Waktu Baca: 2 menit

Baru-baru ini saudara kita yang tinggal di dekat Gunung Semeru terdampak bencana erupsi yang terjadi pada hari Sabtu (4/12) lalu. Beberapa relawan dan bala bantuan dengan sigap menuju ke lokasi bencana untuk membantu mereka yang sedang kesusahan. Tapi, di balik pedihnya duka yang para korban rasakan, ada sekumpulan orang yang ‘nekat’ pergi ke lokasi bencana. Bukannya ikut meringankan beban atau menyalurkan bantuan ke posko, mereka malah asyik bikin konten di lokasi bencana

Lokasi Bencana yang Berujung Spot Selfie

Mengambil foto selfie, baik untuk keperluan pribadi atau konten publik, sebenarnya tidak salah, asal kita tahu tempat, kondisi, dan situasi di mana kita akan mengambil gambar. Mirisnya, nih, beberapa masyarakat Indonesia lupa dengan etika dasar berfoto dan lebih mementingkan untuk mendapatkan gambar, tak terkecuali di tempat-tempat yang rawan dan berbahaya seperti di lokasi dampak bencana. Seperti video yang pernah diunggah oleh akun Instagram @mountnesia pada hari Sabtu (11/12) kemarin. Tampak beberapa orang sibuk berpose dan mengambil foto selfie di lokasi dampak bencana Gunung Semeru. Ada pula tiga perempuan yang nekat berfoto di area yang masih berasap. Apa mereka tidak memikirkan keselamatan diri? Hm, entahlah. 

R.I.P Rasa Empati Manusia ke Sesama

Dari postingan video akun @mountnesia tersebut kita belajar bahwa masih ada manusia di sekitar kita yang memiliki kadar empati rendah. Lokasi dampak bencana yang seharusnya bersih dari pihak luar yang tidak berkepentingan malah dieksploitasi untuk mencari spot selfie yang, kata anak-anak muda sekarang, aesthetic. Apakah tak terbesit di ruang terkecil di hati mereka untuk merasa iba saat berjalan melewati rumah-rumah warga yang hancur dan tertimbun oleh debu volkanik? Apakah mereka tidak ingin berhenti sejenak dan berpikir ulang: Apakah tindakanku pantas? Dan, apakah mereka tak pernah ingin mencoba memposisikan diri sebagai korban bencana dan merasakan perasaan apa yang menyelimuti jika rumah, harta, dan keluarga yang mereka miliki musnah dalam sekejap? 

Sungguh miris melihat mereka yang masih dengan santainya berjalan menyusuri rumah warga, berkeliling, dan berhenti untuk sekedar selfie, seolah penampakan alam sekitar yang masih dipenuhi dengan abu adalah ladang untuk mengais jumlah views dan likes untuk konten medsos. Apakah bagi mereka penderitaan orang lain itu peluang untuk menjadi tenar?

Baca juga : Gempa Bumi dan Erupsi Gunung, Bencana atau Fenomena Alam?

Mendingan Menyumbang Bantuan daripada Selfie

Saat saudara kita terkena musibah bencana, alangkah baiknya jika kita turut meringankan beban dan derita yang mereka rasakan. Para penyintas bencana tak hanya mengalami kerusakan dan kehilangan harta benda. Mereka juga kehilangan anggota keluarga yang mereka sayangi. Bayangkan, mereka menyadari rumah telah rusak saja sudah membuat sedih, apalagi mereka masih kehilangan salah satu anggota keluarga? Yang mereka butuhkan di saat-saat duka seperti ini hanyalah uluran tangan dan kepeduliaan kita atas situasi yang menimpa. Bantulah saudara kita sesuai dengan kemampuan melalui kelompok relawan di daerah kita masing-masing. Tak perlu mengambil gambar aksi manusiawi ini untuk konten medsos, cukup kita saja yang tahu. Toh, kebaikan itu untuk dijalankan dengan tulus tanpa pamrih, bukan untuk ajang pansos pribadi.

Teknologi boleh maju, tapi rasa tidak acuh jangan. Yang namanya orang terdampak bencana itu patutlah kita bantu, bukan malah menjadi objek konten. Mari kita berpikir ulang sebelum kita mengambil gambar di area berbahaya. Jangan sampai karena demi konten, kita lupa sedang ada di lokasi bencana. Kembangkan empati, bukan jumlah feeds!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini