Waktu Baca: 3 menit

Ada anak pendidikan alias anak FKIP? Kalau kamu adalah anak FKIP pastinya kamu, dan begitu juga aku, diajarin berbagai macam teori-teori mengajar kan? Mulai dari pembuatan media, mengelola kelas, merencanakan pembelajaran dan lain-lain. Teori yang kita dapat sering kali mengakibatkan kita bias dalam mengajar, bukannya makin memahami gimana seharusnya jadi guru yang oke, kita malah kejlungup. He..he.. Kok bisa begitu? Simple, meskipun kita mendapat berbagai macam teori soal mengajar, nyatanya kita nggak pernah sekalipun diajarin buat jadi guru yang realistis. Kuliah jarang sekali menyiapkan kita jadi guru yang nggak memaksakan keidealan sebuah kegiatan pembelajaran. Padahal pemaksaan keidealan pembelajaran justru membuat pembelajaran sama sekali berjalan tidak baik dan malah bikin komunikasi antara guru dan siswa makin jauh.

Ekspektasi Kelas yang “Ideal”

Kelas ideal yang sering dibayangin sama guru, dan bahkan dosen, adalah kelas yang siswa atau mahasiswanya aktif-aktif. Gimana nggak kebayang? Kalau punya siswa yang kaya gitu alangkah indahnya dunia kan? Bukan hanya itu, guru sering mendambakan siswa yang gampang konek kalau diajarin. Bentuk ideal lainnya dari sebuah kelas adalah siswa yang selalu mau mendengarkan apa yang diajarkan tanpa melihat kemalasan dari wajah mereka.

Dari awal aku masuk dunia pendidikan alias masuk TK hingga sekarang aku pernah mengajar sebuah kelas, aku sering melihat guru yang berandai-andai mendapatkan murid yang “ideal”. Ekspektasi ini yang bikin bahaya dimana guru terlalu memaksakan standar siswa layaknya siswa adalah adonan yang bisa “dicetak paksa”.

Siswa Datang Dari Keluarga dan Lingkungan yang Berbeda

Keluarga adalah salah satu kunci pembentukan karakter dari anak. Bukan semata-mata karena sering ketemu saja, keluarga jadi sekolah dan orang tua jadi guru pertama siswa sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan formal. Pastinya kebiasaan lingkungan rumah akan ikut kebawa ke lingkup pendidikan baik TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai kehidupan di dalam kelas-kelas kampus. Beragamnya sifat siswa sering nggak diperhatikan faktornya sama guru, dan pada masanya termasuk aku dan guru-guru di sekolahku dulu. Keanekaragaman keluarga membuat siswa memiliki sifat yang bermacam-macam. Ada yang ambis luar biasa, ada yang bolosan, ada yang malesan, ada yang cerdas namun nggak terlalu terlihat. Kelas yang berisi dari bermacam-macam keluarga nggak bisa kita pukul rata secara ajaib bahwa mereka harus rajin untuk belajar.

Keluarga juga jadi penentu lingkungan siswa. Mungkin agak teori sotoy ya. Dari yang aku lihat-lihat keluarga yang memahami pola didik yang tepat memiliki kencederungan buat membawa anaknya ke lingkungan bermain yang tepat juga. Kondisi pendidikan keluarga yang kurang baik – “baik” dalam hal ini bukan menyoal ekonomi yang baik, tapi pola mindset orang tua – membawa pengaruh ke keseriusan anak dalam menghadapi kehidupan (salah satunya pendidikan) dan berpengaruh pada ketahanan mental anak agar tak terpengaruh lingkungan yang kurang baik (poin terakhir ini nggak bisa kita generalisir tapi kebanyakan adalah seperti ini).

Proses Perubahan Perlu Kita Apresiasi Meskipun Kecil

Akibat dari keberagaman kondisi siswa, kita sebagai guru nggak bisa berharap buat memperbaiki anak “bandel” – terutama di sekolah yang tidak favorit – secara instan. Guru harus sadar mereka bukan pesulap yang secara sekejap bisa menghilangkan sifat malas anak layaknya David Copperfield menghilangkan Patung Liberty. Saat mengajar sebuah kelas yang berisi siswa dengan motivasi belajar rendah, pikiranku nggak pernah terpatri harus secara tiba-tiba mereka menjadi gemar belajar. Sayangnya guru di beberapa instansi pendidikan yang sempat aku datangi nggak menyadari hal ini sehingga luput melupakan kompetensi pendagogik yang sebenarnya sangat penting, yaitu memahami emosional siswa.

Kondisi emosional siswa nggak bisa dirubah begitu aja. Perlu sebuah proses yang pelan-pelan dalam memperbaiki emosional mereka. Guru harus realistis! Guru juga murid, setidaknya murid kehidupan. Sebagai guru juga perlu proses dalam memperbaiki diri layaknya siswa.

Perubahan yang terjadi pelan-pelan harusnya kita apresiasi, setidaknya di dalam hati agar guru nggak terus terusan senewen mikirin kelas yang nggak ideal. Perubahan mungkin baru terjadi kepada 1 dan 2 siswa, tapi proses tetaplah proses. Dahulu ketika aku mengajar di SMK yang bukan sekolah favorit, melihat satu siswa yang menjadi aktif adalah proses siswa yang harus kita apresiasi.

Pendidikan yang Woles

Menjadi realistis juga bisa membuat pendidik jadi lebih santuy dalam mengajar. Terutama pada sekolah yang input siswanya bukan siswa-siswa berprestasi dan biasanya “celelekan” alias sembarangan.

Gambaran kelas ideal malah bikin kita sebagai guru menjadi tidak nyaman dalam mengajar dan malah bikin guru jauh dari siswanya. Membawa murid berubah layaknya membawa orang keluar dari sebuah rumah. Kalau kita hanya berteriak saja mungkin nggak akan mendapat gubrisan.

Saat guru realistis dan woles, adaptasi jadi mudah kita lakukan. Berhadapan dengan siswa kurang serius nggak bisa kita memaksa dengan sifat yang serius. Justru kita harus mengetuk pintunya dengan bercandaan dan kesantaian kita kemudian menarik tangan siswa untuk melihat dunia yang berbeda secara selangkah demi selangkah.

Jadi guru emang nggak mudah. Tapi mana ada pekerjaan yang mudah kan? Guru layaknya sebuah seni realisme yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari adalah kehidupan yang beragam dan tak pernah sewarna. Dengan memaksakan idealisme, kita sebagai guru justru keindahan pendidikan nggak akan pernah terlihat. Oh iya, semoga saja kurikulum kita juga mulai memperhatikan kesenjangan sifat siswa ini ya.

Baca juga:

Sampingan Untuk Anak Kuliahan, Gajinya Bisa Nglebehin Gaji Fresh Graduate

Poke Theory Singapura Adalah Gaya Hidup Yang Kita Butuhkan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini