Waktu Baca: 2 menit

De gustibus est non disputandum. Pepatah bahasa Latin itu bilang bahwa urusan selera memang tidak dapat diperdebatkan. Ada kaum perempuan yang suka pada cowok-cowok yang cerdas. Orang bilang itu adalah sapioseksual. Ada pula kaum perempuan yang suka pada cowok-cowok golongan ‘ngabers’ , yang punya motor KLX atau ninja. Juga ada kaum perempuan yang seleranya pada cowok-cowok berseragam sekolah kedinasan, tentara maupun isilop. Sekali lagi, itu soal selera; tidak dapat kita perdebatkan. Masalahnya, ada golongan cowok yang dengan sengaja memanfaatkan identitas seragam, status pekerjaan, dan berbagai prestige itu untuk menarik perhatian para cewek. Targetnya adalah golongan cewek yang bersera pada cowok berseragam. Tidak jarang cowok berseragam ini lantas berevolusi menjadi predator seksual.

Baca juga : Jatuh Cinta Pada Tipe Orang yang Sama

Novia Widyasari, mahasiswi asal Pasuruan akhirnya menenggak sianida setelah mengalami perundungan dari pacar plus keluarga calon mertuanya. Ini sebuah kisah klasik, ketika orang memanfaatkan identitas untuk mencari keuntungan dari hubungan asmara. Saya sendiri pernah tahu ada kawan perempuan yang habis-habisan tertipu oleh lelaki yang menyaru sebagai dokter dan ASN. Mengapa kasus-kasus itu bisa terjadi? Ya karena si pelaku menemukan adanya peluang untuk memperalat korban, memojokkan situasi korban. Ada berbagai kalkulasi dari pelaku yang berujung pada perhitungan bahwa pelaku tetap akan mendapatkan keuntungan dari strategi itu. Kalo pada kasus mbak Novia, dua keuntungan yang didapatkan Randy adalah urusan seksualitas dan relasi kuasa.

Kisah Klasik Predator Seksual

Dari sketsa film yang menggambarkan situasi era Yunani dan Romawi kuno, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa cinta yang berawal dari urusan status dan seragam itu sudah terjadi. Mungkin kalo ada narasi kehidupan jaman Kutai atau Tarumanegara, kisah serupa juga akan muncul. Ini adalah kisah yang selalu ada di berbagai belahan dunia dan berbagai jaman, hingga pada hari ini. Soal siapa sosok yang pantas menjadi target rasa jatuh hati, itu soal selera. Tak ada yang salah dengan urusan selera. Kisah klasik ini juga lantas ditunggangi dengan semangat patriarki, sehingga relasi kuasa antara lelaki dan perempuan terjadi di situ. Dalam relasi kuasa itulah maka predator seksual menemukan tempat bertumbuh yang ideal.

Didiklah Anak Lelaki untuk Menghormati Perempuan

Educate your son to respect women. Itu pepatah yang kembali santer viral di pekan ini. Tetapi menurut saya yang lebih baik adalah ‘didiklah anakmu entah lelaki atau perempuan, untuk menghormati siapapun’. Penghormatan hak-hak orang lain tidaklah terbatas pada urusan lelaki atau perempuan. Itu adalah tanggung jawab setiap umat manusia. Meski predator seksual lebih sering muncul di kalangan lelaki, tetapi bukan berarti tidak ada predator seksual dari kalangan perempuan. Meski relasi kuasa lebih banyak terjadi antara lelaki terhadap perempuan, tetapi dari arah berlawanan pun bisa saja terjadi.

Pacaran bukan Persoalan

Jatuh cinta itu adalah hak asasi manusia. Praktek pacaran adalah salah satu cara untuk menuangkan perasaan cinta itu. Meski tidak setiap religi sepakat dengan urusan pacaran, tetapi itu sama sekali tidak dapat meniadakan cinta. Adanya predator seksual yang bertumbuh dalam relasi pacaran, bukan berarti yang menjadi pemicu persoalan adalah relasi pacaran. Entah ada atau tidaknya relasi pacaran, namanya predator seksual tetap bisa eksis. Demikian pula relasi pacaran bisa terjadi dengan murni atau ditunggangi predator seksual. Maka dari itu, solusi urusan predator seksual yang menyaru sebagai cowok berseragam bukanlah dengan meniadakan relasi pacaran. Pendidikan etika, tata nilai dan kemanusiaan, itulah solusi terbaik untuk membasmi predator seksual. Penghormatan terhadap orang lain dan penghargaan terhadap cinta yang luhur bisa muncul karena orang sadar dengan etika, tata nilai dan kemanusiaan.

Nah, sudah bereskah kita dengan pendidikan etika tersebut?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini