Waktu Baca: 3 menit

Kalau kamu lagi cari serial televisi yang ringan tapi menghibur, saya sarankan kamu untuk nonton sitkom dengan judul The Big Bang Theory. Belakangan ini, saya menonton sitkom ini untuk menghibur diri saya setelah seharian bekerja di kantor. Kalau habis seharian kerja, otak saya tidak bisa lagi mencerna film yang berat-berat, jadinya saya memutuskan untuk nonton sitkom yang ceritanya ringan, durasinya pendek, dan bisa bikin saya tersenyum bahkan tertawa. Nah, The Big Bang Theory lucu dan seru ini menjadi pilihan saya.

Soal Big Bang

Nah, The Big Bang Theory sendiri merupakan sitkom buatan Chuck Lorre dan Bill Prady yang menceritakan empat karakter kutu buku, yakni Sheldon Cooper, Leonard Hofstadter, Howard Wolowitz, dan Rajest Koothrappali. Lucu dan seru, itulah Big Bang Theory dengan tokoh tokohnya. Asal kalian tahu, mereka berempat ini bukan kutu buku biasa, tapi semuanya memiliki gelar PHD (gelar doktor) dalam bidang sains kecuali Howard Wolowitz yang ‘hanya’ memiliki gelar magister dalam bidang mesin dan selalu diolok-olok ketiga temannya karena hanya ia yang tidak punya gelar PHD dalam lingkaran pertemanan mereka.

Usia mereka pun masih sangat muda, belum mencapai usia 30 tahun tapi pada sudah punya gelar PHD. Sheldon Cooper bahkan memiliki dua gelar PhD dalam bidang fisika. Blio bahkan lulus S1 pada usia 14 tahun dengan predikat summa cum laude dan menerima gelar PhD ppada usia 16 tahun sebelum empat tahun kemudian menerima gelar PhD keduanya.

Dua sahabatnya yang lain pun sama-sama jenius, lho! Leonard Hofstadter memiliki gelar PhD dalam bidang fisika eksperimental. Rajesh Koothrappali pun memiliki gelar PhD dalam bidang astrofisika. Meskipun tidak sepintar Sheldon Cooper, mereka berdua berhasil mendapatkan gelar PhD tersebut sebelum usia 30 tahun, jadi betul-betul pintar, beda dengan saya yang baru lulus S1 setelah tujuh tahun kuliah, udah kayak Nobita aja. Hahahaha.

Sebagai sebuah sitkom, The Big Bang Theory gak beda jauh dengan sitkom lainnya seperti Friends atau How I Met Your Mother, cuma beda latar belakang ceritanya aja yang menceritakan serba-serbi kehidupan para kutu buku atau nerds. Sesuai judulnya The Big Bang Theory artinya adalah ‘Teori Big Bang’ atau ledakan dahsyat yang merupakan awal mula penciptaan alam semesta berdasarkan kajian sains, terutama bidang kosmologi, jadi sitkom ini banyak banget membahas teori-teori sains yang bikin saya melek sains.

Apakah Big Bang Theory Jadi Membosankan?

Tenang, meskipun membahas sains, sitkom ini tidak membosankan kayak film dokumenter kok. Keempat kutu buku ini pun memiliki kehidupan pribadi yang menarik untuk kita simak.  Malah, sitkom ini gampang banget kita cerna soalnya menceritakan kekonyolan para kutu buku yang bikin saya tertawa terbahak-bahak.

Seperti Sheldon Cooper yang hidupnya teratur banget, bahkan untuk sekadar buang air besar saja dia punya jadwalnya sendiri. Leonard Hofstader yang tidak bisa melihat tanpa kacamatanya karena matanya betul-betul rabun dan ia memiliki kondisi medis lactose intolerant, yakni ketidakmampuan tubuhnya untuk mengkonsumsi laktosa, jadinya pilih-pilih makanan banget. Howard Wolowitz yang masih tinggal bersama bersama ibunya di usianya yang sudah dua puluh enam tahun, dan Rajesh Koothrappali yang langsung tidak bisa berbicara sama sekali di hadapan wanita kecuali ketika sedang mengkonsumsi alkohol.

Mereka berempat sangat menyukai hal-hal berbau pop culture seperti superhero hingga anime. Tidak lupa, mereka juga mengkoleksi berbagai macam pernak-pernik pop culture tersebut seperti buku komik hingga action figure langka yang harganya mahal.

Dalam keadaan senggang, mereka bisa berjam-jam memperdebatkan siapa yang akan menang dalam duel, Superman, atau Hulk dengan menggabungkan pengetahuan mereka sebagai penggemar superhero dan ilmu yang mereka miliki sebagai doktor dalam bidang sains. Jadinya betul-betul relate dengan kehidupan kita yang pastinya suka banget sama pop culture.

Sisi Kelam Para Tokoh

Keempat kutu buku ini memiliki sisi kelamnya sendiri-sendiri. Contoh saja Sheldon Cooper yang kerap kali mendapat bullyan saat sekolah, soalnya beliau masuk SMA pada umur 9 tahun. Sementara itu, Leoanard Hofstader yang seringkali dibanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya jauh lebih sukses. Sementara itu, Howard Wolowitz kehilangan ayah kandungnya yang pergi begitu saja tanpa kabar saat berusia 11 tahun. Lalu, Rajesh Koothrappali kerap kali mengeluhkan anomali-anomali yang terjadi di India sehingga memilih kuliah di luar negeri.

Namun, sisi kelam tersebut justru yang mewarnai sitkom ini. Sisi kelam tersebut juga yang mempererat pertemanan di antara mereka, meski dengan cara yang hanya bisa mereka mengerti.

Sitkom ini pun bikin saya melek sains soalnya dalam setiap episodenya. Ada begitu banyak istilah sains yang menjadi obrolan keempat kutu buku tersebut. Ya gimana nggak jadi bahan obrolan, mereka semua punya gelar PhD dalam bidang sains. Cuma Howard Wolowitz yang ‘hanya’ punya gelar magister doang.

Ada tapinya nih, seperti sitkom Amerika pada umumnya, ada banyak banget adegan yang bisa bikin tersinggung. Contoh saja, tokoh Howard Wolowitz sering mendapat candaan karena dirinya sebagai seorang Umat Yahudi. Lalu, ada Rajesh Koothrapali yang sering menjadi bahan candaan karena dia merupakan orang India yang beragama Hindu. Selain itu, ada berbagai stereotyping dan stigma akan berbagai hal dalam hidup yang sering kali mewarnai sitkom ini. Jadi kalau kamu gampang tersinggung jangan nonton sitkom ini.

Anyway, akhirnya sitkom ini bisa jadi pilihan kita untuk bersenang senang di weekend days.

Baca juga :
Brooklyn Nine Nine Adalah Obat Duka

Content First Sebuah Laku Hidup Nirempati

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini