Waktu Baca: 2 menit

Kita sebagai masyarakat Indonesia memang terkenal tak bisa lepas alias bucin dengan yang namanya minyak goreng. Bagi kita, minyak goreng seperti benda sakral yang wajib hadir di dapur. Rasanya tak lengkap gitu kalau kita masak tanpa menggunakan minyak goreng. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rata-rata konsumsi minyak goreng tingkat rumah tangga di Indonesia meningkat setiap tahun. Data terakhir yang tercatat pada tahun 2020, masyarakat Indonesia mengkonsumsi minyak goreng sawit sebesar 11,58 liter/kapita/tahun, naik dari tahun 2019 yang sebesar 11,3 liter/kapita/tahun. Artinya, masyarakat Indonesia sangat mengandalkan minyak goreng sebagai bahan baku untuk pengolahan makanan sehari-hari, baik dalam skala rumah tangga maupun nasional.

Drama Harga Minyak Goreng Naik

Beberapa minggu lalu, masyarakat geger karena harga minyak goreng yang naik. Perubahan harga ini lantas membuat sebagian besar masyarakat Indonesia panik. Gak main-main, para ibu rumah tangga dengan sigap mendatangi toko kelontong dan swalayan terdekat untuk memasok kebutuhan minyak goreng di rumah. Bahkan, kebijakan beberapa swalayan yang menetapkan pembelian maksimal dua kantong minyak goreng ukuran 1L untuk setiap individu tak mampu menyurutkan semangat para emak-emak ini. Dari cerita yang beredar di media sosial, mereka bahkan membawa serta anggota keluarga yang lain agar bisa membeli lebih dari dua kantong minyak goreng. Alhasil, satu keluarga bisa memborong sebanyak 10 kantong minyak goreng! Wah, wah… Kreatif atau manipulatif, nih?

Bucin Tingkat Dewa

Kalau ngomongin masalah minyak goreng dan masyarakat Indonesia, ada satu kata yang bisa mewakili hubungan berat ini, yaitu: bucin. Udah, deh, gak usah deny lagi kalau kalian sebagai masyarakat Indonesia juga termasuk dalam golongan bucin minyak goreng. Saya pun, honestly, masuk ke dalam grup ini juga. Saya bisa bilang kalau masyarakat sangat bergantung dengan minyak goreng untuk urusan dapur alias masak-memasak. Tahu sendiri, kan, kalau abang penjual gorengan di pinggir jalan pasti laris manis diserbu warga sekitar. Godaan makan gorengan itu nyata adanya dan kita gak bisa lepas dalam waktu sekejap.

Apa, Sih, Penyebabnya?

Kira-kira kenapa, ya, masyarakat Indonesia bucin banget sama minyak goreng? Well, kalau teori saya sih karena menggoreng itu lebih praktis dan cepat daripada teknik memasak lainnya. Coba, deh, kalian bandingkan waktu memasak teknik menggoreng dengan teknik mengkukus atau merebus, pasti lebih cepat dengan teknik menggoreng. Selain itu, jenis masakan dengan teknik menggoreng lebih banyak dan variatif. Sensasi makanan yang renyah juga sangat addicting di mulut kita. Jadi, itulah kenapa kita sulit banget buat mengurangi jumlah konsumsi minyak goreng.

Ingat Kesehatan, Ya!

Gak ada yang salah, sih, dengan makan gorengan. Apalagi mendoan hangat, hm… siapa juga yang mampu menghindar dari godaan yang satu ini? Tapi, bagian kalian pecinta gorengan, kalian wajib memantau jumlah konsumsi makanan gorengan harian, ya! Kita semua tahu dan sadar kalau makan gorengan terus-menerus dan berlebihan juga gak baik untuk kesehatan. Ancaman penyakit obesitas, penyakit hati, stroke, dan diabetes akan terus menghantui kalian yang sering lepas makan gorengan tanpa rem. Makanan gorengan juga rentan menimbulkan tumbuhnya jerawat, lho. Hm, gak mau kan kumpulan jerawat menyerang wajah kalian hanya karena makan gorengan non-stop? So, makan gorengan seperlunya aja, ya, gengs!

Minyak goreng dan masyarakat Indonesia memang punya hubungan spesial. Kalau kata pepatah modern: cinta itu membutakan. Kisah cinta masyarakat negeri kita dengan minyak goreng memang bisa bikin kalap sampai muncul drama yang gak perlu. Kalau disuruh beralih ke yang lain, susah. Apalagi dipaksa putus, dramanya bakal ngalahin jumlah episode sinetron di TV lokal alias gak mungkin banget! Jadi, harus gimana, dong?

Baca juga:

Ngerti Ini Dijamin Kamu Keranjingan Makanan Sehat!

Filosofi Gorengan di Bulan Ramadan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini