Waktu Baca: 2 menit

Di jagad Tiktok sedang hits keluhan anak-anak SMP soal kekuatiran mereka untuk bertambah dewasa. Mereka takut kehilangan masa kanak-kanak. Di benak mereka muncul beban pikiran tentang kewajiban membahagiakan orangtua, mencari nafkah, kesuksesan bekerja, dan bahkan tentang hidup berkeluarga. Ini bikin saya heran. Siapa sih yang ngajari mereka bahwa setumpuk pikiran itu adalah bagian dari tanggung jawab anak SMP? Bukankah itu tanggung jawab kita-kita yang umur 20 tahun ke atas? Kasihan sih, masih kecil tapi sudah tua, gegara anak SMP takut beranjak jadi dewasa.

Penuaan Dini

Mungkin kita sedang berhadapan dengan tren penuaan dini. Anak-anak berpikir layaknya hidup mahasiswa kuliahan, dan mahasiswa kuliahan berpikir layaknya pensiunan. Entah sudah beberapa tahun ini kita kerap melihat adegan bocil pacaran layaknya freshgraduate mau tunangan. Mungkin bagi kita, itu alay; panggil pacar baru sebagai ayah bunda, seminggu kemudian putus karena bosan. Tetapi kalo secara psikologis, ya memang anak-anak remaja itu sedang mencicipi pikiran orang-orang dewasa. Kalo masih TK dan SD, yang ditiru adalah peran pekerjaan (misal masak-masakan, rumah-rumahan), ketika beranjak SMP, yang ditiru adalah pikiran orang dewasa (misal pacaran, tunangan, pernikahan, bekerja cari uang). Eh, jangan-jangan di antara kita dulu waktu kecil punya pengalaman serupa?

Baca juga : Perempuan Menikah Setelah SMA, Nasib atau Tren?

Masa Sekolah itu Puncak Kegembiraan Hidup

Sejak jaman ayah ibu kita masih pacaran, sudah ada lagu yang menggambarkan bahwa masa SMP-SMA adalah masa yang super indah. Nikmatnya jatuh cinta, lucunya pedekate, gembira bertualang bersama teman-teman sekolah. Bahkan kalo pun ada yang terpaksa sekolah sambil bekerja untuk membantu keuangan orangtua, itu sama sekali tidak menghilangkan kegembiraan di masa sekolah. Tapi satu sisi, memang hidup itu wang sinawang. Kita yang udah dewasa melihat bahwa masa sekolah itu menyenangkan. Sementara anak SMA melihat bahwa masa SD itu menyenangkan, sekaligus bermimpi bahwa masa kuliah itu penuh kebebasan. (Haha…. ngayal, deh!) Sedangkan anak SD bermimpi ingin segera jadi anak SMP dan SMA, yang bisa berpacaran, menjadi keren karena menang kompetisi basket, dan seterusnya. Apakah masa SMA itu membuat kita jadi makin merasa dewasa layaknya pikiran orang umur 40 tahun? Menurut saya sih enggak. Kita tetap mencari kenikmatan bergembira bersama teman sekolah.

Beranjak Dewasa itu Menakutkan?

Mungkin memang begitu, ya. Setiap kita memandang fase usia berikutnya, ada ketakutan dalam benak kita kalau-kalau kita tidak mencapai kesuksesan. Kita kuatir kalo tidak bisa survive. Tetapi kita perlu ingat, menjadi dewasa itu pilihan. Sementara bertambah tua itu pasti, kecuali kita kaum immortal atau highlander. Menjadi dewasa itu memang pilihan, karena siapapun bisa tiba-tiba bertingkah kekanak-kanakan. Anak kecil juga bisa saja tiba-tiba bersikap dewasa lewat pilihan dan cara berpikir mereka yang lebih tua dari usia badannya. Tingkah ngambekan, mudah berganti-ganti keputusan sesuai dengan mood, itu bentuk kekanak-kanakan. Siapapun bisa saja bertingkah seperti itu. Mengambil keputusan dengan pikiran yang panjang dan matang, itu bentuk kedewasaan. Anak SMP juga bisa berpikir seperti itu.

Nah, situasi yang paling baik adalah ketika usia mental kita sesuai, atau bahkan sedikit di atas usia kronologis kita. Menjadi dewasa itu baik dan penting, dengan pola pikir yang sama atau mungkin sedikit di atas usia badan kita. Kalo kita punya adik yang masih sekolah SMP atau SMA, coba aja amati. Apakah anak macam mereka takut beranjak dewasa? Kalo ya, kasih tahu aja pada mereka, bahwa jadi anak muda itu asyik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini