Waktu Baca: 4 menit

Film yang lagi marak diperbincangkan, Penyaling Cahaya atau Photocopier, benar-benar menuai banyak komentar netizen. Film ini mendapat penghargaan bergengsi Festival Film Indonesia (FFI) 2021 dengan 12 piala citra dari 17 nominasi yang diterima. Seperti yang kita tahu, film ini mengangkat isu besar di masyarakat mengenai pelecehan seksual. Namun sayang, Penyalin Cahaya juga datang dengan kontroversi di mana salah satu penulis naskah bernama Henricus Pria menjadi dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual.

Meski datang dengan penghargaan dan kontroversi, banyak yang menunggu tanggal launching film ini di Netflix. Beberapa orang mengungkapkan reaksi mereka selama proses penantian. Ada yang merasa kecewa, ragu untuk nonton, sampai penasaran.

Review Singkat (Spoiler Alert!)

Saya sendiri tertarik mengenai isu pelecehan seksual dan cukup penasaran dengan film yang satu ini. Dan saya tetap memutuskan untuk menontonnya di hari pertama film ini launching. Sepanjang film, mata saya benar-benar tersuguhi warna temaram layaknya film horor. Lokasi juga menggambarkan kehidupan sehari-hari. Mulai dari suasana kampus yang natural dan tak terkesan kaku; rumah Suryani (tokoh utama) yang menyatu dengan warung makan; dan suasana rumah teater yang mempresentasikan rumah Jawa yang penuh filosofi dan seni.

Selama menonton, saya menjadi penasaran dengan alur film tersebut. Jika kalian sudah menonton, pasti tahu gimana proses Sur dalam menyelidiki siapa pelaku yang telah menyebarkan foto selfie-nya yang tengah mabok dan membuatnya kehilangan beasiswa. Tak hanya itu, Sur juga merasa ada yang tak beres selepas perayaan kemenangan komunitas teater. Di sini Sur mengajak penonton untuk turut serta menggali bukti-bukti.

Ngomongin soal kualitas, semua pemain di film Penyalin Cahaya berakting dengan sangat epik. Setiap pemain memiliki karakter yang sangat kuat. Namun, yang menarik bagi saya adalah tokoh Amin. Di film ini, Amin adalah sahabat Sur sedari kecil. Ia bekerja di sebuah tempat fotokopi di lingkungan kampus Sur. Dari situ, Amin secara tak langsung juga mengenal teman-teman kuliah dan teater Sur.

Trus, apa dong yang menarik dari tokoh Amin?

Amin, si tukang fotokopi dengan mesin kesayangannya yang bernama Amelia, ternyata menjadi tokoh penting, lho! Dia terlihat sangat enjoy dalam menjalani profesi sebagai tukang fotokopi dengan pembawaan yang kalem dan tak seperti pembuat onar. Eh, ternyata Amin juga menyimpan sisi gelap. Ia gak cuma seorang tukang fotokopi biasa. Diam-diam, nih, Amin juga bertransaksi gelap dengan menjual skripsi-skripsi mahasiswa yang menjadi langganannya. Dan yang lebih parah lagi, Amin adalah seorang bystander!

Bystander Effect, Apa Itu?

Siapa sangka jika Amin yang kita lihat sebagai sahabat Sur dari kecil dan mungkin menjadi satu-satunya orang yang Sur percayai ternyata seorang bystander? Tapi, apa sih bystander itu?

Istilah Bystander Effect mulai terkenal berkat seorang psikolog sosial Bibb Latane dan John Darley. Saat itu, banyak yang sedang mengembangkan konsep kasus pembunuhan Chaterine “Kitty” Genovese 1964 di New York City. Bystander adalah sebuah sebutan untuk seseorang yang hanya melihat dan diam saat sebuah kejadian darurat atau sedang membutuhkan bantuan terjadi. Bystander akan berpikir akan ada orang lain yang menolong si korban. Ini juga bisa disebut sikap apatis pengamat.

Lebih parahnya, dalam film Penyalin Cahaya tokoh Amin seakan berpihak pada korban (Sur). Ia juga sebenarnya menyimpan barang bukti yang akan sangat membantu Sur dalam penyelidikan. Hal ini sangat ironis karena bystander secara tak langsung menormalisasi kasus kriminal, dalam konteks ini adalah rape culture.

Fenomena bystander sebenarnya umum di kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Lalu, apa yang menjadi faktor Bystander Effect?

Memilih Bungkam

Dalam beberapa kasus-kasus darurat, tanggung jawab memang sangat perlu. Terlebih dalam kasus pelecehan seksual, hal ini sangat tricky karena efek domino yang rentan terjadi. Maka dari itu, sebagian besar masyarakat masih banyak yang memilih bungkam karena takut akan tanggung jawab yang mengikuti, baik secara keluarga atau hukum. Jadi, faktor tanggung jawab inilah yang menyebabkan seseorang bungkam dan bisa menjadi bystander.

Rasa Khawatir Berlebih

Siapa yang gak khawatir jika terlibat dalam kasus-kasus berat? Orang-orang pasti akan lebih memilih tak ikut campur daripada terseret-seret masalah yang bisa menyulitkan hidupnya. Dengan kata lain, mereka punya rasa khawatir jika nanti mereka bisa menjadi tersangka dalam sebuah kasus.

Ambiguitas

Biasanya, bystander akan berpikir bahwa korban tidak memerlukan bantuan. Ia juga merasa ragu tentang bagaimana menolong si korban. Alhasil, bystander memilih untuk tak menolong lantaran merasa ragu-ragu.

Kadar Bahaya Situasi

Kita tak pernah tahu seberapa bahaya kasus atau situasi yang terjadi. Bisa jadi sedang, rumit, dan sangat berisiko. Bystander akan merasa takut jika terlibat dalam situasi yang ia tak tahu kadar bahaya situasi yang tengah terjadi. Ia lebih memilih untuk diam atau pura-pura tak tahu.

Well, kita gak pernah tahu siapa bystander di sekitar kita, tapi kita bisa mencegah Bystander Effect ini. Gimana caranya?

Menyadari Kecenderungan Keadaan Darurat

Dengan menyadari adanya kecenderungan keadaan yang membutuhkan pertolongan, kita bisa mengambil langkah untuk menolong dengan penuh kesadaran. Alhasil kita juga bisa mengantisipasi diri sendiri agar tidak di posisi bahaya ketika menolong. Misal, kamu bisa menghubungi nomor-nomor darurat yang nantinya lebih berkompeten dalam membantu.

Jangan Jadi Penghambat

Ketika sedang di situasi darurat, seperti kecelakaan, usahakan untuk tak hanya berdiam menonton. Kebiasaan ini malah bisa menghambat bantuan yang akan masuk dan memperkeruh suasana. Terutama dalam kasus pelecehan seksual, jika mengetahui kebeneran, ayo bantu mengungkapkan! Berdiam diri takkan membantu korban dalam menyelesaikan kasusnya, lho.

Tumbuhkan Rasa Empati dan Simpati

Memang orang-orang punya kesibukan dan masalah sendiri, namun kita tak bisa jadikan ini sebagai tameng untuk buta dengan keadaan sekitar. Kita gak harus memaksakan diri untuk menolong setiap detik dan setiap orang. Tapi, kita perlu memiliki rasa empati dan simpati ke keadaan dan orang-orang sekitar. Kegiatan menolong bisa bersifat domino yang akan berdampak baik bagi diri kita dan orang lain. Jadi, jangan terlalu apatis, ya!

Dari tulisan ini, kita bisa simpulkan bahwa Bystander Effect pada dasarnya bergantung pada individu. Untuk kasus film Penyalin Cahaya, si bystander kan Amin, nah kalau di sekitar kita siapa, nih? Who knows?

Baca juga:

Film Penyalin Cahaya dan Kata Sang Sutradara

Jenis Kekerasan Seksual yang Ada di Sekitar Kita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini