Waktu Baca: 3 menit

Bisnis Silvio Berlusconi sering dianggap sebuah revolusi. Di saat semua tim nggak terlalu memikirkan segi bisnis dari sepak bola, diamengubah wajah sepak bola buat selama-lamanya. Bisnis Berlusconi sukses mengubah wajah Milan yang saat itu tengah kusam menjadi wajah yang iconic. Di mantan presiden AC Milan ini kita bisa belajar mengenai bisnis yang cerdas. Apa aja itu?

Bikin Produkmu Dekat Dengan Masyarakat

Kecerdasan bisnis Berlusconi yang paling ketara adalah membuat AC Milan jadi produk yang dekat dengan masyarakat. Kedekatan yang dibentuk Berlusconi memanfaatkan publikasi dengan majalah #ForzaMilan dan dibukanya toko marchendise asli klub yang punya fasilitas menarik.

Nah, terus kenapa kok kita harus mendekatkan produk ke masyarakat alias konsumen?

Mendekatkan produk kita ke konsumen ini penting. Bisa menumbuhkan dan merawat kecintaan mereka ke produk kita. Di tengah-tengah bisnis yang lagi menjamur, punya konsumen loyal bikin bisnis kita sustainable.

Mendekatkan produk ke masyarakat juga jadi strategi jitu Xiaomi. Bahkan saking loyalnya fans Xiaomi sampe kaya fans garis keras. Mereka bisa berdebat cuma gara-gara hape. Sisi positif yang lain adalah bisa aja konsumen yang loyal ke produk secara sukarela jadi brand ambassador produk kita. Kaya fans Xiaomi.

Pengeluaran Harus Tepat

Sepak bola nggak bisa berpisah sama pengeluaran. Biasanya duit yang keluar dari kantong klub larinya ke pembelian pemain. Entah itu karena biaya transfernya atau buat biaya gajinya.

Sebelum adanya PSG bergelimang uang, Milan dulu pernah mengalami kasus yang mirip. Tapi berbeda nasib dengan PSG yang belum kemana-mana. Milan yang di awal 80-an justru dapat menyeimbangkan pengeluaran dengan prestasi yang mereka raih.

Bisnis kita juga kaya gitu. Jor-joran bukan berarti bikin bisnis kita maju. Bisa jalan di tempat, atau malah jalan mundur. Pernah saat itu aku ikut bantuin sebuah bisnis perkafean duniawi yang sempat mau jor-joran ngerenov kafenya. Sayangnya setelah renov justru nggak mempengaruhi pembeli. Malah ga jadi untung.

Pengeluaran nggak boleh sembarangan buat bisnis. Sebelum melakukan pengeluaran, pemahaman pasar bener-bener diperluin.

Apa aja yang harus kamu riset sebenernya bervariasi. Contohnya adalah riset pasar buat biaya iklan. Riset buat iklan ini berkaitan sama konsumenmu. Mereka bakalan datang dari kalangan mana, dengan kondisi perekonomian yang seperti apa, menyukai hal yang kaya gimana dan lain-lain bakalan mempermudah kamu nentuin strategi marketingnya.

Buat Produk atau Bisnismu Iconic

Di masanya dulu, Berlusconi membuat icon klub Milan dengan Trio Belandanya. Gullit, Rijkaard sama van Basten. Bahkan, desas desusnya, Inter Milan bikin Trio Jerman mereka karena Milan punya Trio Belanda. Punya produk yang iconic bisa lebih mudahin pemasaranmu. Milan dulu adalah Trio Belanda dan Trio Belanda adalah Milan. Mudah banget buat diinget.

Produk iconic yang sekarang ada di pasaran menurutku adalah Khong Guan. Brand biskuit ini selalu sukses jadi virus di otak kita. Entah secara disengaja atau nggak, Khong Guan iconic sama kaleng krupuk dan bapak yang hilang.

Produk iconic yang lain adalah Marjan. Marjan kaya Milan dan Trio Belanda dulu. Kalo saat itu Milan adalah Trio Belanda dan Trio Belanda adalah Milan nah kasus yang ini jadi Marjan adalah bulan puasa dan bulan puasa adalah Marjan.

Tapi, bukan cuma produknya, jargon bisnis kita sendiri juga bisa kita bikin iconic. Nike menurutku bukan produknya, melainkan slogannya yang iconic yaitu “Just Do it”. Kalau kamu denger “Just Do It” pasti kepikirannya Nike, bukan Adidas atau malah kantor Dukcapil.

Jangan Bergantung Sama Era Lama

Biar adil, kita nggak cuma belajar dari pinternya bisnis Berlusconi tapi juga kesalahannya. Bergantung sama era lama.

Milan sempet remuk redam di awal pertengahan 2010-an. Setelah jadi juara liga di musim 2010/2011 dan jadi runner-up dan juara 3 di musim-musim berikutnya, Milan akhirnya menghilang dari peredaran papan atas. Salah satu yang dicurigai jadi masalahnya adalah Milan udah tergantung sama era lama. Ketergantungan sama era-era lama ini sering terjadi juga di bisnis-bisnis yang udah tua di Indonesia. Aku mau ngasih salah satu contohnya, Koperasi.

Nggak cuma sekali aku liat iklan koperasi masih mengandalkan nama lama. Tanpa mengurangi rasa hormat, nama lama itu Bung Hatta. Wapres pertama sekaligus jadi Bapak Koperasi.

Sayangnya, strategi mengandalkan nama lama ini nggak jitu sama sekali. Malah terkesan kaya kurang menarik. Nggak jarang aku liat koperasi tetap aja sepi. Kalah sama minimarket modern kaya Indomaret dan Alfamart. Salah satu kenapa kalian milih belanja di Indomaret dan Alfamart bukan karena sejarahnya kan? Tapi karena pelayanannya lebih oke mengikuti jaman. Pelayanan bukan melulu orangnya. Tapi juga fasilitasnya. Gagalnya Koperasi ini dikarenakan nggak bisa mengikuti jaman dan nyaman di balik figur Bung Hatta.

Bergantung sama era lama juga berarti bergantung sama SDMnya. Kasusnya adalah sekolahku dulu. SMA swasta ini terlalu terpaku sama nama-nama lama. Entah itu guru atau siswanya. Kondisi kaya gini nggak baik buat segi bisnis sekolahku – eh bentar bisnis? Iya sekolah swasta itu bisnis. Kalau ga profit mau ningkatin fasilitas pake apa? Ternak tuyul?.

Kekalahan dalam regenerasi yang sejalan sama kemampuan adaptasi bikin bisnis kita jadi stuck. Tentunya bisa aja tertinggal daripada yang lain. Regenerasi dan perubahan pola pikir mengikuti kebutuhan zaman bakalan jadi salah satu kunci bisnis kita bisa terus bertahan dan berkembang setiap saat. Bisnis itu kaya teori evolusi. Kalau kita nggak bisa terus beradaptasi sama jaman, susah juga buat terus bertahan hidup.

Baca juga:

Philippe Coutinho ke Aston Villa Dan Sederet Transfer Gak Masuk Akal Lainnya

Junior Messias Dan AC Milan : Dongeng Tentang Karir yang Terjal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini