Waktu Baca: 2 menit

Beberapa bulan belakangan ini setiap saya memantau di media sosial isinya adalah keluhan mengenai jalan berlubang di Jogja. Lha kok bisa? Saya pun tidak langsung mempercayainya. Mosok Jogja yang punya angka harapan hidup dan indeks kebahagiaan tinggi kok punya masalah infratruktur yang sepele kayak gini. Apa ya benar seperti itu?

Ya saya ndak mau dong kemakan hoaks begitu saja. Saya pun iseng-iseng untuk mengecek langsung ke lapangan. Weeeeee… ternyata apa yang dikatakan oleh warga net bukan isapan jempol semata. Saat saya melewati jalan-jalan yang disebutkan di media sosial, luar biasa sekali sensasinya. Saya serasa sedang karya wisata di bulan. Jalan berlubang di Jogja yang saya hadapi persis dengan kawah-kawah yang ada di bulan. Dalem dan ngagetin deh

Teror jalan berlubang ini tampaknya lebih ngeri daripada diboncengin sama kuntilanak atau bahkan dedemit lainnya. Jika diboncengi golongan astral paling mentok kalian hanya pipis di celana saja kan? Lha kalo jalan berlubang? Nyawa kalian yang jadi taruhan. Bahkan nih ya, sudah ada warga masyarakat yang menjadi korban. Mulai dari yang kecemplung hingga terlempar dari kendaraan bermotornya. Laporan aktual dari warga net di media sosial tampaknya baru akan ditindak lanjuti setelah ada korban. Lha kalo prinsipnya gini, lama-lama ya remok to ya. Sudah menanggung UMP murah dan masih dikasih kejutan jalanan berlubang.

Masalah jalan berlubang ini kok tampaknya semacam dibiarkan begitu saja ya. Tak ada perhatian yang serius dari pihak yang terkait (pemerintah). Paling pol saya hanya melihat tambal sulam saja di sana-sini. Kalau hanya modelnya kayak gini terus, emang nyawa bisa ditambal sulam juga? Kan enggak to? Dipikir mau kursus menjahit apa ya?

Kekesalan hati saya semakin memuncak ketika jalan berlubang semakin banyak ketika musim penghujan tiba. Diameternya semakin melebar. Beberapa titik yang dahulunya tidak ada jalan berlubang menjadi ada. Ini budidaya jalan berlubang apa ya? Pembangunan infrastruktur kok di musim penghujan apa ya bakal bagus hasilnya? Ndak bisa apa ya, tata kelola anggarannya diubah ke musim kemarau saja.

Tragedi Jalan Berlubang di Jogja

Membicarakan fenomena jalan berlubang ini mengingatkan pada tayangan televisi, Takeshi Castle (benteng Takeshi). Di salah satu wahana yang disiapkan beberapa batu sintetis yang jika salah pijak maka peserta akan nyemplung ke kolam. Kira-kira seperti itu yang dialami oleh pengendara motor ketika menghadapi jalan berlubang di musim penghujan. Muka air akan sama dengan jalan raya sehingga kita tidak tahu kedalaman lubang yang dilalui. Seru kan? Kalau berhasil melaluinya maka kita akan selamat. Jika tidak maka ya tahu sendiri kan risikonya.

Memang sih ada regulasi bahwa jika kematian disebabkan jalan berlubang dapat menuntut ke jalur hukum kepada pihak yang terkait. Tapi saya sendiri kok rasanya ndak yakin korban yang bakalan jadi pemenang di pengadilan. Ini bukan masalah materi (ganti rugi), melainkan bentuk tanggung jawab pemerintah atau negara dalam menyediakan akses yang aman dan nyaman bagi warganya.

Ya tulisan saya ini sebenarnya hanya sekadar uneg-uneg saja kok, mau digagas sama pengambil kebijakan ya bagus, enggak juga sudah biasa. Mosok sudah tahun 2021 masih ada jalan berlubang di Jogja, kan kelihatannya ra wangun. Apalagi mau migrasi dari revolusi teknologi 4.0 ke 5.0. Mosok gak malu? Apa nunggu korban berjatuhan lagi? Saya rasa sih dana itu ada, ndak usah ribut-ribut jalan itu wewenang siapa. Segera perbaiki saja! Kan ya gak mungkin juga to melakukan razia kepada jalan berlubang yang menyebabkan kecelakan. Emang kayak kondom, udah cuma diem aja, dirazia pula! Mbooh ah angel…(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini