Waktu Baca: 2 menit

Elwizan Aminudin yang sedang “menggebrak” dunia sepak bola Indonesia baru – baru ini menjadi hangat di perbincangkan oleh orang – orang. Bukan karena prestasinya namun malah kasus penipuan yang dilakukannya. Hal tersebut terjadi karena Elwizan Aminudin yang kerap disapa Amin resmi dinyatakan sebagai dokter palsu alias gadungan. Ternyata, dokter Elwizan Aminudin ini sudah melanglang buana ke sejumlah klub – klub sepak bola terkenal bahkan hingga timnas. Dan yang terakhir, ia menjadi dokter gadungan PSS Sleman!

Rekam jejak sebelum berkarir di PSS

Sebelum menjadi dokter sepak bola di PSS Sleman, Amin memulai karirnya sejak 2011 dengan menjadi dokter di tim Persita Tangerang. Setelah itu dia sempat menangani PS Barito Putera, Bali United, Madura United, Sriwijaya FC, PS Tira, Kalteng Putra. Dan yang paling luar biasa adalah ia bahkan pernah sampai menangani timnas U-19 dan U-16. Timnas lho ini, timnas. Yang mana merupakan representasi martabat bangsa dan negara ini. Kagum saya dengan kelihaiannya dia. Seorang penipu yang bahkan mampu mengelabui sampai taraf nasional. Track-record dia pun juga tidak main – main. Hampir semua tim klub yang dia bela berada di divisi teratas Liga Indonesia. Terhitung dia sudah menjalani karir dia sebagai dokter dalam kurun waktu 10 tahun. Sangat hebat nan lihai “kecerdikan” Amin dalam membangun karirnya. Kalau untuk urusan penipuan dia emang jagonya, kalau untuk urusan kesehatan ya tunggu dulu!

Kok bisa ketahuan?

Drama yang dirancang oleh Amin akhirya terbuka. Kebusukan yang ditutupinya akhirnya terkuak juga. Di sini yang membuat menarik adalah saat status dokter si Amin dipertanyakan oleh twit yang bersumber dari @iqbalamin89. Akun tersebut menyatakan bahwa Amin ternyata memiliki Surat Tanda Registrasi dan ijazah dokter ternyata palsu. Jadi ijazah Amin tidak terdaftar di Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti), maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dari pernyataan tersebut, kemungkinan besar Wakil Ketua Satgas Liga 1, dr. Alfan Nur Asyhar, melaporkan ke penyelenggara Liga 1 Indonesia, Akhmad Hadian Lukita. Kemudian, Alfan juga melaporkan hal tersebut ke PSSI, Satgas liga 1, dan klub PSS Sleman. “Kekuatan” warga net Indonesia memanglah luar biasa. Namun hal tersebut membuktikan bahwa tim beserta penyelenggara Liga Sepakbola Indonesia masih memiliki PR yang ternyata tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Setelah PSS Sleman mendapatkan laporan tersebut, PSS Sleman lalu membuat surat resmi ke Fakultas Kedokteran Unsyiah mencari kebenaran kabar dokter gadungan PSS Sleman. Dalam surat teresebut, PSS Sleman meminta konfirmasi tentang validitas ijazah gelar “dokter” Amin. Hasilnya tentu jelas, tidak ada data bahwa dia lulus dari FK Unsyiah. Terbaru, PSS Sleman melaporkan kasus Amin ke kepolisian. PSS Sleman mepalorkan Amin atas nama kasus penipuan. Nah, kalau gini malah jadi runyam to? Ra sido cuan malah siap-siap mendekam di tahanan. Woalah

Yang lucunya adalah menurut dokter tim Arema FC, dr. Nanang Tri Wahyudi, proses lamaran kerja dokter tim sepak bola tak berbeda dengan proses lamaran karyawan lain. Tinggal mengumpulan berkas administrasi dan wawancara. Duh, duh, kok ya gini banget ya?

Saya dan orang – orang yang sebagai pecinta sepakbola tentu sangat prihatin tentang hal tersebut. mafia dan pengaturan skor sampai sekarang saja belum bisa diatasi, ternyata ada hal lain yang tidak kalah menyedihkan. Saya berharap kasus ini membuat tim dan seluruh pihak sepak bola Indonesia menjadi lebih teliti lagi supaya hal – hal tersebut tidak terjadi lagi. Semoga saja ya, lha wong negeri ini emang udah terkenal pada suka tipu-tipu sih. Iya apa iya?

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini