Waktu Baca: 3 menit

Investasi pasti udah pada yang tau, ya. Banyak banget yang pengen nyobain investasi mulai dari investasi kaya deposito, beli obligasi dan yang paling populer digandrungin, investasi saham. Tapi sebelum mulai investasi kita nggak boleh sembarangan ngelakuinnya. Ada beberapa hal yang harus dimilikin kaya (pastinya, ya) uang dan yang sering dilupain yaitu mindset. Ya, sebelum investasi ya harus punya mindset investor dulu.

Orang-orang yang biasanya nggak memahami mindset investor biasanya malah terjerumus di investasi yang salah. Kebanyakan dari relasiku ya seperti itu. Kegagalan investasi bisa saya sebut kaya merasa mengalami kerugian dan paling umum, nggak mencapai target yang dia punya (biasanya targetnya pengen cepet kaya). Nah kira-kira biar investasi kalian lancar dan nggak salah arah kalian harus punya mindset-mindset ini!

Bukan Buat Jadi Kaya Tapi Masa Depan

Salah pikir yang paling umum terjadi biasanya adalah berpikir kalau invetasi bisa bikin kita kaya. Sebenarnya nggak sepenuhnya salah. Beberapa pengusaha emang terkenal dan menjadi kaya karena investasi di beberapa perusahaan. Contohnya adalah Warren Buffet. Tapi, bedanya Buffet punya cara investasi yang jelas beda, beda jelas sama kita.

Buffet beda sama kita yang kalau udah investasi pol mentok nontonin grafik perubahan harga saham. Orang yang dahulu pernah jadi orang terkaya di dunia pas masa-masa emasnya Bill Gates bukan ngeliatin harga saham tapi juga ikutan “bekerja” di perusahaan investasinya. Beliau ini terjung langsung di lapangan bukan cuma ndodok di depan layar kaya kita.

Kalau begitu sebenarnya investasi buat apa kalau untuk orang-orang seperti kita? Bukan untuk kaya sebenarnya, tapi untuk menyiapkan keuangan masa depan. Investasi bukan digunakan buat kalian jajan boba, buat jajan baso dan lain-lain. Investasi kita gunakan untuk tujuan kalian di masa depan, apakah itu menikah, ganti gadget kalau sekiranya udah perlu ganti, buat S2 dan lain sebagainya.

Sehingga saat kalian mulai investasi nggak salah juga kok buat menunggu sesuai sama target kalian untuk berinvestasi selama berapa tahun tanpa harus sering-sering ngecek harga saham atau instrumen investasi yang lain.

Memilih Instrumen Investasi Sesuai Dengan Kebutuhan

Kalau mau investasi, biasanya banyak yang, kalau kata orang jawa, rubuh-rubuh gedang alias ikut-ikutan yang lain. Yang paling kerap yaitu ikut-ikutan milih investasi di saham padahal ada investasi yang lain kaya deposito, obligasi alias surat utang sama reksadana kalau kalian ngerasa ga mau ribet harus transaksi sendirian – kalau kalian pengen tau apa itu reksadana kalian bisa mampir di link ini (Investasi di Reksadana, Pilihan Terbaik Bagi Pemula – Pakbob.id). Milih investasi harus sesuai sama kebutuhan. Kebutuhannya gimana? Apakah kebutuhan buat ngedate bareng pacar sama selingkuhan kalian? Atau malah ngedate sama pacar temen kalian? Pastinya bukan itu. Kebutuhan biasanya  kita bagi jadi 3 jangka. Jangka pendek, jangka menengah sama panjang. Kalau udah dapet jangka waktunya kalian bisa memilih investasinya. Jangka pendek dengan reksadana pasar uang atau deposito di bank, jangka menengah di obligasi, jangka panjang baru kalian di saham meskipun bukan menjadi satu-satunya hal yang jadi pertimbangan kalian mau milih investasi di mana.

Memahami Keberanian Diri Sendiri

Keberanian apaan nih ya? Apakah keberanian buat ngajak berantem manusia silver? Bukan..bukan. Keberanian disini adalah keberanian ngambil resiko. Resiko apaan nih? Ya yang jelas adalah resiko kerugian akibat investasi. Investasi bukan alat ajaib yang nggak ada resikonya. Biasanya besar resiko berbanding lurus sama besar kemungkinan keuntungan.

Resiko kerugian dari investasi saham jauh lebih tinggi daripada deposito yang keuntungannya lebih kecil daripada saham. Selain mempertimbangkan jangka waktu, memikirkan keberanian kalian menanggung resiko juga harus kalian pikirin. Meskipun kalian mau menyiapkan buat jangka panjang tapi nggak kuat ngeliat harga saham yang grafiknya naik turun, bisa kok memilih buat investasi di reksadana pasar uang atau di deposito bank. Investasi itu fleksibel tergantung kebutuhan dan diri sendiri.

Mulai Investasi Boleh, Kerja Harus Tetap Jalan

Nah, ini yang sering luput di mindset kita. Mulai investasi bukan berarti tiba-tiba kita bisa bayangin hidup leha-leha tanpa kerja. Masih inget soal Warren Buffet di atas kan? Iya, beliau investasi juga bekerja. Bekerja memajukan perusahaan yang dia beli sahamnya. Kecuali kita emang jadi pemilik saham mayoritas, kita jelas nggak bisa copas caranya Buffet.

Tapi, kita bisa ambil intinya, yaitu tetap bekerja. Karena kalau nggak ada penghasilan dari perkerjaan mau dapet uang darimana? Semakin banyak uang yang bisa dihasilin makin banyak juga uang yang bisa kita investasiin.

Gimana? Makin tertarik buat mulai investasi atau malah jadi ragu-ragu buat mulai karena masih baru dong soal investasi dan masih harus belajar lagi? Investasi itu penting banget dan menguntungkan kalau kita paham mindset-mindset investasi yang tepat. Dan terakhir ni, cari guru investasi itu kaya cari guru agama. Kalau salah berguru bisa bahaya buat diri kita sendiri.

Baca juga :
Strategi Menjadi Reseller Berpenghasilan Tinggi

Raditya Dika Pensiun Dini, Kuncinya Bisa Atur Do it!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini