sampah pada Tempatnya, Bukan Memilah Sampah

Slogan ‘Buanglah Sampah Pada Tempatnya’ pasti tak asing di telinga kita. Tulisan berjumlah empat kata ini sering kita temui di tong sampah yang ada di sekitar rumah dan tempat umum seperti taman kota. Namun, seberapa besar slogan tersebut dicetak oleh pemerintah, nampaknya beberapa masyarakat Indonesia akan tetap enggan untuk sekedar berjalan ke tong sampah dan membuang bungkus sisa makanan, misalnya, ke tong tersebut. Metode ringkas yang sering terlihat adalah melempar sampah ke tong dan mengaktifkan mode ‘Emang Gue Pikirin’ jika sampah tersebut gagal masuk.

Membuang sampah pada tempatnya saja gagal untuk dipraktekkan, apalagi memilah sampah. Hah? Memilah sampah? Emang perlu?

Jawabannya: Ya perlu, dong! Fungsi pembagian sampah menjadi sampah organik, anorganik, dan B3 tentu ada alasannya. Siklus penguraian sampah organik berbeda dengan sampah anorganik. Dini menyenggol absensi edukasi memilah sampah di masyarakat Indonesia ini. Tujuan dari kegiatan memilah sampah tidak hanya mengurangi beban pekerja pembuang sampah, tapi juga dapat meminimalisir tumpukan sampah dan mengurangi polusi udara.

Ada Peraturan Tapi Minim Eksekusi

Ada beberapa hal yang Dini sayangkan tentang manajemen sampah di Indonesia. Pertama, kita punya regulasi tentang pengelolaan sampah tapi itu hanya sebatas hitam di atas putih. Dengan kata lain, ada peraturan tapi tindakan nyata masih buram. Kedua, sistemnya belum jelas. Peraturan tanpa prosedur akan tak membuahkan hasil karena keduanya merupakan landasan untuk bertindak dan mengembangkan keadaan yang ada. Ketiga, fasilitas pengelolaan sampah masih sangat kurang. Saya mengakui poin yang diberikan ini dan melihat dengan nyata bahwa fasilitas untuk mengelola sampah di Indonesia masih terbilang tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain, contohnya di Jerman yang memiliki manajemen sendiri terkait sampah botol plastik dan gelas.

Selanjutnya, edukasi tentang sampah juga hanya sebatas formalitas. Kita semua pasti pernah belajar tentang macam-macam sampah, tapi apakah kita yakin ilmu yang dipelajari tersebut benar-benar kita terapkan di kehidupan sehari-hari? Jujur, saya belum sepenuhnya menerapkan ilmu yang saya dapatkan tentang sampah tersebut dan hanya sebatas mampu membuang sampah pada tempatnya. Hal inilah yang mengusik pikiran Dini: pengetahuan dan awareness tentang sampah hanya stop di buku pelajaran saja. Kalau begini, kita sama saja belajar teori tanpa praktik, yang mana kedua hal tersebut sangat penting dan harus diikuti agar ilmu yang didapat benar-benar menyerap di jiwa kita.

Ada Harapan di Masa Depan, Gak?

Hm… Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Jika kita mencoba berpikir positif dengan fenonema lingkungan saat ini, kata ‘ya’ sepertinya cukup untuk mewakili perasaan kalut kita semua. Tapi eh tapi, kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Kesadaraan, ilmu pengetahuan, fasilitas, dan komitmen adalah empat hal yang masih minim kita telusuri di diri masyarakat Indonesia tentang sampah.

Kita masih enggan untuk sekedar mengingatkan ke sesama untuk membuang sampah di tong sampah yang tepat. Selain itu, kita masih enggan mengelola secara mandiri sampah rumah tangga. Jangan lupa juga, kita masih enggan membawa botol minuman dan wadah sendiri jika ke luar. Dan kita masih enggan untuk sadar bahwa negara tercinta Indonesia saat ini sedang darurat sampah. Seperti yang saya singgung di awal, untuk menghapus label ‘negara dengan pengelolaan sampah terburuk’, kita harus bekerja sama untuk mewujudkannya—tidak cuma manis di mulut saja, tapi perlu ada tindakan nyata.

Ingat, Bumi adalah rumah kita bersama. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan adalah hal dasar yang wajib kita tanam. Selain itu, tindakan nyata tanpa omong kosong pun juga musti kita lakukan dan biasakan jika kita memang ingin negara Indonesia bebas sampah. Jangan cuma karena rasa jijik kita menjauh dari yang namanya sampah. Toh, yang membuat ulah dengan menghasilkan sampah kan kita sendiri.

Kalau tidak dari sekarang, mau kapan? Gak mau, kan, nunggu Indonesia tenggelam oleh gunung sampah dulu baru sadar?

Sumber Gambar : Ayo Bekasi!

Baca juga :
Marketing S3 : Bad Marketing is a Good Marketing

Memulai Meramban, Menjadikan Gulma Sebagai Teman

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini