Waktu Baca: 3 menit

Pandemi yang seolah tanpa ada ujungnya membuat warga Singapura berdamai dengan korona karena tak ada pilihan lain.

Minggu ini menjadi pengalaman berharga bagi saya karena saya harus melakukan traveling ke Singapura dalam keadaan pandemi. Saya berangkat kesana dengan menggunakan program vlt yang mana memungkinkan saya tiba di sana tanpa harus melalui prosedur karantina. Namun, meskipun tanpa karantina, saya harus menyiapkan banyak sekali dokumen untuk membuktikan saya bebas dari virus korona. Belum lagi ketika tiba di sana saya harus kembali menjalani prosedur tes PCR. Namun saya lakukan semua itu dengan kesadaran penuh bahwa saya ‘butuh’ ke Singapura kali ini.

Setelah prosedur yang panjang, saya menuju ke hotel dengan taksi. Saya memilih taksi karena sudah cukup lelah dengan prosedur prosedur untuk masuk ke wilayah Singapura. Bisa saja saya berhemat dengan naik bus misalnya. Tapi waktu sudah larut malam dan saya memang sudah bertekad merelakan uang yang cukup banyak untuk naik taksi.

Perbincangan Dengan Supir Taksi

Saya naik taksi dengan supir seorang keturunan India. Sepanjang perjalanan ia senang menceritakan keluarganya: anaknya, istrinya dan pekerjaannya. Ia mengatakan bahwa ia sudah lelah dengan pandemi saat ini. Sebagai supir taksi, ia sangat mengandalkan kedatangan dari bandara. Nah, kalau bandara sendiri sepi bagaimana? Darimana ia bisa mendapatkan sumber penghasilan?

Ia lalu mengatakan bahwa banyak warga Singapura sekarang sudah berani keluar dan melakukan Work from Office. Mereka menyadari bahwa tidak bisa selamanya mereka merasa ketakutan.

Sudah Mengenal Korona
Singapura berdamai dengan korona
Suasana di Orchard Road yang sudah ramai

Esoknya, saya harus pergi ke rumah sakit untuk kepentingan saya. Di sana saya bertemu lagi dengan seorang dokter bedah. Ia juga menyebut bahwa sekarang aturan aturan perjalanan sudah lebih relaks. Ia mengaku tidak percaya akan ada karantina besar besaran seperti sebelumnya.

“Pada kasus sebelumnya, pemerintah belum bisa mengira ngira karakter virus ini. Tapi sekarang? Kita hampir mengenal seluruh karakteristik virus ini,” ujar dokter itu.

Menurutnya, dengan mengenal virus korona, pemerintah sudah lebih mengerti bagaimana cara menghadapi masalah ini. Pun dengan warga Singapura yang sudah menerima bahwa mereka harus hidup berdampingan dengan virus asal Wuhan ini.

Tidak Takut Omicron
singapura berdamai dengan korona
WN asing sudah mulai masuk ke Singapura

Ketika saya pergi ke Orchard Road, tampak bahwa area itu dipadati banyak orang. Mereka semua taat protokol. Bahkan ketika kita menurunkan masker agak terlalu lamapun mereka tak segan segan menegur kita. Meski demikian, untuk jarak antar orang memang masih kadang terlalu dekat. Cuma, untuk masker, mereka sangat ketat.

Tampaknya mereka tak terlalu terpengaruh dengan Omicron. Meskipun Omicron adalah variant baru yang belum diketahui jenisnya, namun warga Singapura mulai realistis dan menganggap bahwa Omicron tak akan berbeda jauh dengan varian korona lainnya. Berbahaya? Mungkin. Letalitas tinggi? Tampaknya tidak.

Hidup Dengan Korona

Menjalani hidup dengan korona nampaknya hal yang mustahil di awal pandemi. Namun kini banyak orang, seperti warga negara Singapura, sudah menerimanya sebagai proses kehidupan. Kita belum tahu kapan harus melepas masker. Kita juga belum tahu kapan bebas salaman dan berpelukan. Berita buruknya, kecil kemungkinan korona akan pergi selamanya. Kita hanya menunggu hingga tubuh kita bisa cukup melawan virus ini.

Untuk sekarang, pilihan terbaik adalah memastikan keselamatan dengan memenuhi protokol protokol kesehatan. Kita harus belajar bahwa kedisiplinan bisa menyelamatkan nyawa kita, jauh lebih efektif daripada mendebat apakah korona ada atau tidak. Soal kebijakan berubah berubah bagaimana? Ah, sebenarnya pemerintah tidak jauh jauh dari kita. Kalau kita kurang tahu, mereka mungkin baru pada level ‘agak tahu’. Sebaiknya ya harus ada pemakluman jika ada kebijakan yang berubah ngalor-ngidul. We are in the same situation.

baca juga :
Korona di Jepang, Sebuah Cerita Dari Anak Negeri

De-Globalisasi Hari ini Bukan Karena Korona

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini