Waktu Baca: 2 menit

Sebagian dari kita tampaknya dengan mudah menganggap kejadian gempa bumi, erupsi gunung, atau banjir sebagai bencana alam. Itu adalah efek dari cara berpikir antroposentris, ketika manusia menjadi pusat perhatian semesta. Sekian tahun kita berkubang dalam cara berpikir antroposentris akan membuat kita menganggap bahwa manusia adalah makhluk paling berkuasa di bumi. Pokoknya apapun harus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan manusia. Segala peristiwa di luar kendali manusia yang kita anggap merugikan, akan kita beri label bencana. Nah, saya menawarkan pemikiran alternatif, bahwa peristiwa gempa, erupsi, atau banjir adalah suatu fenomena alam.

Fenomena Alam

Secara harafiah, fenomena berarti suatu peristiwa yang bisa kita lihat, dengar, dan rasakan. Sebagai peristiwa, fenomena ini bisa kita maknai, bisa juga kita biarkan untuk tidak kita maknai. Misal ada gempa bumi di antartika, kita bisa saja memantau lewat seismograf dan satelit. Kita juga tidak punya kewajiban untuk memaknai peristiwa tersebut. Demikian juga ketika gempa bumi atau erupsi gunung berapi terjadi di wilayah permukiman manusia, sebetulnya itu adalah fenomena. Tetapi karena berdampak pada manusia, maka hasil olah pikir kita membuat terminologi yang namanya bencana. Pokoknya, selama peristiwa itu tidak merugikan, itu adalah fenomena. Kalau peristiwa itu merugikan manusia, itu masuk dalam kategori bencana.

Kita bisa saja menganggap semua peristiwa alam itu adalah fenomena, terlepas dari hitungan rugi atau netral terhadap manusia. Hanya saja, orang lantas tidak terima karena dianggap meremehkan kasus kematian dan korban jiwa sebagai dampak dari peristiwa tersebut. Tetapi antara peristiwa dengan perihal korban jiwa, ada jeda berpikir yang bisa kita kaji. Sebagai manusia yang memiliki solidaritas dan jiwa sosial, timbulnya korban jiwa, siapapun dia, adalah suatu kesedihan. Tetap ada rasa empati yang muncul di situ. Namun di saat yang sama, kita tidak bisa dengan cepat menuding peristiwa alam sebagai penyebab utama kematian. Ini justru makin memperkuat antroposentris, bahwa manusia selalu benar, sementara makhluk lain dan lingkungan adalah pihak yang salah.

Ingat Banjir Sintang

Saat terjadi peristiwa banjir di Sintang Kalimantan Barat selama berminggu-minggu, pemerintah daerah sibuk membuat alasan dan rasionalisasi atas peristiwa tersebut. Entah dengan menyalahkan curah hujan yang tinggi, atau sedimentasi yang terjadi di sepanjang alur sungai. Berbagai alasan ini disusun sedemikian rupa agar manusia makin jelas posisinya sebagai korban. Tetapi alasan-alasan mendasar lainnya justru ditutup rapat. Hampir tak ada yang berani bicara bahwa banjir terjadi karena alih fungsi hutan menjadi kebun sawit, atau tata kota yang tidak memperhatikan dampak lingkungan. Jelas ada campur tangan ulah manusia untuk menimbulkan peristiwa banjir. Alhasil, banjir di situ lantas masuk dalam kategori bencana, bukan fenomena alam.

Baca juga : Bencana Tata (r)uang dan lucunya negeri ini

Epoche Fenomenologi

Dalam memandang fenomena, saya jadi ingat satu teori Edmund Husserl, seorang nabi fenomenologi. Husserl menciptakan istilah Epoche sebagai cara memaknai suatu peristiwa. Tinggalkan dulu hal-hal yang disukai, prasangka, asumsi, dan penilaian terhadap orang, peristiwa, atau benda. Selanjutnya mari kita pandangi, pahami, maknai, dan masuk dalam alam kesadaran baru. Lewat epoche ini, kita bisa sampai pada pemahaman baru tentang peristiwa gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, dan berbagai peristiwa alam lainnya. Kita tidak perlu terburu-buru menilai bahwa peristiwa alam tersebut adalah azab atas dosa manusia. Kita juga tidak harus menganggap bahwa itu kesalahan atau kebodohan manusia karena gagal mengendalikan alam. Barangkali ada makna lain dari peristiwa alam, yang jarang kita sepakati. Misalnya, fenomena alam itu adalah dialektika antara alam dengan manusia.

Selamat mencoba

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini