Waktu Baca: 2 menit

Kita terguncang karena film pemegang rekor piala Citra, ‘Penyalin Cahaya’ mendapat terpaan kasus yang gak enak. Salah satu penulis skenario dari film tersebut, diduga melakukan pelecehan seksual. Yang bersangkutan menjadi pihak terlapor dari sebuah kasus pelecehan seksual. Meski baru menjadi pihak terlapor, sanksi sosial yang bersangkutan terima sungguh di luar posisi hukumnya. Ia kehilangan pekerjaan di Rekata Studio. Tak hanya itu juga, ia mendapat banyak cibiran dari warganet dan bahkan sudah mendapat macam macam hinaan. Bagi saya ini sudah di luar porsinya dan membuktikan bahwa bahaya #metoo movement di Indonesia itu nyata. Bukan berarti kita tidak pro korban kekerasan seksual. Namun, asas keadilan sudah selayaknya berada di depan sebelum hukuman sosial kita jatuhkan.

Masih ingat kasus Denny Sumargo? Yang bersangkutan pernah mendapat tuduhan menghamili seorang wanita dan tak bertanggung jawab. Hampir selama dua tahun Denny Sumargo kesulitan mendapatkan pekerjaan dan mendapat hukuman sosial. Setelah akhirnya tes DNA bisa dilakukan, baru terbukti ia tidak bersalah. Hal hal seperti ini harus kita hindari. Bagi seorang laki laki, mendapat labelling pelaku pelecehan seksual amatlah berat. Lebih berat lagi kalau banyak kaum hawa yang tidak bertanggung jawab seenaknya menuduh laki laki sebagai pelaku pelecehan seksual tanpa bukti dan membuat banyak laki laki mendapat sanksi sosial yang mengerikan.

Masyarakat Harus Melek Hukum

Masyarakat Indonesia sayangnya darurat pengetahuan dasar soal hukum. Terlapor itu masih posisi yang sangat awal dalam peradilan Indonesia. Seseorang yang menjadi terlapor, akan menjadi obyek penyelidikan oleh polisi. Ia akan mendapat panggilan dan diinterograsi dengan beberapa pertanyaan. Polisi selanjutnya harus mengumpulkan dua bukti permulaan bahwa memang ada pelecehan seksual itu. Selanjutnya, setelah polisi benar benar memenuhi berkas, ia memberikan ke jaksa penuntut umum dan barulah tersangka itu menjadi terdakwa.

Jadi, ketika kita berbicara mengenai sosok penulis naskah ‘Penyalin Cahaya’ yang sudah dihukum sosial dalam posisinya sebagai terlapor, bisa saya sebut kita sudah salah kaprah kebangetan. Semua orang bisa membuat laporan. Sayapun bisa membuat laporan dan menuduh seseorang, misalnya, melakukan pelecehan seksual pada saya. Jadi, memberikan sanksi sosial bagi seorang terlapor itu sangat tidak tepat.

Penumpang Gelap #Metoo Movement

Ya, banyak kaum Adam tidak bertanggung jawab, pun juga kaum Hawa banyak yang memanfaatkan gerakan #metoo movement untuk kepentingannya. Bahaya #Metoo movement ini nyata dan sudah selayaknya kita atur agar tak ada orang tak bersalah yang masa depannya hancur karenanya.

Di Hollywood misalnya ada kasus Johny Deep yang terlanjur mendapat fitnah mantan istrinya, Amber Heard. Ia kini kesulitan membangun karir lagi tapi orang dengan entengnya sudah memberi hukuman sosial padanya tanpa bukti. Kini, ketika terbukti ia tidak melakukan kejahatan tersebut, masyarakat dengan entengnya pura pura lupa. Ini sangat mengerikan. Laki laki yang tidak beruntung sama rentannya dengan wanita yang menjadi korban pelecehan seksual.

RUU PKS

Karena itulah, kita membutuhkan RUU PKS. Dengan adanya undang undang yang jelas, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dicapai. Pertama, jelas batasan pelecehan seksual dan mana yang hubungan seksual suka sama suka yang konsekuensinya ya ditanggung bersama. Kemudian, jelas juga bagaimana proses peradilan dan pembuktian dalam suatu kasus pelecehan seksual. Berikutnya, ini yang paling penting, bagi mereka mereka yang seenaknya menggunakan #metoo movement untuk kepentingan pribadinya juga wajib mendapat ganjaran hukum. Fitnah yang bisa merusak masa depan seseorang tak lebih baik dari pembunuhan.

 

Semoga akhirnya kasus di film ‘Penyalin Cahaya’ menemukan titik terang dan kita bisa menonton filmnya tanpa pengaruh apapun.

Baca juga :
Faktor Penyebab Klitih Remaja

Meninggalkan Kebiasaan Penyiksaan Oleh Aparat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini