Waktu Baca: 3 menit

 Finalis Putri Indonesia 2015, Olvah Alhamid, merupakan sosok yang sering menyuarakan kepeduliannya pada rasisme dan diskriminasi. Namun, belum lama ini menjadi perbincangan publik karena sikapnya yang rasis dalam video yang beredar. Saat di bandara, Olvah meneriaki sekelompok orang Tionghoa dan menyebutkan juga bahwa mereka si pembawa penyakit. Sikap tersebut menjadi sorotan publik. Olvah pun dikecam dan berujung pada minta maaf serta klarifikasi. banyak yang kaget, berpendidikan tapi rasis? Kok bisa?

Sosok Olvah

Sebenarnya siapakah sih sosok Olvah ini? Wanita asal Timika, Papua, tersebut merupakan Finalis Putri Indonesia 2015. Ia menempuh sekolah menengah atas di Surabaya. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan Pendidikan di Universitas Indonesia dengan menempuh Pendidikan double degree di University of Groningen. Ia cukup mahir dalam berbicara Inggris, Belanda, dan juga Spanyol.

Menurut kamu kok bisa ya orang berpendidikan tinggi tapi masih bisa bersikap rasis dan berpikiran sempit? Yuk simak artikel berikut untuk mengetahui alasan mengapa orang berpendidikan masih bisa bersikap rasis dan berpikiran sempit dari sisi psikologis.

Kontrol pengalaman pribadi di masa lalu

Pada video klarifikasi yang diunggah oleh Olvah, sebelum ia meminta maaf ia sempat menceritakan pengalaman rasisme yang pernah dialami sewaktu di Surabaya. Seorang Finalis Putri Indonesia 2015 tersebut mengatakan bahwa ia sering mendapat perlakukan rasisme dari berbagai ras tertentu. Kejadian tersebut tentu membekas dalam benaknya.

Ada beberapa hal yang tidak bisa manusia ungkapkan secara langsung. Misalnya seperti suatu keinginan, hasrat, luka hati, dan kesedihan. Biasanya mereka akan cenderung menyimpan nya dalam-dalam. Kelak ketika seseorang mempunyai waktu dan situasi yang tepat, maka segala apa yang ia pendam dapat muncul. Seperti pengalaman luka hati yang dialami oleh Olvah ketika mendapatkan perlakuan rasis sewaktu itu.

Tidak semua orang dapat mengubah atau mengontrol emosi yang baik terkait dengan pengalaman dimasa lalu seperti yang Olvah alami. Sebagai contoh lainnya, ketika kamu pernah tersakiti oleh seorang lelaki, mungkin di masa depan kamu bisa jadi akan menghindari lelaki atau bahkan membencinya bukan?

Pengalaman atau kenangan di masa lalu seseorang sangat memengaruhi sikap seseorang di masa kini. Jadi berpendidikan tapi rasis bisa jadi. Ya tentu tidak semua. Mungkin ada yang dapat mengubah emosi nya terkait masa lalu dan ada yang tidak, termasuk orang berpendidikan maupun tidak. Kemampuan mengubah emosi tersebut tidak ada kaitannya sama sekali terkait tinggi rendahnya pendidikan seseorang. Akan lebih baik jika kamu seorang berpendidikan tinggi dan memiliki kemampuan mengubah emosi yang baik. Ketika kamu memiliki kemampuan tersebut, pengalaman buruk yang kamu alami di masa lalu tidak akan memunculkan sikap yang buruk di dalam diri kamu yang sekarang.

Orang berpendidikan belum tentu memiliki kecerdasan emosional

Orang yang mendapat label berpendidikan umumnya adalah mereka yang bersekolah formal, menyelesaikan sekolah hingga jenjang tertentu. Belakangan ini, orang yang memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi dianggap sebagai orang yang berpendidikan.

Kenyataannya tidak semua orang yang bersekolah tinggi adalah orang yang berpendidikan. Terdidik atau tidaknya mereka tergantung dari bagaimana mereka membawa diri mereka di masyarakat. Inilah mengapa, menjadi wajar ketika mereka yang sering kita anggap sebagai orang berpendidikan tinggi masih sering salah dalam berperilaku.

Tingginya sekolah lebih baik harus mendapat penambahan kecerdasan emosi. Dari berbagai sumber, kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan segala pikiran, perasaan, motivasi, dan segala dorongan diri lainnya. Intinya adalah mereka yang mampu mengatur diri mereka sendiri. Kecerdasan emosi dapat membantu untuk menumbuhkan kematangan diri seseorang. Sehingga mereka dapat memiliki rasa empati diri terhadap orang lain; yaitu dengan dapat merasakan apa yang orang lain rasakan.

Kembali pada pembahasan orang yang berpendidikan tinggi tadi, perlu kita ketahui bahwa kecerdasan emosi tidak serta merta menjadi pelajaran di sekolah karena umumnya pelajaran di sekolah adalah mengenai teori-teori intelektual dan analisis. Kemampuan akademis yang tinggi tanpa ada kecerdasan emosi akan menyulitkan orang yang bersangkutan.

Alasannya karena ia akan menjadi kesulitan untuk beradaptasi. Dalam hal ini kecerdasan emosi berperan membantu seseorang untuk memahami kondisi diri sendiri dan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

Dengan kata lain, orang dengan kecerdasan emosi yang baik  memiliki kemampuan untuk mengenal dan mengendalikan emosi dengan baik yang akan mengurangi tingat ketengangan dan potensi kerenggangan hubungan dengan orang lain.

 Mungkin memang menjadi seorang yang berpendidikan adalah penting. Namun, ada yang lebih penting, yaitu menjadi seseorang yang berakhlak baik.

Baca juga :
Netizen Indonesia Rasis, Kok Bisa Gitu ya?

Ulasan Year of the Dragon : Kontroversi Mafia Tionghoa

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini