Waktu Baca: 4 menit
Kayanya, hampir semua orang sudah tahu istilah menjaga kesehatan mental. Banyak orang yang berbondong-bondong pengen banget menjaga kesehatan mental setelah baca caption atau postingan di Twitter, Instagram sama di TikTok. Nggak jarang akun-akun tersebut meminta kita untuk menghindari hal-hal yang dirasa membuat mental kita terganggu. Tapi sayangnya, kadang hal ini kalau nggak disikapi dengan benar bisa aja kata “menjaga kesehatan mental” justru membuat kita terancam masa depannya. Kok bisa?
Pengertian Kesehatan Mental

Kalau ngomongin kesehatan mental sih, kesehatan mental ini bisa kita artikan sebagai kondisi dimana keadaan psikis kita dikatakan normal atau stabil. Kita bisa merespon segala sesuatu dengan tenang tanpa adanya tekanan dari diri kita sendiri yang kemudian memungkinkan kita buat lebih menikmati hari maupun lebih bisa menghargai orang lain.

Sebaliknya, kalau kesehatan mental kita lagi buruk, kita bisa jadi orang yang terkesan murung, pemarah, kurang bisa menikmati hari dan bahkan bisa menjadi toxic ke orang lain. Kita bisa kurang menghargai mereka, berlaku sesuka hati dan hal-hal negatif yang bisa aja lahir kalau kondisi kita sedang buruk.

Kesalahan Makna Menjaga Mental

Tapi masalahnya, menjaga kesehatan mental sering keliru persepsinya. Terutama ya sama anak-anak muda kaya kita. Emang keliru kita artikan seperti apa? Kalau belajar dari pengalamanku sendiri, banyak sekali orang-orang yang nggak mau keluar dari zona nyamannya untuk menghadapi dunia. Banyak yang dengan seenak jidatnya mengecap orang atau lingkungan itu toxic bukan karena memang toxic tapi karena nggak cocok aja.

Pun sama ketika dihadapkan ke sebuah tanggung jawab yang sepertinya akan membebani kita, kita lebih sering suka menghindari tanggung jawab tersebut dengan alasan “ menjaga kesehatan mental”. Beberapa contoh diantaranya seperti kerja yang tidak sesuai passion, tugas yang dosen berikan, dosen yang galak mungkin terkesan remeh tapi buat beberapa diantaranya justru membuat mereka punya alasan untuk kabur dan mengatasnamakan “menjaga kesehatan mental”.

Mental Harus Tertempa Biar Kuat

Menjaga kesehatan mental justru menjadi ajang orang-orang muda seperti kita untuk menghindari tekanan yang timbul dari lingkungan. Berharap bahwa suatu saat tekanan dari lingkungan itu nggak akan pernah ada, meskipun sebenarnya hal itu adalah utopia.

Menghindari lingkungan yang membuat kita tertekan sebenarnya justru akan melemahkan mental kita. Mirip kaya otot yang harus kita tempa dan diberikan beban yang besar untuk dibentuk menjadi lebih kuat, mental pun sebenarnya sama.

Pernah kalian bertanya-tanya kenapa seorang pesepak bola bisa menanggung beban hujatan yang lebih besar daripada kita orang biasa? Padahal kalau kalian mengikuti sepak bola, rundungan dari para fans bisa sangat mengerikan. Mulai dari Donnarumma yang nampak terkena bully satu stadion ketika laga Italia melawan Spanyol.  aksi-aksi rasial yang pesepak bola kulit hitam alami jelas sebenarnya bisa membuat mereka keluar dari dunia sepak bola dengan alasan “menjaga kesehatan mental”. Tapi ya aku bukan berarti mendukung perundungan di dunia sepak bola lho.

Kemampuan mereka dan mungkin orang-orang di sekitar kalian yang nampak mentalnya tahan banting adalah karena mereka secara sadar ataupun tidak harus menjalani kehidupan yang membuat mental mereka menjadi strong, kokoh dan bakoh kaya adukan semen. Mereka memiliki sebuah kemampuan yang bisa dibilang hilang ketika kita selalu menghindari tekanan yang membebani mental kita, yaitu kemampuan beradaptasi.

Dunia Tak Akan Pernah Berjalan Sesuai Kekuatan Mentalmu Sekarang

Kita sering terjebak dalam bias menjaga kesehatan mental. Di balik alasan menjaga kesehatan mental ada harapan kepada dunia bahwa dunia yang besar ini harus bisa berjalan sesuai dengan kemampuan mental kita saat itu. Kita menjadi sosok yang terlalu idealis dan perfeksionis dalam melihat bagaimana dunia bekerja.

Mungkin kita ibaratkan saja kalian terlibat di sebuah organisasi dengan jumlah 100 orang. Apakah kalian bisa menerapkan sebuah standar saat kalian bisa memikirkan kekuatan mental 100 orang satu-satu? Bila terlalu ringan bisa saja orang-orang justur nggak berkembang, kalau terlalu berat apakah kalian punya standar untuk menyesuaikan satu-satu setiap individunya? Mumet kan? Nah seperti itulah dunia berjalan.

Kita mau nggak mau mendapat suguhan dan harus menerima beban-beban mental yang dunia berikan kepada kita. Bahkan untuk hal-hal yang kita suka sekalipun. Ketika kamu pengen kuliah, kamu mau nggak mau berhadapan dengan dosen yang membuat mentalmu harus tertempa. Menjadi koki, kamu bisa saja kena maki maki seniormu. Ya gak beda jauh kayak Master Chef bukan? – Kamu ingin belajar fotografi tapi kamu kurang pandai dalam berkomunikasi, mau nggak mau kamu harus berkomunikasi. Meskipun ya psikismu bergejolak. Bahkan ketika kita mencoba mengembangkan passion kita, dunia tetap nggak akan mau repot-repot. Dunia gak akan memahami kita satu-satu.

Pentingnya Adaptasi

Kemampuan adaptasi yang hilang karena kita sering menghindari tempaan dengan beralasan menjaga kesehatan mental ini bisa saja mengancam masa depan kita.

Hal yang paling mendasar dalam menjaga kesehatan mental sebenarnya adalah kita harus menyadari bahwa dunia ini nggak akan pernah sesuai dengan harapan kita. Tidak akan pernah sesuai dengan kekuatan mental kita untuk sekarang ini. Mau nggak mau, kita harus bisa terus beradaptasi dengan lingkungan kita. Kalau kata seorang filsuf bernama Friedrich Nietzsche “What doesn’t kill you, makes you stronger”.

Terkadang, dengan berharap dunia akan sesuai dengan kita padahal kenyataannya tidak seperti itu justru malah menghancurkan kesehatan mental kita sendiri, yang tadinya ingin kita rawat justru secara nggak sadar malah kita rusak.

Eit, Meskipun Gitu Jangan Lupa Tetap Konsultasi dan Mindful

Tapi, tetap aja kita nggak bisa pungkiri bahwa di dunia ini mengandung hal-hal yang memang bersifat desktruktif untuk kesehatan mental kita. Bukannya membangun justru ada momen yang seperti memang bertujuan mengganggu kesehatan mental kita. Banyak momen yang membuat mental kita goyang bukan main. Membuat kita lelah, letih, lesu. Membuat kita merasa sangat tertekan. Di sebuah sisi kita memahami dunia tak akan pernah peduli dengan mental kita tapi juga harus kita sadari bahwa memang ada yang menjatuhkan mental kita secara sengaja.

Menurutku hal ini yang membuat kata menjaga kesehatan mental ini menjadi sedikit tricky. Kita sering khilaf dengan menjadi overprotektif terhadap mental kita seperti orang tua yang overprotektif terhadap anaknya yang membuat anaknya bisa saja stuck. Hal-hal tricky seperti inilah yang membuat kita membutuhkan diskusi dari orang-orang terdekat, entah itu orang tuamu, pacarmu, sahabatmu, selingkuhanmu bahkan psikolog yang jelas akan lebih bisa memberikan saran yang jitu.

Berusaha Tetap Tertawa

Selain itu, dalam menghadapi riuhnya dunia yang membuat kita tertekan, kita juga bisa mengusahakannya sendiri kok. Hidup kita itu tanggung jawab kita bukan? Kita bisa mencoba berlatih meditasi, menyadari respon apa yang kita berikan kepada dunia. Apakah yang kita lakukan ini sudah tepat dalam menjaga mental kita? Ataukah sebenarnya mental kita nggak selemah itu? Semua bisa kita usahakan dengan diri kita sendiri atau bersama dengan orang lain. Supaya apa, agar mental kita sehat dan tentu saja memastikan agar mental kita terus berkembang.

Buat kalian yang sedang mengalami ketidaknyamanan, bisa saja ini bukan perkara mentalmu yang sedang hancur tapi sedang terbentuk. Serta jangan lupa bahwa sebesar apapun beban yang  dunia berikan, kita tetap punya hak. Hak untuk apa? Ya hak untuk memilih apa respon kita atau mau jadi apa kita besok.

Baca juga :
Kekerasan Seksual Salah Perempuan? Benarkah

Sampingan Untuk Anak Kuliahan, Gajinya Bisa Nglebihin Fresh Graduate

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini