Waktu Baca: 4 menit

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang kompleks. Ketika hidup di dunia, manusia berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Ada masalah yang sederhana, hingga  ada yang rumit. Di balik permasalahan yang dihadapi tersebut, manusia diajak untuk mampu belajar menyelesaikan dan menuntaskan permasalahan yang ada. Banyak yang berhasil, namun juga banyak yang belum berhasil. Kembali pada hakikat hidup manusia yang merupakan suatu “proses belajar”. Tak jarang sering muncul konflik antar pribadi manusia yang secara sadar atau tidak sadar menghasilkan energi negatif yang mengganggu relasi yang ada dan menimbulkan kemarahan, dendam, sakit hati dan atau perasaan-perasaan negatif lainnya. Kadang menjengkelkan, tapi bagaimana pun, permasalahan memang akan selalu ada. Pada akhirnya kita harus belajar mengampuni yang bersalah pada kita karena mengampuni adalah kelegaan tertinggi.

 Mengampuni itu Mudah?

Kata siapa belajar mengampuni itu mudah? Memang mudah kita ucapkan, tapi butuh kekuatan dan keberanian untuk dapat melakukannya. Terdorong oleh kesadaran bahwa Allah Maha Rahim membuat manusia sebagai gambaran dari citra Allah, kita juga memiliki kerahiman untuk mengampuni, mulai dari mengampuni diri sendiri.

Kita harus menyadari bahwa walaupun berdosa, manusia harus terus memiliki keyakinan bahwa walau telah jatuh dalam lubang yang sama berulang kali, asal ada kemauan untuk bertobat, pasti akan bisa bertumbuh dan menjalani proses kehidupan di dunia dengan lebih baik dari hari ke hari.

Terdorong oleh keyakinan tersebut, manusia harus terus pula untuk semakin bersolider dengan sesama. Pada akhirnya manusia harus berproses bersama fase pendewasaan masing-masing pribadi. Berdasarkan Katekismus Gereja Katolik (KGK), disebutkan bahwa “dalam iman, akal budi dan kehendak, manusia bekerja sama dengan rahmat ilahi: Iman adalah suatu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan pengantaraan rahmat.” (Thomas Aquinas, 2-2, 2,9).

Melalui katekese singkat tersebut, manusia dapat memahami bahwa pengampunan yang tulus membawa damai bagi yang meminta. Tentu saja, bagi yang memberikan pengampunan bisa sangat menyembuhkan.

Manusia yang rapuh dan seringkali jatuh selalu mendapat pengampunan oleh Allah. Lalu, mengapa manusia yang adalah gambaran Allah malah sulit untuk mengampuni sesamanya? Kita tahu bahwa “mengampuni” adalah sesuatu yang tidak mudah, dan oleh karenanya kita perlu memohon kekuatan dari Tuhan.

Arti Pengampunan

Sebelum berbicara lebih lanjut tentang pengampunan, apakah kalian tahu apa itu pengampunan? Jangan-jangan, salah kaprah! Yuk, kita luruskan. Pengampunan sebenarnya merupakan tindakan seseorang untuk dengan sadar melepaskan perasaan dendam atau kebencian terhadap seseorang/kelompok yang telah menyakitinya terlepas dari apakah mereka benar-benar pantas mendapatkan pengampunan atau tidak.

Sebuah tindakan yang berlandaskan kasih. Mungkin banyak di antara kita berpikir bahwa ketika mengampuni, kita harus melupakan kesalahan yang kita ampuni. Nah, itu kurang tepat ya. Memberi pengampunan sebenarnya bukan berarti melupakan kesalahan yang pernah terjadi, bukan pula berarti mengabaikan, melupakan, dan atau bahkan menyangkal perlakuan buruk orang lain.

Pengampunan lebih ke arah “melihat” kesalahan orang lain dalam sudut pandang kasih. Manusia diajak berbenah untuk tidak lagi melihat selumbar yang ada di mata sesama, namun juga berkaca untuk melihat balok yang ada di mata diri masing-masing, lalu berusaha untuk mengambilnya.

Secara singkat, sebenarnya pengampunan termuat dalam 3 prinsip utama; pengampunan adalah sebuah keputusan, pengampunan adalah sebuah proses, dan pengampunan adalah sebuah doa.

Problematik Jaman Now

Kita sadari atau tidak sebenarnya semakin lama manusia hidup, maka semakin banyak pengalaman yang boleh kita dapatkan. Ada perasaan yang boleh kita rasakan, dan semakin banyak pembelajaran yang boleh kita ambil. Proses kehidupan manusia tersebut tidak lepas dari adanya perasaan mendapat rasa sakit ataupun menyakiti yang bisa saja kita lakukan secara sengaja atau sebaliknya.

Oleh sebab itu, semakin dewasa manusia, kemampuan dirinya untuk melihat lebih dalam seharusnya mampu menuntun manusia tersebut menjadi pribadi yang lebih menghargai, solider, dan mengasihi sesamanya.

Tak jarang perselisihan, peperangan dan beragam aksi kekerasan dilatar belakangi oleh satu hal: tidak mau mengampuni. Di arena pertarungan pergumulan hati, seringkali “jiwa egois” selalu menang jika melawan “kerendahan hati untuk mengampuni”. Itu menjadi tantangan yang masih selalu kita hadapi hingga saat ini.

Apabila kita mencoba melihat lebih dalam, sebenarnya berbagai agama dan kepercayaan telah mengajarkan umatnya untuk saling mengampuni. Seperti contohnya dalam agama Buddha yang biasa kita sebut istilah kshama (pengampunan demi nirwana). Kemudian dalam agama Hindu tersebutkan sebagai konsep Tat Twam Asi yang mengajarkan bahwa manusia adalah bersaudara sehingga harus saling mengampuni dengan konsep “dia adalah aku, aku adalah mereka dan mereka adalah dia”.

Ada pula hari-hari besar yang sering kita gunakan untuk perayaan pengampunan, seperti dalam Islam ada Hari Raya Idul Fitri atau biasa dikenal sebagai Lebaran. Dalam agama Kristen pun Yesus mengajarkan untuk mengampuni sesama sebanyak 70 kali 7 kali, yang artinya tak terhingga. Nah, ada banyak sekali konsep untuk mengampuni diajarkan guna satu tujuan, yaitu mencapai kecerdasan emosional untuk mencapai hidup yang damai dan bermakna bagi Tuhan, sesama, serta diri sendiri. Oleh sebab itu, lebih baik kita mulai bertanya pada diri sendiri “sudahkah aku tahu dan melaksanakannya?”, kemudian mulai berbenah.

Terus Belajar Untuk Mengampuni

Mahatma Gandhi yang merupakan inspirator tokoh pecinta damai di dunia, pernah berujar demikian, “Those who are weak will never be able to forgive. Only the strong can do it.. Nilai yang bisa kita ambil dari kalimat tersebut adalah berkaitan dengan kecerdasan untuk mengelola emosi dalam upaya bersolider dengan sesama. Menyadarkan bahwa menjadi pribadi yang kuat itu bukan hanya secara fisik, namun juga kuat dalam jiwa dan roh. Salah satu usaha yang bisa kita lakukan adalah dengan mengingat mereka yang bersalah, dan membuka hati untuk mengampuni dalam upaya untuk meneladani Dia yang Maha Rahim. Sudah layak dan sepantasnya menjadi tugas manusia untuk mengampuni dan berani meminta maaf apabila melakukan kesalahan, sisanya adalah bagian dari Sang Pencipta yang mengatur dan mengadili semuanya secara adil, karena pada dasarnya, ukuran yang manusia pakai untuk mengukur, akan tersematkan pula pada sang pengukur. Di akhir artikel ini, yuk nyanyi bareng-bareng lagu dari Maria Shandi – Mengampuni!

Ketika hatiku telah disakiti, ajarku memberi hati mengampuni… Ketika hidupku telah dihakimi, ajarku memberi hati mengasihi… Ampuni bila kami tak mampu mengampuni yang bersalah kepada kami… Seperti hati Bapa mengampuni, mengasihi tiada pamrih…

Baca juga :
Saya orang Indonesia saja 

The Whole Truth Adalah Cermin Keluarga Asia dan Kebenarannya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini