Waktu Baca: 2 menit

Kita nggak jarang membranding Indonesia sebagai negara demokrasi dan Pancasila. Akan tetapi, branding buat negara kita ini sebenarnya nggak sepenuhnya tepat. Demokrasi yang seharusnya membuka diskusi justru malah nggak bisa sepenuhnya terjadi. Bahkan di lingkungan kecil sekalipun. Mulai, dari keluarga, lingkungan kerja sampai pendidikan. Lalu gimana aja sih aroma feodal di kehidupan kita sehari-hari?

Feodalnya Keluarga dan Pendidikan Indonesia

Pendidikan dan keluarga adalah dua bagian penting dan menurutku serupa tapi tak sama. Keduanya memberikan dampak ke pola hidup kita sehari-hari. Sayangnya, walau mereka adalah dua unsur penting dari perkembangan kita, nggak jarang justru menjerumuskan. Salah satunya karena penggunaan metode yang kurang tepat. Bahkan bisa kita anggap mirip sama pendidikan feodalisme yang udah ada sejak dulu.

Coba kita sedikit flashback ke masa lalu buat yang udah lulus. Kalau kalian masih bersekolah atau duduk di bangku universitas bisa juga kalian bandingkan. Pastinya, kalian juga harus berkaca sama orang tua kalian atau temen kalian. Kecenderungan guru dan pendidik meminta kita berjalan sesuai prosedur dan menghafal masih sangat kerasa. Posisi guru dan orang tua masih sering diistimewakan. Sehingga peran anak atau murid seakan terpinggirkan dan hanya berfungsi untuk menjalankan dan mengingat perintah.

Lingkungan Religius yang Masih Bisa Lebih Demokratis

Kehidupan di Indonesia juga nggak bisa lepas dengan aspek religiusitas. Dari kecil bahkan di dunia sekolah kita selalu berjalan beriringan sama agama. Tapi, tanpa terkecuali, kita masih belum menyikapi agama dengan demokratis. Bukan membahas kebebasan yang menurutku terlalu berat, tapi tentang interaksi kita sama pemuka agama.

Pemuka agama yang (berdasarkan pengalamanku) dianggap suci malah menumbuhkan feodalisme di lingkungan religius. Akhirnya karena kontrol yang lemah akibat mindset kita bisa muncul beberapa oknum di lingkungan religius. Udah gak jarang kita dapati di berita ada oknum yang memanfaatkan hal ini. Kalau mau melihat sejarah ada istilah “penjualan indulgensi”. Kasus yang memecah suatu agama ini terjadi karena mindset feodalisme orang pada masa itu yang mengistimewakan oknum pemuka agama.

Gimana Caranya Memperbaiki?

Karena feodalisme yang udah ga relevan buat dunia ini jelas kita harus ikut ambil andil dalam memperbaiki kondisi. Hal yang paling mudah buat kita lakukan adalah mulai mau menjadi jembatan dalam berdiskusi. Dalam pendidikan kita bisa jadi guru yang menjembatani murid dengan pihak sekolahan, khususnya dalam pengajaran. Begitu pula ketika menjadi orang tua, kita harus bisa jadi jembatan. Sebuah jembatan yang mempertemukan sudut pandang kita dengan anak. Begitu pula kalau kelak kita jadi pemuka agama. Jemaat atau umat yang kita layani harus kita libatkan dalam sebuah diskusi mengenai agama. Saat terjadi diskusi inilah akan mempesempit pandangan yang mengistimewakan satu pihak. Setelah itu maka aroma feodal akan berkurang.

Foto oleh Nuh Rizqi dari Pexels

Baca juga:

Benarkah Indonesia Bangsa Pemalas?

Kebiasaan Unik Orang Jawa yang Perlu Kamu Ketahui!

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini