Waktu Baca: 2 menit

Tidak banyak orang kita yang doyan berkunjung ke Museum. Kalo nggak dipaksa oleh sistem dengan kemasan Studi Wisata, barangkali kita ogah ke museum. Pasalnya, kita nggak bisa banyak belajar secara interaktif di museum. Saya termasuk orang yang punya minat berkunjung ke museum. Tetapi itu pun dengan catatan, saya harus terlebih dulu tahu banyak cerita atas koleksi museum tersebut. Atau setidaknya, di museum tersebut ada pemandu yang interaktif yang siap menjelaskan koleksi museum. Bagi saya, keberadaan pemandu museum itu penting. Tanpa adanya pemandu, maka museum hanyalah kumpulan informasi pasif yang kita harus tebak-tebakan dengan deskripsi barang koleksi.

Kerennya Museum Sandi

Belum lama ini saya berkunjung ke Museum Sandi. Lokasinya ada di Jogja, tidak jauh dari tugu pal putih. Secara koleksi, sebetulnya museum ini kecil saja. Tidak banyak barang koleksi yang mereka miliki. Tetapi dengan koleksi yang sedikit itu, kunjungan ke museum jadi menyenangkan karena ada pemandu yang interaktif. Penjelasan tidak text book banget, tetapi pemandu bisa bercerita sesuai konteks pikiran pengunjung. Museum Sandi ini dikelola oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Untuk berkunjung ke museum, kita tidak perlu bayar tiket. Kita pun tidak perlu memberi tip pada pemandu. Suasana museum pun khas dengan aktivitas intelijen, misalnya adanya alat penyadap, dan mobil dinas Nissan Terrano warna hitam metalik layaknya orang-orang agen rahasia. Karena saya merasa puas dengan kunjungan pertama, saya pun merekomendasikan pada rekan-rekan saya untuk coba berkunjung ke sana.

Baca juga : Ketika Anak Muda Sambat di Medsos, Saya Malah Mendirikan Museum

Museum Pusat Dirgantara Mandala

Belum lama ini juga saya berkunjung ke museum ini, bersama dengan beberapa kawan. Museum yang berisi pesawat milik TNI AU ini secara koleksi sebetulnya keren. Dengan catatan, keren bagi yang paham dunia milter dan kedirgantaraan. Bagi yang tidak paham, maka deretan pesawat hanya meninggalkan kesan megah, tanpa tahu cerita sejarah keberadaan pesawat tersebut. Ketika kita datang, kita tidak akan mendapat pemandu kalau kita tidak meminta secara khusus. Demikian pula dengan rombongan anak-anak sekolah, datang ke museum pun hanya lewat begitu saja melihat koleksi, dan berfoto di depan pesawat. Berhubung saya cukup tahu sejarah, maka saya bisa bercerita banyak tentang koleksi pesawat tersebut pada kawan-kawan saya.

Ketika saya asyik bercerita menjelaskan koleksi pada teman-teman, saya tahu ada kelompok pengunjung lain yang memandangi saya. Barangkali dia merasa aneh, ada pengunjung yang bisa cerita banyak soal koleksi pesawat. Barangkali juga dia menganggap saya sok tahu. Tetapi mau bagaimana lagi, tanpa ada penjelasan, maka kunjungan ke museum jadi menyedihkan dan membosankan. Toh tidak setiap pengunjung akan inisiatif googling untuk cari tahu cerita soal setiap koleksi museum.

Dua Jenis Museum

Dua museum tadi adalah contoh yang berbeda tentang cara mengelola museum. Keduanya sama-sama plat merah dan milik negara, tetapi bisa memberikan sensasi yang berbeda pada pengunjung. Ada museum yang bisa memberikan pemandu yang interaktif, ada yang tanpa pemandu. Soal gratis atau bayar tiket, itu tidak masalah. Kalau pun harus bayar tiket mahal, asal ada pemandunya, maka kita akan merasa mendapatkan edukasi. Kita berkunjung ke museum bukan hanya untuk berfoto saja, kan? Maka dari itu kehadiran pemandu museum itu penting. Bahkan kalau perlu, pemandu bisa mengatur perilaku pengunjung, dan mengarahkan cara berpikir pengunjung. Situasi itu saya alami ketika berkunjung ke Museum Ullen Sentalu.

Saran saya, kalau mau berkunjung ke museum, pastikan ada pemandu. Kalau memang perlu bayar pemandu, tidak ada salahnya kita merogoh kocek. Selamat berkunjung ke museum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini