Waktu Baca: 3 menit

Lewat pameran World Press Photo, kita belajar banyak mengenai jurnalistik.

Mata simbah pas itu mondar-mandir dari kiri ke kanan. Menyusuri berbagai tulisan yang tercetak di lembaran kertas yang ukurannya cukup gede. Membolak-balik kertas keabu-abuan. Wajahnya kadang sembunyi dibaliknya. Di halaman yang berlawanan dengan apa yang simbah liat waktu itu ada gambar anak kecil lusuh. Aku nggak dong waktu itu apaan. Tapi yang jelas dari matanya dia cerita kalau hidupnya nggak baik-baik aja. Setelah itu aku tau, di halaman itu, anak itu bercerita tentang Palestina.

Pameran World Press Photo

Kaya pake telepati, foto itu mancing aku buat tau lebih lanjut tentang apa yang terjadi di wilayah Palestina. Sebuah negara dengan konflik yang nggak selesai. Pistol dan tank. Pesawat dan rudal menghiasi konflik Palestina dan Israel. Mungkin kalau bukan karena foto itu aku jadi nggak tertarik sama perang yang konon katanya merebut tanah terjanji.

Foto jurnalistik merubah kemalasanku jadi keinginan buat cari tau. Kaya jadi cover yang cantik dan menarik dan meminta buat mengulik lebih dalam lagi. Foto dan berita nggak pernah bisa terpisahkan. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Sebuah aplikasi media sosial, Instagram, membawaku bereuni dengan foto jurnalistik beberapa tahun lalu. Ia mengajakku bertemu dengan World Press Photo yang sekarang sedang memamerkan ceritanya di Yogyakarta

Sekilas Tentang World Press Photo

Pameran World Press Photo

Menampakkan diri pertama kali di negeri Belanda tahun 1955. World Press Photo adalah organisasi independen dan non-profit yang secara rutin menganugerahkan penghargaan buat fotografer jurnalistik yang sukses bercerita lewat foto-foto yang lahir dari kamera mereka. Nggak cuma memberikan penghargaan, World Press Photo juga merangkul fotografer yang lain melalui seminar dan webinar yang mereka helat.

Cerita Apa Aja yang Ada di Pameran?

Memasuki pameran World Press Photo buatku ibarat memasuki perpustakaan. Bukan sebuah bangunan yang berisi buku-buku tebal tapi kisah-kisah yang didongengkan secara visual. Kaya buku yang beranekaragam genrenya, pameran World Press Photo punya segudang kisah di sana.

Ketika masuk aku udah mendapat sambutan foto-foto bertemakan perang. Wajah-wajah letih, lesu, sebuah torpedo yang tertanam bikin aku memahami beratnya perang lewat lensa mereka. Beberapa foto yang lain menceritakan mengenai COVID-19. Hanya terlihat satu fotografer asal Indonesia, Joshua Irwandi.

Fotografer yang lain pun nggak mau kalah dalam menceritakan sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan unik terekam melalui foto tentang keluarga yang mengadopsi boneka. Di lain cerita, ada kisah tentang keluarga di utara India yang bergelut dengan dinginnya iklim. Dingin yang diakibatkan salah satunya karena berdekatan dengan gunung yang berdiri gagah, Himalaya, tergambar dengan apik. Mereka yang harus berselimutkan baju tebal dan nggak jarang harus hidup di bawah atap es.

Beragam Komposisi

Pameran World Press Photo

Soal komposisi, bukan cuma komposisi umum, kaya rule of thirdleading lines dan sebagainya, yang mempercantik hasil-hasil lensa kamera. Kompisisi yang tersulit, break the rules alias mengobrak-abrik komposisi yang udah umum, ikutan show-off keindahannya di pameran. Foto-foto yang ditemani sama break the rules terlihat berantakan. Tapi, bagai pesulap, bimsalabim, foto-foto yang ada justru semakin enak kita lihat. Semakin nyaman merangkul mata kita.

Berbagai foto di sana juga dikemas dengan beberapa genre fotografi. Nggak cuma foto yang sejalan sama street photographylandscape dan potrait hingga macro pohotography ikutan berkisah. Landscape-landscape yang ada menggambarkan keindahan serta kengerian. Potrait yang menceritakan kebahagiaan dan keletihan. Serta macro yang mengkisahkan kelahiran.

Kenapa Kamu Harus ke Sini?

Sebagai fotografer yang baru awal-awal bercerita lewat lensa kamera, dan mungkin kamu juga, mencari referensi itu penting. Bukan cuma mencoba berjalan-jalan di galeri explore Instagram. Bukan cuma duduk memperhatikan webinar dengan sejuta tips foto. Datang ke pameran membawa rasa yang berbeda.

Di pameran rasa yang hadir adalah rasa langsung berinteraksi dengan sang fotografer. Melihat foto-foto di sana buatku kaya duduk bersila bersama kreator yang terus-terusan mendongeng di depanku. Berpindah pandang ke satu foto ke foto yang lain bertemu dengan satu fotografer ke yang lain yang siap berkisah.

Bukan cuma semata-mata belajar soal komposisi, melalui pameran juga kita juga ikutan belajar membuat foto yang berbicara. Sesuatu yang susah untuk fotografer sekarang. Dan jujur aja, bercerita lewat foto emang jadi the next level of photography.

Sampai Kapan Pamerannya dan Dimana?

World Press Photo sedang menunggu kedatanganmu di Pendhapa Art Space. Dia dan ratusan foto yang ada tetap di sana sampai besok tanggal 9 Januari 2022. Kalau kamu pengen bertemu dengan para fotografer World Press Photo, kamu bisa datang di hari Senin-Sabtu jam 09.00 sampe 20.00 WIB.

Baca juga :
Antologi Space: Pilihan Tepat Untuk Mengerjakan Tugas

Kebun Kopi Bintang : Hidden Gem di Salatiga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini