Waktu Baca: 3 menit

Udah sering banget kita dengar dari mulut orang-orang, bahwasanya makhluk cowok itu nggak boleh nangis. Cowok nggak boleh cengeng, cowok harus bertanggung-jawab. Orang-orang menciptakan daftar karakter yang jadi kekhasan cowok, serta daftar karakter yang jadi kekhasan cewek. Ketika ada cowok yang dianggap menerobos daftar karakter, maka dianggap tidak lakik, kurang maskulin.  Nah, itulah yang disebut sebagai Toxic Masculinity, yang rasanya menyebalkan. Ini jelas ada hubungannya dengan bias gender.

Cowok nggak boleh nangis

Satu pagi saya melihat seorang ibu muda yang berjalan dengan anak cowok. Melihat posturnya, mungkin itu bocah ada di rentang usia SD kelas 2. Keren juga, bocah memakai celana panjang motif army, dan kaos bergambar pesawat tempur. Entah kenapa si bocah ini menangis dan merengek. Dan…. reaksi ibunya adalah, “Eh, kamu cowok nggak boleh nangis, ya. Jangan cengeng lah. Jadi lakik, lah”. Gumam saya, lah cowok sama lelaki apa bedanya? Bukankah itu jenis yang sama, hanya beda istilah? Lagipula, Tuhan menciptakan kantung air mata untuk setiap umat manusia, bukankah itu memang untuk membuat kita menangis? Memangnya kelenjar air mata cowok lebih kecil ketimbang cewek, sehingga cowok nggak boleh dan nggak bisa menangis? Lagian, itu anak kecil lho. Bukankah wajar kalau anak menunjukkan reaksi emosi dengan menangis?

Toxic Masculinity ini menyebalkan. Orang lantas terobsesi untuk memaksa anak cowok mengikuti definisi tindakan cowok menurut perspektif dia sendiri. Kalo cowok tidak boleh menangis, apakah lantas cewek boleh dan harus menangis seenaknya? Bagaimana kalo ternyata si cowok ada dalam situasi hidup yang amat menyedihkan? Apakah dia nggak boleh menangis meratapi nasib?

Cowok harus bertanggung jawab

Dalam rekaman video peristiwa kisruh Mie Gacoan Kotabaru Jogja, ada beberapa abang ojek yang berteriak ke arah manajemen resto, “Lanang ki tanggung jawab! Nek ra wani tanggung jawab, mending dadi wedok wae, nganggo Rok!” (Cowok itu harus bertanggung jawab! Kalo nggak berani bertanggung jawab, jadi cewek aja, pakai rok!). Ungkapan kekesalan ini bukan barang baru. Di tengah isu konflik personal yang akan berujung pada perkelahian antara dua cowok, ujaran-ujaran semacam itu bisa saja muncul. Perkara sikap bertanggung jawab, bukankah itu adalah norma orang dewasa pada umumnya? Sejak kapan cowok harus lebih bertanggung jawab ketimbang cewek? Apakah lantas cewek punya hak privilege untuk tidak bertanggung jawab atas setiap tindakannya?

Lebih konyol lagi ketika sikap tanggung jawab diidentikkan dengan maskulinitas. “Jadi cowok yang gentle, dong!” Saya malah bingung. Orang mengira gentle berarti pemberani dan siap bertanggung jawab. Padahal gentle itu artinya lemah lembut. Gents, artinya memang cowok. Tetapi Gentle atau Gently bukan berarti sikap maskulin. Yah, kalo soal ini sih sebetulnya adalah fenomena orang ngomong sesuatu dengan lantang dan mantap, meski mereka nggak tahu artinya.

Cowok harus berani

Kita perlu sepakat bahwa keberanian adalah watak dasar manusia. Bahkan binatang pun juga keberanian. Maka soal pemberani-pengecut, itu nggak ada kaitannya sama cowok-cewek. Seorang cowok pengecut tidak berarti dia kehilangan maskulinitas. Sementara itu cewek yang pemberani tidak berarti dia tomboy atau kehilangan feminitasnya. Bukan berarti cewek punya privilege untuk jadi pengecut. Taruhlah misal, cewek yang mengalami kehamilan di luar pernikahan, dan ia bersedia mengandung hingga melahirkan si bayi, bukankah itu bentuk sebuah keberanian? Padahal dia bisa saja tiba-tiba mengambil pilihan untuk menggugurkan kandungan (dan banyak pula cewek yang mengambil jalan itu). Apakah lantas si ibu muda ini jadi bertambah maskulinitasnya karena ia berani mengambil resiko? Enggak juga.

Baca juga : Mempertahankan Unwanted Child, Bentuk Heroisme Perempuan

Misal pula seorang cowok yang tidak mau berkelahi secara fisik, lantas dikatakan pengecut. Ini juga absurd. Dalam konflik, perkelahian secara fisik itu soal pilihan strategi, sama seperti proxy war. Kalo dia sekadar mau menang konflik, bisa saja dia menciptakan proxy war dengan lawannya, tanpa ia harus berkelahi fisik. Berkonflik itu mungkin urusan keberanian. Tetapi berkelahi fisik atau dengan proxy war, itu hanyalah strategi saja. Tak ada urusan dengan keberanian dan sikap pengecut. Tapi ya itulah, toxic masculinity memang menyebalkan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini