Waktu Baca: 3 menit

Non-Fungible Token atau karapan akrabnya, NFT, udah jadi bahan omongan masyarakat terutama buat kaum muda. Produk era digital ini memungkinkan kita buat jualan aset dengan mata uang crypto. Bedanya sama crypto, karena ini NFT maka nggak bisa kita pecah. Ibarat duit 50 ribu bisa kita pecah jadi 10 lembar 5 ribuan, NFT ibarat hape yang kalau kamu pecah hilang fungsinya. Tapi, jangan khawatir, potensi NFT ini sebenarnya awesome banget.

Karena NFT ini jualan aset, kalau di dunia nyata kita sebut aja barang, bisa aja kita manfaatin buat jualan karya visual yang kita telurkan. Foto, desain grafis, sampe gambar bisa kita masukan buat meramaikan pasar NFT. Bahkan salah satu desainer kawakan Indonesia, Rio Purba udah terjun di dunia NFT. Nah kira-kira sejauh apa potensi NFT bisa bermanfaat buat pelaku seni visual di Indonesia?

Problematika Plagiarisme

Masih ingat soal masalah Pakdhe Indro pas marah-marah karena Warkop DKI diplagiat Warkopi? Ini kaya tugasmu yang kena ganti dikit-dikit sama temen yang nyontek. Ya, plagiarisme atau bahkan pencurian karya marak kejadian di Indonesia. Meskipun jarang di dunia fotografi (karena bisa diakalin sama EXIF) tapi di desain visual dan gambar jadi sasaran empuk.

Pernah aku membaca di Twitter, ada seniman WPAP Desain dicuri karyanya dan dijual di tempat lain dengan harga yang sampai belasan juta. Di dunia seni yang lain, ada seseorang seniman seni gambar tangan yang gambarnya dicuri buat dijual kembali dengan harga yang sama fantatisnya.

Plagiarisme seni visual kaya masalah korupsi yang nggak habisnya. Sekali kamu unggah karyamu di internet sama seperti memancing para maling karya buat datang. Tadinya kamu pengen terkenal karena karyamu, justru orang lain yang menikmati tanpa melibatkan kamu di dalam pembagian keuntungan.

Migrasi ke NFT

Bermigrasi ke NFT sebenarnya nggak sepenuhnya menyelesaikan masalah plagiarisme atau penjualan karya tanpa seijin kita. Pernah ada masalah dimana salah satu artis DevianArt yang karyanya tiba-tiba dijual di NFT tanpa seijinnya. Memang ini masih jadi masalah yang kita coba cari solusinya.

Tapi, kalau kamu pertama kali menjual karyamu atau mengunggah karyamu di NFT bisa aja menyelamatkan nasibmu dari plagiarisme. Kenapa? Karena NFT memiliki verifikasi blockchain (yang bisa kita bahas di artikel yang lain). Blockchain bikin keaslian atau kesahan kepemilikan sebuah karya bener-bener terjaga.

Ketika kamu menggunakan NFT sebagai tempat jualan karyamu sebenarnya bisa aja karyamu diimitasi. Eitt tenang dulu. Meksipun karyamu mungkin aja kena imitasi tapi tetap bernilai jauh lebih rendah daripada yang asli. Bak lukisan Monalisa, kalau kamu beli imitasinya di toko ijo atau oren harganya nggak akan setinggi aslinya. Ya, mungkin aja kamu jadi Da Vinci ala-ala di dunia NFT.

Jangan Lupain Marketingnya

Namanya jualan ya tetep aja jualan. Walau kamu jual asetmu di NFT bukan berarti orang-orang bakalan membeli karyamu secara ujug-ujug. Salah satu faktor karyamu terjual di NFT ya salah satunya nama besarmu.

Salah satu CEO Twitter, Jack Dorsey menjual Twit pertamanya seharga 42 miliar rupiah! Coba kalau Jack Cuma sekedar bapak-bapak pecatur di cakruk. Mana mungkin dia bisa menjual twitnya yang melebihi gajimu dalam 100 tahun.

Marketing di NFT salah satunya berfungsi buat memperkenalkan siapa kamu. Ya misalnya, Memperkenalkan cerita dari karyamu. Seperti sebuah lukisan, NFT bisa aja menjadi status sosial ketika mempunyai cerita atau lahir dari seseorang yang punya nama.

Beberapa cara yang bisa kamu lakuin buat memasarkan NFT mu pastinya nggunain media sosial. TikTok, Twitter sampe Instagram bisa jadi kendaraan promosimu. Bisa aja kamu membuat sebuah teaser soal karya NFTmu di sana buat merangkul konsumen sama engagement.

Buat gimmick, kamu juga bisa memasarkan proses pembuatan NFTmu. Kalau kamu pernah berkutat di seni murni, salah satunya menggambar dengan tangan, gambar asli atau yang memiliki tingkat kesulitan dan makna tinggi akan terjual dengan harga yang kompetitif. Menceritakan latar belakang dan prosesmu bisa aja menarik simpati para pembeli NFT dan menghargai karya visualmu lebih daripada sekedar kamu hanya memberikan teaser NFTmu semata. Di sisi lain kekritisanmu dalam berkarya dapat menjadi personal brandingmu kelak.

Tertarik jualan aset visualmu di NFT? Coba aja. Mungkin kamu bisa jadi da Vinci, Rembrandt, van Gogh atau Steve McCurry di dunia NFT penuh potensi.

Sumber gambar: Foto oleh Tranmautritam dari Pexels

Baca juga :
Bhinekka dan PT POS Indonesia Bersatu! Apa Jadinya?

Gekrafs Hadir di Yogyakarta

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini