Waktu Baca: 2 menit

Belum lama ini, aksi klithih kembali muncul di Yogyakarta. Kriminalitas yang dilakukan klithih tersebut sangat meresahkan warga hingga bermunculan hashtag seperti #SriSultanYogyaDaruratKlithih. Kalau kita pikir pikir, klitih kan kegiatan gak jelas. Tapi kenapa ada aja remaja yang menjadi pelaku klitih? Apa Faktor penyebab klitih remaja?

Untuk menjawabnya, saya meminta bantuan dari Y.B. Cahya Widiyanto, Peneliti Psikologi Sosial dari Universitas Sanata Dharma.

Krisis Identitas.

 “Siapa sih aku?” “Apa yang bakal aku lakuin dalam hidupku?”

Pernah nggak sih muncul pertanyaan-pertanyaan seperti di atas dalam dalam benak kalian? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggambarkan seseorang yang sedang mencari identitas atau potret diri. Pencarian identitas tersebut cenderung lebih terlihat pada masa remaja. Karena apa? Perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dialami anak remaja akan membuat mereka mempertanyaakan siapakah dirinya. Kebingungan remaja dalam mencari identitas akan menimbulkan krisis identitas.

Menurut Erikson, krisis identitas merupakan fase untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan penting yang berhubungan dengan pertanyaan mengenai identitas diri. Remaja yang memiliki masalah dalam mengendalikan emosi, tidak bisa menempatkan diri dengan teman sebayanya, serta remaja yang tidak memiliki lingkungan ataupun figur yang baik dalam mencapai identitas, akan mengalami krisis identitas.

Nah, krisis identitas tersebut bisa menyebabkan remaja berperilaku destruktif, seperti nglithih. Tanpa adanya tujuan yang jelas, mereka akan mencari identitas diri dan mencari pengakuan melalui tindakan nglithih tersebut.

Ketidakjelasan nilai sosial

Terkadang di kehidupan ini, nilai sosial yang ada dalam masyarakat tidaklah jelas. Seperti misal, bagaimanakah seseorang dapat dianggap baik? seperti apakah seseorang bisa dikatakan cantik? Bagaimanakah agar seseorang dapat dihargai?

Sistem toleransi dan respect yang tidak jelas dalam masyarakat akan menjadi penggerak tindakan kriminal di kalangan para pelaku. Terlebih pada remaja yang cenderung masih mencari identitas dan berhadapan dengan nilai-nilai sosial yang tidak jelas, mereka akan mudah termotivasi untuk melakukan tindakan-tindakan kriminal.

Pengaruh budaya vandalism

Budaya vandalism merupakan perusakan yang kejam dan penistaan terhadap segalanya yang indah dan terpuji. Budaya tersebut meliputi perusakan kriminal, pencacatan, grafiti, dan hal-hal lainnya yang mengganggu.

Pada era modern ini, semua orang, termasuk remaja akan mudah belajar dan mendapatkan informasi dari media elektronik, seperti gawai. Dengan tidak tersaringnya informasi, remaja akan mendapatkan informasi seperti budaya vandalism yang nantinya akan memengaruhi lingkungan pergaulan sosial remaja. Biasanya nih, remaja akan memulai dari hal yang paling mudah dilakukan seperti mencoret-coret tembok dijalanan, dan akan terus berlanjut hingga tindakan nglithih.

Penegakan hukum yang lemah

Berbeda dengan negara jepang loh gengs, memang betul, negara kita ini belum memiliki sistem hukum yang tegas. Bentuk hukuman serta penghargaan belum lah jelas dan tegas. Banyak kasus-kasus seperti kekerasan terjadi akibat lemahnya hukum di Indonesia. Dengan lemahnya sistem hukum tersebut, akan memberikan celah-celah juga pada remaja untuk melakukan aksi nglithih.  Remaja tidak akan merasa takut ataupun kapok dengan penegakan hukum yang lemah. Selain itu, banyaknya dispensasi serta langkah antisipasi yang reaktif akan semakin memotivasi remaja untuk melakukan aksi klitih.

Adanya eksploitasi dari pihak tertentu

Ada yang memancing di air yang keruh.

Perlu juga kalian ketahui, tak selalu remaja melakukan klithih karena kemauan nya sendiri. Terkadang memang ada eksploitasi dari pihak tertentu yang ingin membuat situasi sosial menjadi kurang kondusif.

Nah, memang masa remaja ini adalah masa transisi yang sedang senang-senangnya mencoba hal baru. Diperlukan pengawasan orangtua serta lingkungan yang baik agar remaja tidak melakukan tindakan kriminal seperti nglithih.

Baca juga :
Mencicipi Pelajaran Kehidupan di Angkringan

Jadilah Guru Yang Realistis

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini