Waktu Baca: 3 menit

Main di Angkringan dan Jogja seperti dua sejoli yang nggak terpisahkan. Di sini semua cerita saling bersua. Dari cerita sambatan yang nggak ada habisnya hingga kabar burung tentang sobat-sobat yang udah lama nggak keliatan wujudnya. Temannya pun bukan cuma mereka yang punya asa tapi juga secangkir teh dan kopi yang ikut menyimak. Asap rokok teman-teman yang membumbung ke atas sampai tempe dan lombok yang gak kalah pedesnya sama omongan tetangga juga saling meramaikan.

Tapi, di sebuah angkringan, yang sayangnya udah nggak ada, aku bertemu dengan orang-orang yang nggak aku kenal sebelumnya. Wajah-wajah yang asing yang dibawa sama mereka yang udah sejak lama berbagai cerita bersama.

Orang Orang Sukseskah Mereka?

Tidak, orang-orang yang hadir bukan mereka yang punya cita-cita jadi CEO. Bukan mereka yang hafal kitab. Bukan mereka yang pejuang PTN dan S2. Lalu yang ada siapa? Justru di angkringan yang ada di pojok lapangan ini ngasih aku kesempatan buat ngobrol sama mereka yang terpinggirkan. Para mantan pecandu narkoba sekaligus mantan begal, mantan bandar pil dan bahkan pekerja seks komersial yang sudah berdamai dengan hidupnya.

Kita malahan sering jadi orang yang terlalu angkuh buat bergaul sama mereka. Makin parahnya, banyak yang ambil kesimpulan seenaknya sendiri. Biasanya sih katanya mereka kurang beribadah. Padahal, buat memahami kondisi aslinya, melibatkan dan mendengarkan suara, racuan mereka wajib dilakukan. Bahkan kalau bukan karena orang-orang yang sering dikesampingkan ini mungkin aja sudut pandangku nggak seluas sekarang. Cerita mereka merubah sudut pandangku.

Didominasi Problem Keluarga

Pilihan mereka buat melakukan hal-hal yang gak masuk di akal kita sebagian besar masalahnya terletak di keluarga. Apakah karena hidup di keluarga pra sejahtera? Hmm… Bukan. Bukan semata-mata karena itu. Apakah karena keluarganya tidak ada yang lulusan sekolah tinggi? Bukan juga. Apa karena kurang berdoa? Hayo ora, nggak ada urusannya sama itu. Jangan dikit-dikit agama lah. Apalagi ya tebakan-tebakan umumnya? Aku dah kehabisan ide soalnya. Coba kalian tebak-tebak sendiri sesuai kebenaran umum yang nggak jarang malah luput.

Orang-orang yang aku temui justru beberapa hadir dari keluarga yang berada. Dan diantaranya juga lahir dari keluarga yang taat agama. Paling sering yang aku temui adalah problematika soal treatment orang tua. Ya, dari kesaksian hidup yang mereka alami sendiri sebagai orang yang sempat memilih jalur yang nyeleneh adalah kurangnya partisipasi keluarga dalam hidup mereka. Bukan hanya kehadiran dalam segi ekonomi, tapi juga dalam segi waktu serta harapan yang sesuai serta bimbingan. (Pernah membaca artikel tentang Encanto di Pakbob.id?) Ketidakhadiran keluarga sebagai pendengar dan pembimbing serta harapan yang tidak sesuai justru bikin anak-anak menjadi krisis jati diri.

Krisis jati diri ini, yang kalau nggak terpantau, akan membawa anak muda lari ke hal-hal yang menerima mereka. Sayangnya, justru keluarga dengan problematika sebagian melahirkan anak yang memilih hidup nyeleweng dari umumnya. Bukan cuma satu – dua orang aja, tapi banyak dan mereka menerima satu sama lain tanpa adanya bimbingan. Bukankah kalian selalu melihat begal hadir secara berkelompok? Itu adalah alasannya. Mereka dikumpulkan oleh masalah yang sama dan saling menerima namun sosok pembimbing tetap tak terisi.

Gengsi Jadi Faktor Lainnya

 

Masih berasal dari pengalaman hidup yang aku lihat di depan mata dan cerita yang hadir, krisis jati diri juga bisa menjurus ke hal-hal yang bersifat materi. Mereka yang hadir di angkringan, yang sudah berdamai dengan masa lalu mereka, mengakui materi adalah cara mereka mendapatkan pengakuan. Barang mahal yang biasanya merka incar adalah motor, sepatu, hape dan untuk perempuan adalah make up. Mereka yang mempunyai uang mungkin bisa aja tinggal membohongi orang tua, katanya sih begitu. Lalu bagaimana yang tidak? Ya, mau nggak mau akhirnya harus terjun ke dunia gelap. Menyebarkan ketakutan di masyarakat dengan sabit di tangan kiri atau berdiri di jalanan gelap menunggu pria hidung belang menjemput.

Barang yang mereka dapatkan seakan-akan memberi mereka sebuah pride yang setelah mereka sadari ternyata nggak ada gunanya sama sekali. Tapi, aku memahami apa yang mereka perjuangkan saat itu. Mereka seperti kita yang mempertahankan eksistensi dengan jadi SJW di Twitter. Mereka hanya ingin mendulang pengakuan yang nggak mereka dapatkan dari lingkungan keluarga.

Bagaimana Akhirnya Mereka Dapat Berdamai?

Sebagian mulai mempertanyakan kondisinya. Sebagian karena pernah berurusan dengan kepolisian. Tapi sebagian besar akhirnya menemukan telinga yang setia dan dapat membimbing. Banyak rintangan yang mereka alami untuk berdamai. Hal yang paling sering disebut adalah akhirnya menemukan orang yang benar-benar menerima dan dapat membimbing mereka. Nggak semua remaja bisa mendidik dirinya sendiri.

 

Masalah kaya gini emang tricky. Tapi nggak bisa selesai kalau kita terus-terus ngasih judgement tanpa memahami. Lalu enaknya apa yang bisa dilakuin sama masing-masing kita ya? Pastinya jawaban dan porsinya berbeda-beda.

Baca juga :
Natal Inklusif di Gereja Santo Padua Muntilan

Layangan Putus dan Herannya Kita Pada Orang Yang Memacari Orang Bermasalah

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini