Waktu Baca: 2 menit

Dalam karir politik Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama alias BTP, Lulung Lunggana adalah sosok yang penting. Bagaimana tidak penting? Dari Lulunglah Ahok mulai membuka front konflik dengan DPRD Jakarta. Konon katanya Ahok pernah mengatakan penertiban di Tanah Abang sulit karena ada beking preman di sana. Haji Lulung yang merupakan tokoh informal di Pasar Tanah Abang mengaku tak terima dengan pernyataan Ahok meski tidak menyerang langsung dirinya. Belakangan pernyataan Ahok tidak pernah ada buktinya. Jadi, darimana sumber berita pernyataan Ahok itu enggak jelas. Namun, perseteruan Ahok dan Haji Lulung tak terelakkan lagi.

Rivalitas Yang Mendewasakan

Dari Lulunglah Ahok belajar apa artinya pertarungan politik dan adu strategi. Ahok yang terkenal akan kemampuannya dalam mereformasi birokasi memang kerap gagal dalam politik. Ia sempat mencalonkan diri sebagai gubernur Bangka Belitung dan gagal. Ia juga sempat beberapa kali mencalonkan diri sebagai gubernur DKI Jakarta dan gagal. Ahok memang terlalu lurus untuk politik. Baru ketika Prabowo Subianto merekomendasikannya sebagai wakil Joko Widodo, Ahok menikmati kemenangan.

Namun euforia hanya berjalan sesaat. Ahok harus berhadapan dengan rival politik bernama Haji Lulung yang sejak kecil makan asam garam politik Jakarta. Berbeda dengan Ahok, Haji Lulung memiliki akar rumput yang kuat. Ia dianggap bisa membantu mendulang suara dengan cepat. Tak heran ia sempat pindah pindah partai karena ditarik sana sini. Ya, Haji Lulung punya pesona menarik dimana massa akan selalu mengikuti dirinya.

Ketika Ahok bertemu Lulung, Ahok menghadapi rival yang merupakan kebalikan total dari dia. Lulung sangat tradisional, konservatif dan pragmatis sementara Ahok eksploratif, agresif dan idealis. Pertarungan ini bagi beberapa orang bak cahaya dan kegelapan. Tak heran di media sosial sering terjadi perang argumen antara pendukung masing masing. Mereka pikir ini kebaikan v. kejahatan.

Namun, bagi saya ini adalah pertarungan yang mendewasakan. Ahok yang suka semaunya sendiri belajar realpolitik dari sosok bernama Lulung ini meski dengan bayaran mahal.

Harga Mahal Sebuah Pelajaran

Ahok dan Lulung mengorbankan banyak hal dalam perjalanan mereka meraih ‘kemenangan’ versi mereka. Ahok harus mendekam di penjara karena termakan permainan mindgames Lulung cs. Sebaliknya, Lulung harus meninggalkan partai yang ia cintai, PPP, demi mengalahkan Ahok.

Entah kenapa pertarungan di antara mereka bisa berdarah darah begitu. Barangkali ya sesederhana mereka ingin saling membuktikan diri. Dalam pandangan saya, harga yang mereka bayar kemahalan. Tapi, rivalitas sepanas ini layak rasanya untuk memainkan semua kartu yang ada.

Ahok Pasti Merasa Kehilangan

Banyak yang menghubungkan kematian Haji Lulung ketika Ahok masih menjabat komisaris utama Pertamina adalah kemenangan Ahok. Pendukung Haji Lulung bahkan ada yang bicara soal konspirasi bahwa Haji Lulung meninggal dengan tak wajar. Tapi, jujur saja, kematian bukanlah ukuran soal siapa yang menang dalam pertarungan ini. Pertarungan dan rivalitas yang indah bukan soal siapa menang dan kalah. Ini adalah soal bagaimana menikmati pertarungan tersebut.

Saya rasa Ahok pasti merasa kehilangan Haji Lulung. Haji Lulung adalah rival sekaligus ‘guru’ yang membantu Ahok berkembang dan belajar mengenai ilmu ilmu politik pada tingkatan hakekat yang sesungguhnya. Ya, suka nggak suka, berpolitik dan mengurus birokrasi bukanlah hal yang sama. Politik itu soal hak mengatur birokrasi, sementara mengatur birokrasi ya manajemen.

Tanpa Lulung tidak ada Ahok yang lebih bijak. Kepergian Lulung bak pensiunnya Ronaldo ataupun kepergian Valentino Rossi ketika rivalnya macam Messi dan Marc Marquez masih penasaran.

Selamat jalan Haji Lulung…

Baca juga :
Saat Partai Politik Menganut Asas Kekeluargaan Ya Gitu Deh

Pelecehan Seksual di Institusi Agama, Kenapa dan Bagaimana Menanggapinnya?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini