Waktu Baca: 3 menit

Essensialisme masih terdengar asing di telinga kita. Gaya hidup ini pertama kali saya temukan di buku yang ditulis oleh Greg McKeown yang berjudul ‘Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less’. Buku terbitan tahun 2014 ini berisi poin-poin dasar dari prinsip hidup essensialisme, yang sekilas hampir mirip dengan gaya hidup minimalisme. Di artikel ini saya ingin membagikan empat poin dasar dari gaya hidup essensialisme, sebuah lifestyle yang mengutamakan esensi atau kepentingan. Jika kalian tertarik untuk memulai gaya hidup yang sederhana dan terkesan basic, kalian wajib menyimak sampai akhir.

  1. Pilih Mana yang Penting

Seperti namanya, gaya hidup essensialisme menomorsatukan ‘essence’ atau hal penting saja. Prinsip ini tak sebatas pada urusan memilih barang mana yang perlu dibeli saat berbelanja. Ini juga tentang kegiatan dan hal apa saja yang memang penting untuk dipilih dan dilakukan. Bagi McKeown, seorang essentialist lebih memfokuskan diri pada upaya untuk memilih hal-hal penting ketimbang meraup banyak kegiatan yang dapat ia lakukan dalam satu waktu. Ia menganggap ada banyak hal yang sebenarnya sepele dan tak penting. Ini berkebalikan dengan prinsip umum masyarakat yang menganggap semua hal itu penting dan patut dicoba.

  1. Produktivitas Tak Selamanya Baik

Kita sering menemui postingan berbau produktivitas di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Menjalani kehidupan serba produktif sebenarnya tak salah, selama kita tahu batasan kapan diri kita harus berhenti agar tak menjadi over-productive. Dalam gaya hidup essensialisme sendiri, produktivitas tak begitu penting. Malahan isu produktivitas menjadi objek kritik. Berbeda dengan mereka yang condong memuji gaya hidup ‘sibuk’ dan bersifat workaholic, para essentialist lebih suka ‘menyendiri’ dan memanfaatkan waktu untuk fokus ke hal tertentu. Dengan kata lain, gaya hidup essensialisme hanya mementingkan segelintir hal saja. Selain itu, mereka juga tak lupa meluangkan waktu untuk bermain dan beristirahat. Dengan ini, kualitas yang dimiliki para essentialist dalam melakukan suatu pekerjaan dapat dipenuhi secara maksimal karena mereka mempunyai waktu dan tenaga yang lebih baik untuk fokus tanpa merasa terburu-buru.

Baca juga : Urip Selo adalah LIfestyle Jogja

  1. Berani Berkata ‘Tidak’

Kita sering berhadapan dengan suatu kasus ketika orang terdekat meminta bantuan saat kita sedang mengerjakan tugas penting yang sebenarnya tidak bisa kita tinggalkan. Demi menjaga keharmonisan hubungan, kita mau tak mau musti berkata ‘Ya’. Alhasil, kita terpaksa menunda pekerjaan yang ongoing untuk hal yang bahkan tak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan kita. Keberanian kita untuk menolak sesuatu yang sebenarnya kita tak terlalu yakin untuk dilakukan masih nihil dewasa ini. Tekanan sosial yang tak nyata seringkali memaksa kita untuk selalu menganggukkan kepala dan mengiyakan semuanya, yang akhirnya membuat diri kita sibuk dengan masalah orang lain, buka milik kita.

Bagi para essentialist, berkata ‘tidak’ ke hal yang tidak penting adalah suatu keharusan. Bukannya sok penting atau jual mahal, mereka hanya beranggapan jika terlalu sering melibatkan diri di kehidupan orang lain hanya akan menyeret mereka jauh dari roda kemudi hidup. McKeown mengungkapkan, if you don’t prioritize your life, someone else will. Kalau kamu tidak bisa memproritaskan hidupmu, maka seseorang lah yang akan melakukannya. Dengan kata lain, seseorang akan mudah memanfaatkan hidup kita untuk kepentingan pribadinya jika kita tidak punya kontrol penuh pada hidup yang sedang kita jalani.

  1. Mulai dengan Langkah Kecil

Memulai suatu hal baru biasanya bersamaan dengan tujuan-tujuan yang ambisius dan berapi-api. Malahan, tujuan-tujuan ini terkesan terlalu berlebihan sampai kita bingung bagaimana mencapai itu semua. Essensialisme sebenarnya sudah menyinggung masalah pembualan tujuan seperti ini. Daripada sibuk menyerukan big goals yang belum tentu dapat tercapai, alangkah lebih baiknya jika kita membedah ulang tujuan tersebut ke bagian-bagian kecil yang bisa kita lakukan. Dengan ini, hasil kecil tapi nyata dapat kita raih dengan lebih mudah dan kita bisa menghemat tenaga dan pikiran.

Itulah empat prinsip hidup essensialisme yang bisa kalian coba terapkan di kehidupan sehari-hari. Tak perlu menerapkan semuanya, pilih saja yang bagi kalian mudah dulu. Ingatlah bahwa yang mempunyai kendali atas kehidupan kita adalah kita sendiri. Jangan sampai kita terbawa arus sampai hilang kuasa atas kehidupan berharga yang kita miliki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini