Waktu Baca: 2 menit

Suatu hari saya bertemu dengan teman saya dari Jepang. Kami ngobrol ngalor ngidul soal sepak bola. Salah satunya adalah kecemburuan saya karena timnas Jepang tampak makin berkualitas sementara timnas Indonesia berasa jalan di tempat. Gitu gitu aja. Nah, teman saya berpendapat bahwa Indonesia belum saatnya mikirin prestasi. Katanya,” Indonesia adalah negara dengan potensi olahraga yang bagus, tapi banyak masalah kehidupan di Indonesia yang jauh lebih penting dari sepak bola.” Lho kok gitu?

Industri Sepak Bola

Indonesia dan Eropa bak langit bumi. Di Eropa pemain mendapat gaji yang menggiurkan meski bermain di divisi dua atau tiga sekalipun. Klub juga memiliki fasilitas kesehatan yang mumpuni. Jadi, kalau cedera ya tidak terus dibawa ke tukang pijat sembarangan. Nah, kenapa Eropa bisa seperti itu dan Indonesia tidak? Jawabannya sesimpel Eropa punya modal, sementara Indonesia tidak.

Ya, di Eropa sepakbola sudah menjadi industri. Sementara itu di Indonesia jangankan industri, gaji saja masih sering telat. Ya mau bagaimana lagi? Banyak suporter bola masuk ke stadion tanpa tiket. Mereka juga merusak fasilitas stadion. Kalau sudah begitu, gimana klub bisa mengais untuk menjadikan sepak bola industri di tanah air?

Seandainya mau jujur ya ini karena suporter juga banyak dari kalangan menengah ke bawah. Kalau menengah ke atas pasti enggan ke stadion menonton Indonesia. Mereka lebih suka duduk di rumah, menyalakan TV dan menonton Liga Inggris misalnya. Mereka tak bisa disalahkan, toh orang kan berhak akan hiburan yang aman dan nyaman.

Memperbaiki Ekonomi Dulu

Kalau mau timnas menjadi baik, Indonesia harus memperbaiki ekonomi dahulu. Setidak tidaknya menyetop sulitnya perizinan di tanah air serta ekspor bahan mentah yang membuat neraca kita selalu defisit tiap tahunnya. Negara ini juga harus kreatif dan tidak bergantung pada industri kelapa sawit yang meskipun padat karya tapi keuntungannya hanya besar di pemilik modal saja.

Timnas timnas yang maju seperti Jepang dan Tiongkok juga baru mengalami kemajuan prestasi setelah mereka mengalami kemajuan ekonomi. Kita bisa menirunya. Jadi kalau sekarang memaksa timnas berprestasi padahal besok saja masih bingung makan apa tentu sangat tak realistis.

Jangan Ujug Ujug

Setelah ekonomi kita maju, baru kemudian satu persatu diperbaiki. Kompetisi harus profesional, pertandingan tak perlu banyak namun berkualitas. Lagi lagi, Indonesia mending berhenti bikin sistem kompetisi full-league. Jarak antar kota di Indonesia terlalu jauh. Malah baiknya negara ini menggunakan sistem play-off macam MLS yang tidak memaksa tim tim bola melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Degradasi juga bisa ditiadakan dengan sistem ini. Tapi ya itu, tim yang masuk MLS Indonesia harus benar benar tim pilihan.

Beres dengan kompetisi, PSSI bisa mencoba untuk memperbaiki kompetisi usia muda agar bibit bibit muda mendapat pengalaman dan pengembangan diri. Lalu setelah itu baru coba menjual kompetisi yang lebih sehat agar penonton bonafide  mau menyisihkan dana mereka untuk nonton sepak bola Indonesia. Jangan ujug ujug kita mau main di Piala Dunia

Memang perjalanan itu jauh. Tapi ingat, Jepang saja butuh tiga puluh tahun sampai mereka memiliki timnas yang berkualitas. Ya. Jepang baru berbenah di awal ‘90an dan menikmati hasilnya hari ini.

Nah kita? Jangan heran kalau kita baru juara AFF Cup 10 tahun lagi. Tapi yang penting, prosesnya sudah bener dulu.

Baca juga :
Indonesia Bak Atletico Madrid!

Dokter Gadungan PSS Sleman dan Sebuah Ironi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini