Waktu Baca: 3 menit

Mungkin menonton No Way Home jauh lebih seru. Film ini menjadi semacam titik kulminasi dari semua harapan kita akan sebuah film Spiderman yang menyatukan banyak pihak. Tapi kalau boleh jujur, film ini memiliki alur cerita yang cukup bodoh untuk hanya semacam menjadi tanda perpisahan baik baik dari Sony dan Marvel. Seberapapun mereka coba mengatakan bahwa fans adalah hal yang berharga buat mereka, ujung ujungnya mereka lebih mengutamakan ‘amannya’ mereka masing masing. Ending No Way Home adalah bukti ketamakan mereka. Sementara itu Don’t Look Up adalah film yang diam diam hadir di tengah gegap gempita No Way Home. Film ini memang dibintangi aktor sekelas Leonardo Di Caprio, namun film ini hadir dengan rendah hati di tengah kepungan film produk kapitalisme macam The Matrix : Ressurection dan King’s Man. Hasilnya, Don’t Look Up  membelah kritikus. Ada yang menyukai dan ada yang membencinya. Namun, dapat saya pastikan film ini akan menjadi classic, setidaknya itu terlihat dari reaksi penonton.

Komet Yang Menghancurkan Bumi

Film ini memang mengambil premis saat sebuah komet akan jatuh ke bumi. Namun, alih alih berfokus pada usaha heroik untuk menghentikan komet ini, film ini menyoroti bagaimana masyarakat dewasa ini menanggapi hal itu. Don’t Look Up seolah memotret langsung bagaimana duit dan politik bekerja bersama selingkuhannya: media sosial.

Bahaya di Don’t Look Up adalah bahaya yang nyata, bahkan sudah di peer-reviewed alias mengalami pembuktian berkali kali. Namun, atas nama politik dan uang, bahaya ini terabaikan begitu saja. Hal ini jugalah yang terjadi saat wabah korona terjadi. Banyak negara telat menutup perbatasan dan melakukan tindakan preventif karena menghitung hitung dampak politik dan ekonomi kepada Tiongkok selaku pusat epidemik. Hasilnya? Kini virus korona telah rata menyebar ke seluruh dunia dan mengalami berbagai mutasi hingga ke level Omicron.

Dalam film tersebut, kita melihat presiden Orleans sebagai parodi. Namun, untuk ukuran parodi, jujur saja Presiden Orleans terlalu nyata! Ya, parodi kan maksudnya melebih lebihkan, lha kalau terlalu sesuai kenyataan, apa masih bisa kita sebut sebagai parodi? Ini juga yang terjadi saat wabah korona bermula. Dengan santainya pemimpin dunia menafikkan korona. Bahkan di Indonesia ada menteri yang membuat kalung anti korona dan bahkan menyarankan kita makan nasi padang. Konyol kan? Padahal kita ada di tengah tengah masalah. Toh, nyatanya banyak pemimpin yang seperti itu. Jadi Presiden Orleans tak serta merta merupakan parodi. It’s real!

Uang dan Cara Pikir Pendek

Dalam film tersebut, ada tokoh CEO Bash, Peter Isherwell yang egoistik dan kapitalis sekali. Ia membatalkan misi penghancuran komet yang sebenarnya sudah 80 persen berhasil hanya karena pikiran visionernya mengatakan bahwa komet itu bisa menjadi tambang emas baginya. Bagi saya, tokoh Isherwell ini teguran bagi kita semua. Budaya mengkultuskan orang sangat kuat dewasa ini. Yang terburuk adalah mengkultuskan diri sendiri. Inilah yang terjadi pada Isherwell. Ia merasa sangat kaya, sangat pintar dan sangat mulia. Yang sangat..sangat ini justru berbahaya karena bahkan ia tak mau membaca data data yang sebenarnya cukup valid untuk mengingatkan dia akan kegagalan misinya. Namun, inilah kenyataan hari ini. Banyak CEO atau pengusaha yang merasa hidupnya lebih besar dari kenyataan.

Buruknya, orang orang macam ini justru kita idolakan dan elu elukan. Ya jujur mereka kharismatik. Mereka juga tahu cara mengelola media sosial dengan baik dan tentunya, mereka kaya. Ya, kekayaan membuat kita buta akan aspek orang lainnya sebagai manusa. Saya sendiri merasa kecukupan finansial itu penting. Tapi memuja muja orang karena dia kaya? Ayolah!

Pada akhirnya itu jugalah yang terjadi hari ini, kepentingan jangka panjang untuk menyelamatkan bumi terlupakan begitu saja demi uang. Don’t Look Up rasa rasanya tak lagi berkomedi soal ini. Ya, seharusnya ini menjadi komedi. Namun jatuhnya ini menjadi kenyataan dan kita sampai gak tega untuk tertawa.

Akhir Kata

Apalagi yang mau dikatakan selain menonton Don’t Look Up adalah sebuah pengingat kejam betapa sintingnya dunia akhir akhir ini? Don’t Look Up memang bukanlah film blockbuster yang akan membuat kita keluar dari ruang theater dengan bahagia. Sebaliknya film ini membuat kita cemas dan tersadar betapa buruknya dunia berjalan dewasa ini. Memang tidak nyaman namun seenggaknya kita harus menyadari bahwa perjuangan belum selesai dan mungkin revolusi berikutnya hanya menunggu waktu untuk memperpanjang napas bumi.

Baca juga :
The Whole Truth Adalah Cermin Keluarga Asia

Review A Gift For Someone You Hate

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini