Waktu Baca: 3 menit

Ada mitos mengatakan, masuk UGM susah, keluar UGM gampang. Susahnya masuk UGM karena harus bertarung dengan ribuan pesaing untuk bisa lolos SBMPTN / SNMPTN. Gampangnya keluar UGM, karena asal bikin skripsi aja pasti lulus. Tapi sekali lagi, itu cuma mitos. Ada yang membuktikan mitos itu benar, tapi ada pula yang nasibnya macet di skripsi bersemester-semester. Kalo urusan skripsi sudah berulang tahun semester, apalagi lebih dari 2 semester, rasa insecure bisa muncul. Mahasiswa jadi ogah muncul di kampus, takut jadi insecure karena tahu temannya sudah ujian pendadaran, sementara dirinya sendiri baru revisi proposal. Tapi kalo nggak ke kampus, rugi juga. Udah bayar UKT mahal, mosok tidak memanfaatkan fasilitas kampus? Maka strategi yang biasa dipakai adalah cari tempat di UGM yang sekiranya di situ jarang ketemu temen satu program studi. Nah, perpustakaan pusat UGM adalah salah satu tempat favorit, yang menurut saya itu sudah jadi tembok ratapan bagi mahasiswa skripsian. Bahkan saya pernah mendengar ada suara tangisan perempuan di siang hari, di dalam perpustakaan UGM. Kok bisa?

Baca juga : Susahnya Mengajak Anak UGM untuk Bangga dengan Almamater

Lokasi Tersembunyi

Kalo dari Tol Dalam Kampus alias Jalan Persatuan, perpustakaan ini kelihatan jelas. Ada di utara Graha Sabha Pramana, terlindungi dengan rimbunnya hutan kampus milik Fakultas Kehutanan. Sebetulnya ini tempat juga bisa bikin insecure mahasiswa skripsian, apalagi kalo datang ke perpustakaan pusat sekitar tanggal 19 dan di hari Selasa-Kamis. Mengapa? Itu adalah tanggal favorit kampus untuk menggelar wisuda. Bayangkan, kamu naik motor melintasi GSP dan melihat orang-orang mengenakan toga plus samir miring, sementara nasib skripsimu baru sampai bab 2. Asli, bikin minder.

Ada beberapa pilihan favorit tempat di perpustakaan pusat untuk buka laptop dan mulai mengetik skripsi. Bisa di lantai 1, lantai 3, atau lantai 4. Atau mungkin juga buka laptop di selasar. Yang penting di situ ada meja, kursi, dan colokan. Apakah ke perpustakaan berarti kita akan buka koleksi buku? Oh belum tentu. Bahkan mungkin jarang. Toh jurnal online bisa kita unduh dari mana saja. Kalau tidak ingin berpapasan dengan teman, pilih aja meja yang paling ujung, yang kecil kemungkinannya dilalui orang lain.

Pecah Tangis di Siang Bolong

Suatu ketika di perpustakaan pusat (jaman sebelum COVID), saya asyik surfing jurnal online sambil mendengarkan musik. Adat istiadat di perpustakaan yang wajib kita taati adalah jaga keheningan. Tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis. Ini bukan hantu, karena kejadian jam 2 siang. Rupanya ada mahasiswi menangis. Sementara mahasiswa lainnya tidak beranjak dari kursi untuk menenangkan si mbak itu. Saya mencoba mencerna, mungkin itu salah satu adat di perpustakaan. Ya, mungkin si mbak itu stres karena beban kuliah, atau pikiran macet ketika bikin skripsi. Tetapi sebetulnya kalo tiba-tiba terdengar suara tangisan itu adalah peristiwa biasa-biasa saja di perpustakaan UGM. Hari-hari berikutnya saya juga beberapa kali menemukan peristiwa yang serupa. Menangis boleh, asal jangan berisik. Tidur boleh, asal nggak ngorok dan makan tempat duduk orang lain.

Fasilitas yang Wajib Kamu Kunjungi sebagai Anak UGM

Berapapun UKT mu, kalo kamu sepanjang masa kuliah belum pernah mencecap bangku perpustakaan pusat UGM, maka kamu termasuk golongan orang yang merugi. Perpustakaan pusat itu simbol akademis yang paripurna di UGM. Di perpustakaan, kamu akan ketemu dengan berbagai macam orang yang tidak kamu kenali asal jurusan dan prodi nya. Kamu nggak perlu minder buat datang ke sana hanya karena kamu baru petama kali masuk perpustakaan. Ikuti saja adat istiadatnya, maka kamu bisa menikmatinya.

Soal koleksi literatur, ada puluhan ribu buku fisik maupun digital. Tapi kalo bicara detail topik buku, koleksinya masih kalah dengan perpustakaan di masing-masing fakultas. Perlu kamu tahu, perpustakaan pusat itu tidak sama dengan perpustakaan fakultas digabungkan jadi satu. Perpustakaan pusat berarti wahana belajar literatur yang paling lengkap tema nya untuk konteks studi perguruan tinggi. Maka perpustakaan pusat jadi salah satu indikator tingkat keakademisan suatu kampus.

Di masa pandemi, beberapa aturan berkunjung sudah beda dengan jaman sebelum pandemi. Kamu tetap bisa berkunjung, tapi perlu mendaftarkan diri dulu secara online. Syarat utama, kamu terdaftar sebagai mahasiswa UGM, entah S1, S2, S3, atau Sekolah Vokasi. Untuk pengunjung dari kampus lain maupun alumni, tidak bisa. Maka dari itu, menikmati perpustakaan pusat adalah privilege tersendiri.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini