Waktu Baca: 3 menit

Rasanya tiap enam bulan sekali kita rame soal kehadiran varian baru, lonjakan kasus COVID-19, dan kemunculan klaster kasus. Masih teringat di pergantian tahun 2020 – 2021, kita rame soal antisipasi pandemi gelombang kedua. Ternyata itu tidak terjadi, karena gelombang satu pun kita belum kelar. Di bulan Juni – Juli lalu kita juga rame soal varian Delta, yang bikin kita tiap hari dengar sirene ambulance, berita lelayu, dan berita isolasi mandiri. Nah kini sudah hadir varian dengan kemasan terbaru, yaitu Omicron. Kita nggak tahu kapan agenda kehadiran Omicron di Indonesia. Tetapi kalo belajar dari riwayat pandemi kita, apa yang gawat di belahan dunia lain, juga bakal terjadi di Indonesia. Mungkin 2 minggu lagi, atau bahkan minggu depan. Masalahnya, sampai hari ini kita masih gelagapan berinteraksi dengan pandemi.

Baca juga : Gelombang Ketiga COVID-19 Akan Datang, Ini Penyebabnya!

Melacak riwayat itu, kita bisa menemukan gambaran besar tentang pola formalisme ala Indonesia untuk melawan pandemi. Kita ambil 3 hal saja : Pertama, penyemprotan disinfektan di ruang terbuka. Kedua, pemeriksaan suhu di tangan. Ketiga, penggunaan hand sanitizer. Formalisme itu kalo diterjemahkan dalam bahasa yang mudah, artinya adalah kebiasaan melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur standar bukan untuk membereskan esensi masalah, tetapi untuk menenteramkan hati. Kalo orang tidak melakukan ritual formal, dia akan merasa gelisah, meski ritual itu tidak ada manfaatnya. Kalau pun tetap terjadi persoalan, maka dia tidak teramat merasa bersalah, tidak pula menyalahkan prosedur standar.

Penyemprotan Disinfektan di Ruang Terbuka 

Sudah berbulan-bulan lalu para epidemiolog menyatakan bahwa penyemprotan disinfektan di area terbuka itu nggak berguna. Penyemprotan disinfektan akan efektif kalau dilakukan di ruang tertutup yang sirkulasi udaranya buruk. Misalnya, area dalam ruang tindakan medis di Rumah Sakit, atau studio bioskop. Tetapi masyarakat (dan juga sebagian pemerintah) masih percaya bahwa penyemprotan disinfektan itu berguna. Sampai dengan bulan lalu, pengurus kampung di tempat saya masih melaksanakan ritual semprot disinfektan untuk area 1 RW, di Minggu pagi. Sebetulnya itu nggak berguna, tetapi kalo tidak dilakukan akan membuat hati pengurus kampung jadi merasa bersalah. Tanpa kegiatan itu, seolah kampung tidak melakukan tindakan preventif terhadap penyebaran COVID. Barangkali kalo Paman Omicron sudah hadir ke Indonesia dan tahu cara kerja orang Indonesia, dia akan tertawa geli.

Pemeriksaan Suhu di Tangan

Sejak awal kehadiran teknologi termometer inframerah, kita tahu bahwa area badan yang perlu diperiksa adalah dahi, atau leher.  Pokoknya, area yang peka dengan perubahan suhu dari dalam tubuh. Kalo sampai tangan terdeteksi hangat, artinya demam sudah gawat. Tapi inilah ajaibnya masyarakat kita. Orang latah memeriksa suhu badan di bagian tangan. Bahkan ada pula yang mengulurkan telapak tangan ke arah sensor termometer. Itu jelas salah besar. Tetapi kalo orang tidak melakukan ritual pemeriksaan suhu yang salah itu, orang akan merasa gelisah, merasa ada sesuatu yang tidak lengkap. Di hadapan Paman Omicron, pemeriksaan suhu itu nggak berguna, karena orang yang terpapar Omicron tidak selalu merasakan demam.

Penggunaan Hand Sanitizer Setelah Cuci Tangan

Di berbagai area publik telah tersedia tempat cuci tangan, plus cairan hand sanitizer. Antara hand sanitizer dengan ritual cuci tangan, yang lebih efektif sebetulnya adalah cuci tangan. Selain membasmi kuman, cuci tangan juga membersihkan tangan kita dari debu. Sebetulnya cuci tangan saja cukup, asal caranya benar. Tetapi ketika ada tawaran hand sanitizer, orang tetap menggunakannya meski sudah mencuci tangan. Kalo tidak mengambil sedikit cairan hand sanitizer, rasanya ada sesuatu yang kurang. Mungkin merasa kurang bersih. Tindakan-tindakan macam ini mengingatkan saya pada kasus-kasus Obsessive Compulsive Disorder. Cuci tangan nggak cukup sekali; kalo bisa sampai lima kali.

Kalo kita menyongsong kehadiran Omicron di Indonesia masih dengan kultur formalisme, ini akan melahirkan rasa frustrasi. Rasa-rasanya kita sudah berusaha mati-matian. Kita menegakkan kedisiplinan protokol kesehatan, tetapi kok masih juga terpapar Omicron? Ya itu karena kita melanggengkan formalisme tanpa benar-benar menyadari dan menguji manfaat ritual setiap protokol kesehatan.

Selamat menyambut kehadiran paman Omicron di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini