Waktu Baca: 3 menit

Giring Nidji, Ketua Umum PSI, tiba tiba bersikap keras dengan mengatakan tidak akan mendukung tokoh yang melakukan politisasi agama. Kedua, ia menegaskan sosok yang tidak ia sukai ini pernah menjadi menteri yang dipecat di era Jokowi. Tanpa perlu saya menjelaskan, jelas ada sosok yang dituju oleh Giring. Yang jadi pertanyaan, apa tujuan Giring melakukan politik konfrontial seperti ini?

Berlari Ke Kiri

Giring tampaknya makin mengarahkan PSI ke kiri. Kiri dalam hal ini adalah ke kelompok yang cenderung liberal. Saya tidak bisa menyebut mereka liberal 100% karena faktanya, di Indonesia tak ada konservatif 100% dan liberal 100%. Sebab, bagaimanapun juga kita masih memiliki ideologi bangsa yang bernama Pancasila untuk menyaring paham yang ‘terlalu luar’.

Nah, pertanyaannya, kenapa PSI lari ke liberal sekali? Mungkin jawabannya karena idealisme. PSI memiliki idealisme untuk menjadi partai yang mewadahi kaum liberal.

Tapi, kalau kita memandangnya dari sisi pragmatisme, sikap PSI ini mungkin adalah sikap yang berbasis keyakinan bahwa di Indonesia ini kelompok liberal tumbuh sesubur kaum konservatif. Karena itulah, PSI ogah berada di tengah dan Giring ingin membawa mesin politiknya ini ke kiri sekalian, mengambil ceruk yang jelas. Meskipun tidak memenangkan pemilu, setidaknya PSI bisa bertahan dengan suara kaum pseudo-liberal ini.

Mengapa Menyerang Sosok?

Peristiwa 4-11 dan 2-12 bagi saya akan diingat sangat berbeda oleh banyak orang di negeri ini. Ada yang menganggap ini tonggak kebangkitan kaum Muslimin dan pribumi yang selama ini merasa terpinggirkan, ada juga yang menganggap ini alarm keras bahaya gerakan konservatisme. Polarisasi yang ada di ujung kanan dan ujung kiri ini cukup besar dan mereka sumber suara yang potensial. Di tengah tengahnya ada satu sosok yang seperti kita tahu menjadi ikon sekaligus antagonis/protagonis kanan v. kiri ini. Sebut saja Mr. A.

Nah, ketika mendukung si Mr. A ini, maka partai yang menjadi pendukung kemungkinan besar akan menikmati kenaikan suara. Pun jika melawan Mr. A, maka ada suara signifikan lain yang bisa didulang. Pertanyaannya sekarang, sebenarnya seberapa kuat sih Mr. A ini mempengaruhi kontestasi pemilu?

Seperti kita semua tahu, meski digadang gadang menjadi tandingan bagi Jokowi, toh Mr. A tidak bisa mendapat tiket 2019. Artinya apa? Banyak partai ragu bahwa pendukung Mr. A cukup banyak untuk memenangkan tiket presiden. Namun, kalau mau jujur, apakah dengan memusuhi Mr. A berarti suara pembencinya bisa menaikkan nilai partai? Belum tentu.

Jawaban aslinya ya kita tidak bisa gegabah mendukung/ membenci Mr. A untuk keuntungan politik praktis.

Nah, hanya PSI yang berani pasang garis keras melawan Mr. A. Apakah ini karena PSI sebegitu yakin bahwa pembenci Mr. A adalah suara yang besar? Atau ini hanya sekedar sisi idealisme PSI saja yang notabene lekat dan melekatkan diri dengan liberalisme? Tinggal anda yang menentukan.

Faktanya

Faktanya, tindakan Giring menyerang Mr. A ini dari sudut pandang saya menyampaikan pesan politik bahwa PSI partai yang terbuka, toleran dan bahkan liberal itu tadi. Namun, apakah dari sudut pandang saya menyerang Mr. A adalah tindakan tepat? Belum tentu. Bagi saya menjadikan Mr. A sebagai ikon konservatifme dan bahaya radikalisasi sangat kurang bijak. Toh, selama menjadi gub..ups..lanjut..pejabat aja deh, Mr. A tidak mengeluarkan kebijakan yang diskriminatif. Kalau ia terkesan melakukan banyak kebijakan yang salah, emang siapa yang enggak sih? Bahkan kini beberapa partai yang mendekati Mr. A adalah partai yang nasionalis. Jadi gimana?

Kemungkinan Kedua

Atau jangan jangan, PSI memang sedang menumpang ketenaran Mr. A? Dengan menjadikan Mr. A musuhnya, maka nama PSI akan ikut terkerek dalam pemberitaan media massa. Ini strategi yang mirip mirip ketika Yusril Ihza Mahendra berusaha menaikkan elektabilitas dengan menarget Basuki Tjahaja Purnama. Faktanya Yusril Ihza bisa menaikkan elektabilitasnya dengan baik. Jadi apakah begitu?

Manapun kemungkinan apakah Giring dan PSI menyerang Mr. A untuk kepentingan politik praktis maupun ideologi, hanya tahun 2024 yang bisa menjawab bagus tidaknya keputusan Giring.

Seruput dulu teh bobanya..

Baca juga :
Diroasting Kiky Adalah Strategi Anies Terhebat

Pencitraan Basi Pejabat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini